AIR SEBAGAI SUMBER KEHIDUPAN

Oleh: Muhammad Muhibbuddin*

 

Negara-negara di dunia, khususnya Indonesia, kini tengah menghadapi krisi air yang akut. Seperti yang menimpa warga Cicurug dan Cidahu, kabupaten Sukabumi Jawa Barat, kini kesulitan air. Puluhan perusahaan air minum menyedot air dari daerah yang dikelilingi tiga gunung ini, mencipta sumur-sumur dan sawah-sawah kering (Kompas, 12/9/2008)

Jauh sebelumnya, sejak pertengahan Maret 2000 yang lalu, para pembuat kebijakan, pengusaha dan aktivis air telah berkumpul di Den Haag, Belanda melahirkan kesepakatan mengenai bahaya krisis yang paling penting di bumi ini, yaitu air. Forum yang dihadiri sekitar 3000 wakil dari berbagai sektor tersebut telah mengadakan ratusan lokakarya dan perundingan mengenai keberadaan dan pembagian air untuk memenuhi kebutuhan penghuni planet bumi ini.

Poin terpenting dalam pertemuan tersebut adalah hasil research panjang yang dilakukan oleh kelompok pemikir, Komisi Air Dunia Abad ke-21. Komisi ini mengingatkan bahwa sekitar satu miliar penduduk dunia tidak memiliki akses pada air dan dua miliar jiwa lainnya sistem sanitasinya buruk. Padahal, populasi di bumi akan terus meningkat dari enam miliar menjadi delapan miliar jiwa pada tahun 2025. Dan kebutuhan air di kota-kota besar dan industri juga akan menambah permintaannya. Fakta itu sebenarnya lebih mencerminkan skandal ketidakdilan dalam distribusi air. Air adalah sumber kehidupan. Ia merupakan bagian integral dan fundamental dari kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.

Para filsof madzhab kosmologis, ketika masih sibuk merenung untuk mencari prinsip atau asas alam semesta (arkhe), bahkan menyebut air sebagai dasar utama kehidupan. Ini tercermin dari pernyataan-pernyataan mereka. Thales misalnya menyebut bahwa semuanya berasal dari air dan akan kembali lagi menjadi air. Kemudian Anaximandros menyatakan bahwa seluruh mahluk hidup (termasuk juga manusia) berasal dari air. Begitu juga Empedokles yang mengajarkan bahwa realitas seluruhnya tersusun dari empat anasir, yaitu api, udara, tanah dan air. Pikiran-pikiran filsofis lain yang berkaitan dengan keutamaan air tentu masih banyak

Namun makna yang harus dipetik dari itu semua adalah kebutuhan mahluk hidup terhadap air merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar. Sebab, sebagaimana udara ia merupakan sumber kehidupan seluruh mahluk hidup yang ada di muka bumi. Apapun jenisnya mahluk hidup tidak mungkin bisa lepas dari air. Merampas air sama halnya membunuh kehidupan.

 

Hilangnya nilai sosial air

 

Karena air merupakn sumber kehidupan manusia sebagaimana udara, maka logikanya air itu harus bebas diakses dan digunakan oleh seluruh manusia secara gratis. Bebas di sini tidak sekedar bebas tetapi bebas yang berkeadilan. Artinya siapapun orangnya berhak menggunakan air tanpa harus beli. Dengan kata lain, air tidak boleh dimiliki atau dikuasai oleh satu orang, tetapi harus menjadi milik setiap orang.

Sekarang ini persoalannya adalah air sudah dikapitalisasikan, sudah diprivatisasikan, sudah dikomersialkan, sudah menjadi obyek kekuasaan oleh satu pihak yakni pihak kaum pemodal. hal ini ditandai oleh maraknya penguasaan sumber-sumber air oleh perusahaan-perusahaan air di dunia. Jatuhnya sumber-sumber air ke tangan perusahaan air ini membuat air menjadi komoditas ekonomi untuk mengeruk keuntungan sepihak.

Masalah program kapitalisasi air ini, pakar lingkungan, Dr Mulyanto, dalam surat elektroniknya pernah menyatakan masalah pengelolaan air ternyata sudah menjadi target perusahaan besar pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Johanesburg, Afrika Selatan. .Bank Dunia, lanjut Mulyanto, berada di belakang operasi penguasaan air tersebut. Informasi tersebut jelas agak mengagetkan karena pada KTT Bumi di Rio de Janeiro 1992, air malah menjadi sesuatu unsur di bumi ini yang mendapat perhatian sebaliknya.

Akibat kaiptalisasi ini, nilai sosial air, yang merupakan nilai sejati di dalam dirinya, telah tergerus oleh nilai ekonomi Orang-orang miskin, para petani dan dan masyarakat kecil lainnya hak-haknya untuk mendapatkan air banyak yang terampas. Untuk mendapatkan air sebagai penyambung nyawa mereka dipaksa untuk membeli kepada para cukong-cukong kapitalisme tersebut. Jelas kapitalisasi atau privatisasi air yang menjadikan nilai sosial air sirna tersebut adalah kejahatan besar terhadap kehidupan manusia. Secara eksplisit, para agen kapitalis itu hendak menghilangkan separuh nyawa manusia di muka bumi.

Era pasar bebas (free market) memang sarat dengan ketidakadilan. Selain ketidakadilan ekonomi masyarakat, juga ketidakadilan dalam hal memperlakukan alam sekitar. Program pembangunan yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga kreditor seperti IMF, sama sekali tidak memasukkan agenda penyelamatan lingkungan hidup di dalamnya. Bahkan seperti kata Carol Welch (2000) bahwa lingkungan hidup justru menjadi salah satu korban dari IMF. Dalam memaksakan liberalisasi dan deregulasi yang cepat di seluruh dunia, pinjaman IMF dan paket penyelamatannya memuluskan eksploitasi sumber daya alam secara luar biasa.

Dengan penguasaan tanpa batas oleh kaum kapitalis neoleiberal terhadap sumber daya alam, khususnya terhadap sumber mata air tersebut, kini menimbulkan dampak negatif yang luar biasa terhadap aktifitas mahluk hidup. Seperti sekarang ini, petani-petani di seluruh daerah terancam kekeringan. Jadi, di saat kebutuhan air meningkat tajam oleh bertambahnya penduduk, sementara ketersediaan air menipis, kini siklus hidrologi yang berjalan secara natural bukannya dipertahankan, tetapi justru dirusak oleh kerakusan sistem kapitalis.

 

Mengembalikan air pada fitrahnya

 

Untuk mengatasi krisis air yang banyak memicul gejolak sosial tersebut, maka satu-satunya cara adalah mengembalikan air itu pada fungsi alamiahnya (fitrah) lagi. Pengembalian fitrah air itu dilakukan melalui pengembalian dan penguatan nilai sosial air. artinya, dalam konteks geopolitik, air harus dikuasasi oleh negara dan disitribusikan secara adil untuk kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, pemerintah dilarang keras membuka pintu untuk privatisasi air. peluang kapitalisasi dan privatisasi air yang selama ini terbuka harus segera ditutup kembali. Hal ini dimaksudkan supaya air yang semakin menipis ini bisa diakses oleh segenap manusia dan seluruh mahluk hidup sesuai dengan tingkat kebutuhannya.

Sebagai mahluk yang dianugerahi akal, kita , sebagai manusia harus sadar dan berpikir mendalam bahwa apa yang diberikan oleh alam hendaknya kita jaga dan kita gunakan sebaik-baiknya, seadil-adilnya untuk kesejahteraan bersama. Anugerah alam itu akan membawa kebahagaiaan dan kemaslahatan kepada kehidupan kita manakala kita sebagai pihak pengguna mampu mengendalikan libido dan kerakusan kita. Begitu juga dengan air. Air yang berada dalam kandungan perut bumi ini akan tetap mampu memenuhi seluruh kebutuhan manusia sejagad, jika ia kita gunakan secara wajar dan adil, tanpa ada unsur kerakusan dan nafsu menang sendiri di dalamnya.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator komunitas studi filsafat “Sophos alaikum” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: