LAILATUL QODAR: SEBUAH TITIK TOLAK PERUBAHAN

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

 

Ramadhan dipandang umat Islam sebagai bulan yang penuh rahmat dan barokah. Di bulan inilah tersimpan misteri malam yang termaktub dalam al-Qur’an di sebut sebagai malam yang tingkat kebaikannya melebihi seribu bulan (QS 44:3). Malam inilah yang dipopuler dikenal dengan lailatul qadar. Setiap orang muslim yang beriman pasti banyak yang mengharapkan untuk bisa bertemu dengan malam yang istimewa tersebut. Kapan tibanya malam ini? Apakah ia berada dalam pengalaman manusia (fenomena) ataukah di luar pengalaman manusia (noumena)—meminjam istilahnya Kant. Yang pasti semuanya masih dalam kondisi misterius, tak ada manusia pun yang bisa memberikan jawaban pasti..

Namun sebagai sebuah ikhtiar, dengan segala keterbatasannya, banyak ulama dan umat Islam yang mencoba mengira-ngira, menebak-nebak melalui tanda-tanda fisik yang diyakini itu sebagai datangnya malam tersebut. Jumhur ulama mengatakan bahwa datangnya lalilatul Qadar, dalam rengkuhan ruang dan waktu, biasanya jatuh setelah tanggal 20 Ramadhan ke atas, utamanya di malam-malam yang ganjil. Namun meskipun ini sudah menjadi maenstream umat Islam, bukan berarti perkiraan ini benar seratus persen. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ia jatuh di hari-hari sebelum tanggal 20 bahkan ada yang berpendapat bahwa peristiwa ini hanya terjadi di era nabi Muhammad SAW.

 

Momentum perubahan

 

Membecirakan lailatul qadar dalam diskurusus metafisika an sich justru menjebak kita pada perdebatan yang dipenuhi oleh debu-debu mitos dan tak berpengaruh apa-apa terhadap kondisi sosila kemasyarakatn kita. Hal ini tentu saja malah merendahkan derajat dan nilai lailatul qadar sendiri. Lailatul qadar akan menjadi lebih berarti dan mempunyai nilai yang tinggi, benar-benar mempunyai derajat kebaikan melebihi seribu bulan, kalau benar-benar membawa angin perubahan dan perbaikan terhadap kehidupan sosial manusia.. Tinggi dan luhurnya lailatul qadar tidak sepenuhnya diukur dari statusnya yang seperti disebutkan oleh al-Qur’an, tetapi juga dipandang dari sejauh mana dampak malam itu terhadap kehidupan kita di alam material ini. Jelas, perubahan dan perbaikan dalam kontek lalilatul qadar ini adalah perubahan yang sifatnya jangka panjang dan berjalan berrdasarkan kesadaran.

Spirit lailatul qadar itulah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau tengah berkholwat di gua hira. Pengalaman religius (religius eksperience) nabi bisa bertemu dengan malam lailatul qadar tersebut saat pertama kali menerima wahyu. Hal ini eperti yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Qurais Shihab (1996) malam Al-Qadar, yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliu sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

Bercermin dari pengalamn nabi tersebut bisa ditarik pelajaran atau makna bahwa sebuah pengalaman spiritual, seperti lalilatul qadar ini, bukanlah pengalaman religius yang sepenuhnya metafisik, tetapi juga mempunyai orientasi dan stressing pada perbaikan kondisi riil keamasyarakatan. Artinya, lailatul qadar ini harus kita jadikan sebagai titik tolak perubahan atas bobroknya sistem dan budaya kehidupan kita. Seperti sekarang di ini di tengah kehidupan berbangsa dab bernegara kita, baik pada level politik, ekonomi maupun budaya, banyak beragam masalah, kesenjanagan, ketidakadilan, penindasan dan kecurangan. Karena otoritas kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya, wong elit semakin membusungkan dada, sombong dan rakus dihadapan kawulo alit..

Para pejabat sudah semakin kehilangan akal sehatnya hingga tak mampui berpikir jernih dan melek terhadap penderitaan yang menimpa rakyat miskin. Bagaimana bisa dikatakan adil, sementara para pejabat banyak yang mendapat gerujukan u8ang 500 juta rupiah, mendapat 400 cek perjalanan dan bisa gila-gilaan menggeber iklan politik dengan menggelontorkan puluhan milyar rupiah, namun di sisi lain justru ada 21 orang yang mati terinjak-injak karena rebutan zakat.

Melihat kenyataan yang timpang ini semakin meneguhkan apa yang dikatakan oleh budayawan Emha Aiunun Nadjib (2007) bahwa dalam kosmos politik, mungkin titik berat makna wong cilik adalah ketidakberkuasaan:bahwa mereka adalah obyek atau pelengkap penderita kekuasaan, didalam tata ekonomi, wong cilik diindikasikan oleh ketidakpunyaan; wong cilik itu wong ora duwe, orang ‘tak punya”’ orang yang minimla uang dan hartanya. Dalam pemandangan kebudayaan, wong cilik seolah-olah adalah massa yang pasif, yang diseret-seret, digiring, ditentukan warna pakaiannya, diatur apa yang harus ditontonnya, disukai dan dibencinya—oleh golongan wong gede. Itulah fenomena paradoks di sebuah negeri yang konon tanahnyanya subur makmur, SDAnya kaya raya dan punya bermacam-macam agama dan keyakinan.

 

Perlunya komitmen BerLailatul Qadar

 

Oleh karena itu, karena kebobrokan moral, sosial, politik dan budaya sudah sedemikian tingginya di dalam negeri kita, maka lailatul qadar ini harus kita jadikan sebagai spirit untuk melakukan perubahan dan perbaikan atas terjadinya kebobrokan yang multi kompolek tersebut. Namun, dalam hal ini, satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa lailatul qadar bukanlah sebuah produk yang sudah jadi. Ia bukan sebuah ‘mukjizat” yang serta merta langsung membawa dampak perubahan terhadap kehidupan kita di muka bumi.

Tetapi lebih dari itu ia adalah idea, cita-cita yang kita ikhtiarkan yang sudah barang tentu membutuhkan peran, kesiapan dan komitmen dari kita sebagai pendamba lailatul qadar tersebut. Jadi lailatul qadar akan mempunyai dampak transformasi sosial yang dahsyat– sebagaimana yang dulu pernah diimplementasikan oleh nabi ketika memperbaikai dan merubah sejarah bangsa Arab dari statusnya sebagai masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani— manakala kita juga mempunyai komitmen untuk merubah dan memperbaiki prilaku dan pola pikir kita yang sekarang tengah mengalami krisis nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan ini, menuju indifidu dan masyarakat yang mempunyai tingkat moralitas dan hati nurani yang tinggi, penuh dengan semangat sosial dan kemanusiaan.

Kalau diri kita, baik sebagai indifidu maupun sebagai bangsa, sendiri tetap pasif, tidak bersedia berubah, pro status quo, tetap suka berprilaku curang, berotak kotor dan bermental comberan, maka tidak ada gunanya kita brersusah-susah memburu lailatul qadar. .

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator forum diskusi filsafat Linkaran ’06 dan staf ahli Hasyim Asy’ari Institute

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: