Catatan Hari Nuzulul Qur’an, 17 Ramadhan

AL-QUR’AN DAN SPIRIT MEMBACA

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

Malam tujuh belas Ramadhan adalah malam yang diyakini oleh umat Islam sebagai momen turunnya al-Qur’an. Kata al-Qur’an sendiri tidak lain adalah derivasi dari kata Arab Qoroa yang mempunyai arti membaca. Menariknya di sini adalah secara smiotik-verbal kitab suci ini menjadikan kata membaca sebagai sebutan namanya. Yang lebih menarik lagi, secara historis ayat yang pertama kali turun ternyata bukan surat al-Fatihah seperti yang sudah tersusun dalam mushaf selama ini, melainkan ayat Iqro’ yang mengandung perintah membaca.

Artinya, dengan fakta historis tersebut bisa diketahui bahwa perintah atau ajaran pertama kitab ini yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW bukan perintah sholat, puasa, haji dan sebagainya tetapi membaca. Jadi meskipun misi yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW adalah misi tauhid atau agama, tetapi yang diserukan oleh Allah pertama kali kepada Muhammad SAW bukan berimanlah, bersholatlah, berpuasalah, berjuanglah, beragamalah, berpolitiklah, berdakwalah atau bekerjalah, melainkan bacalah.

Dari sederetan tanda (sign) dan smiotik al-Qur’an di atas, baik dari dimensi literal maupun historisnya mengandung makna bahwa spirit membaca merupakan hal yang paling utama dan merupakan fundamen dasar kehidupan, termasuk kehidupan beragama. Kalau Marx mengatakan bahwa dasar kehidupan adalah ekonomi, materi (“kerja”),  maka secara implisit, al-Qur’an menyatakan bahwa dasar kehidupan adalah membaca.

Sebab, pada faktanya, segala sesuatu dimulai dari membaca. Manusia tidak mungkin membangun agama, membangun negara, membangun masyarakat, membangun peradaban dan seterusnya tanpa terlebih dahulu membaca. Karena  manusia bisa mengenal negara, mengenal budaya, mengenal sejarah, mengenal kehidupan bahkan mengenal Tuhan sekalipun pintu masuknya adalah lewat aktifitas membaca. Dalam konteks teologi sendiri, keimanan yang baik dan benar, tidak dikonstruk dari rasa percaya dan fanatisme, tetapi harus dibangun dari tradisi semangat membaca yang kritis.

 Karena dengan membaca itu seseorang bisa meningktkan ilmu pengetahuan, menambah informasi, ide, gagasan dan keluasan cakrawala yang bisa membawa dia bisa menyingkap lapis demi lapis realitas kehidupan. Tentu saja, membaca dalam konteks ini bukan sekedar membaca teks melainkan juga membaca konteks. Dalam perspektif al-Qur’an, di samping membaca ayat-ayat qouliyah, juga membaca ayat-ayat kauniyyah. Selain dari itu membaca dalam konteks Qur’ani ini juga bukan sekedar membaca, tetapi membaca yang disertai dengan perenungan, nalar kritis dan sikap inovatif. Sehingga nantinya seseorang bisa menemukan sintesa pengetahuan baru dan tidak sekedar membebek apa yang dibacanya.

 

Rendahnya tradisi membaca di Indonesia

Seruan universal al-Qur’an, yang berupa tradisi membaca tersebut, dalam konteks Indonesia masih tergolong rendah. Masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Islam, belum mempunyai tradisi membaca yang kuat. Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 pernah mengekpos tingkat budaya baca bangsa Indonesia, ternyata sangat rendah. Menurut data tersebut penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada minggu hanya 55,11 persen. Sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22 persen, buku cerita 16,72 persen, buku pelajaran sekolah 44.28 %, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07 persen.

Melihat kenyataan ini benar apa yang dikatakan oleh penyair Taufiq Ismail, saat diskusi sastra di Rumah Dunia (17/11/07) bahwa bangsa kita rabun membaca dan pincang menulis. Hal ini beliau tegaskan setelah melakukan penelitian sederhana kepada Siswa SMU di 13 negara. Jika siswa SMU di Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku sastra selama tiga tahun, di Jepang dan Swiss 15 buku, siswa SMU di negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam menamatkan membaca 5-7 judul buku sastra, siswa SMU di Indonesia-setelah era AMS Hindia Belanda-adalah nol buku. Padahal, pada era Algemeene Middelbare School (AMS) Hindia Belanda, selama belajar di sana siswa diwajibkan membaca 15-25 judul buku sastra

Bahkan yang lebih memprihatinkan, jangankan mempunyai tradisi membaca yang baik, masyarakat kita saja sampai sekarang masih dikungkung oleh buta aksara. Seperti data Education for All (EFA) Global Monitoring Report tahun 2005, Indonesia adalah negara ke-8 dengan populasi buta huruf terbesar di dunia, yakni sekitar 18,4 juta orang. Bagi komunitas tersebut, saat ini Indonesia sudah mendapat kartu merah di bidang lite. Melihat kenyataan yang menyedihkan ini kita menjadi tahu bahwa sangat wajar kalau Indonesia sampai sekarang masih tertinggal jauh dengan bangsa-bangsa lain. Karena tradisi membaca, yang merupakan ujung tombak kemajuan bangsa kurang mengakar kuat di dalam kehidupan kita. Kita masih suka membudayakan nonton sinetron dan mendengarkan ceramah daripada membaca buku bermutu dan merenung.

 

Perlunya kesadaran membaca

Indonesia masih akan terus menjadi negara terbelakang kalau etos dan budaya membaca masyarakatnya masih rendah seperti sekarang ini. Untuk itu momen dan spirit nuzulul Qur’an ini harus kita jadikan sebagai titik tolak untuk meningkatkan budaya membaca. Spirit membaca yang menjadi inti ajaran al-Qur’an saatnya kita transformasikan ke dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat.

Hal ini terutama bagi umat Islam Indonesia. Sebab dengan melihat sejarah turunnya wahyu tergembar jelas bahwa budaya membaca ini sudah diperintahkan sejak pertama kali Islam lahir. Ini artinya bahwa budaya Islam pada hakekatnya bukan sekedar budaya ingatan atau mendengarkan, tetapi lebih dari itu adalah budaya baca dan tulis. Franz Rosenthal, seorang orientalis terkemuka, dalam buku Etika Kesarjanaan Muslim, Dari Al-Farabi hingga Ibn Khaldun (1996), manyatakan peradaban Islam adalah peradaban tulis. Penerjemahan besar-besaran dari karya-karya, terutama, berbahasa Yunani serta perpustakaan-perpustakaan menyangga peradaban Islam.

Sampai sekarang ini kita sudah sering larut dalam impian-impian besar. Kita seringkali bermimpi menjadi bangsa yang maju, beradab, bermartabat, mempunyai peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi, makmur dan sejahtera. Namun anehnya, kita sendiri justru masih asing dan awam dengan budaya baca yang merupakan pintu dan kunci sukses (key of succes) untuk menjemput impian itu.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator komunitas studi filsafat “Sophos alaikum” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: