ES LUMPUR LAPINDO

Oleh: Muhammad Muhibbuddin*

 

Ada fenomena unik di Yogyakarta tepatnya di Jl. Timoho. Di pinggir jalan yang menuju ke arah kampus UIN Sunan Kalijaga itu terdapat penjual Es yang nama ESnya dinamakan dengan ES Lumpur Lapindo. Setiap orang yang melihat bisa dipastikan tercengang, penasaran namun akhirnya bisa kecewa. Karena ES tersebut bukan benar-benar terbuat dari lumpur Lapindo yang menyembur di Porong, tetapi terbuat dari bahan-bahan ES biasa seperti sirup, buah dan sejenisnya. Satu gelas ES tersebut dijual Rp.3500.Dengan komposisi bahan yang demikian itu sudah bisa dipastikan bahwa rasa ES tersebut pun tidak mungkin terasa lumpur, tapi tetap terasa ES yang manis, enak dan segar.

Fenomena tersebut, di samping unik juga nampak paradok. Seseorang yang berpikir logis tentu bertanya-tanya: apa maksud dari sang penjual tersebut? Bagaimana bisa membuat minuman diidentikkan dengan nama lumpur yang fakta empirisnya adalah sebuah benda kotor, penuh racun, bercampur minyak dan bisa mematikan. Kalau memang itu diorientasikan sebagai usaha komersial, bukankah minuman itu seharusnya diidentikkan dengan nama-nama yang didengar enak dan segar sehingga mampu menggugah selera para pembeli. Bukankah dengan tanpa melihat wujud ES yang sebenarnya tersebut, seseorang akan cenderung menolak untuk membeli. Sebab, mendengarnya saja sudah terkesan jijik dan penuh bahaya. Ketika kita mendengar lumpur Lapindo, imajinasi kita tentu akan segera melayang ke daerah Porong, Sidoarjo tempat di mana lumpur tersebut muntah.Tapi inilah justru wujud “kecerdikan” si penjual ES tersebut.

 

Permainan tanda dan bahasa iklan

 

Dalam perspektif hermeneutika, apa yang dilakukan oleh si penjual ES Lumpur Lapindo tersebut adalah fenomena permainan tanda sebagai alat (tool) komunikasi dengan publik atau konsumen. Penjualan ES Lumpur Lapindo ini meneguhkan apa yang dikatakan oleh Mikhail Bakhtin bahwa ruang konsumsi sangat berpotensi menjadi ajang carnavalism, yaitu sebuah ajang permainan tanda, permainan gaya dan permainan makna. Permainan tanda itu jelas digunakan untuk menarik massa atau konsumen supaya bersedia membeli ES tersebut.

Dilihat dari stressingnya ini, maka bisa ditebak bahwa istilah Lumpur Lapindo yang dilekatkan atau disematkan ke nama ES tersebut tidak lain adalah salah satu bentuk bahasa iklan. Sementara karakteristik iklan adalah sering menawarkan citra, image, keterkejutan dan rasa penasaran kepada para konsumen melalui berbagai tanda dan simbul yang terpendar dalam bahasanya sendiri. Tidak menutup kemungkinan, dalam permainan tanda sebagai bagian dari bahasa iklan ini, nantinya ada yang menjual ES Tsunami, ES Gempa bumi, ES Puting beliung, ES Banjir bandang, ES Tanah longsor, ES Gunung meletus dan nama-nama lain yang membuat publik terkejut (surprise) dan penasaran

Spirit smiotika itulah yang nantinya memotivasi para konsumen untuk belanja. Seperti yang ditegaskan oleh Yasraf A. Pilliang (2003) di dalam iklan, tanda-tanda digunakan secara aktif dan dinamis, sehingga orang tidak lagi membeli produk untuk pemenuhan kebutuhan (need), melainkan membeli makna-makna simbolik (simbolic meanning), yang menempatkan konsumer di dalam struktur komunikasi yang dikonstruksi secara sosial oleh sistem produksi/konsumsi (produser, marketing, iklan). Konsumer dikondisikan untuk lebih terpesona dengan makna-makna simbolik ini ketimbang utilitas sebuah produk.

Panggilan simiotika untuk membangkitkan gairah konsumsi ini memang terbukti ampuh. Dalam kasus ES ini, kata –kata Lumpur Lapindo mampu menarik massa yang lumayan banyak sehingga mereka rela antri untuk membelinya. Dalam perspektif smiotika ini jelas bahwa mereka yang berjubel membeli ES Lumpur Lapindo bukanlah semata-mata tertarik atau butuh jenis ESnya. Sebab, secara logis, tidak mungkin seseorang mau membeli ES yang berupa lumpur. Dalam hal ini para konsumen itu hanya tertarik pada simbol yang berupa nama Lumpur Lapindo itu sendiri.

 

Distorsi makna

 

Karena nama Lumpur Lapindo kini dimanfaatkan sebagai nama atau simbol dari sebuah ES, maka hal ini sangat berpotensi mendistorsi makna skandal lapindo itu sendiri. Makna Lumpur Lapindo yang sebenarnya adalah tragedi kemanusiaan yang berupa bencana oleh kerakusan dan kejahatan sistem kapitalisme, hingga membuat masyarakat Porong banyak yang tergusur dan terampas kehidupannya. Akibat tragedi itu para korban lapindo kini banyak yang menjadi gelandangan dan hidupnya terlunta-lunta karena rumah, sawah dan harta kekayaannya raib ditimbun lumpur.

Itu tentu sebuah peristiwa yang menyedihkan dan menyayat hati. Bicara lumpur Lapindo sudah barang tentu akan terbayang dengan penderitaan masyarakat Porong.Tapi Lumpur Lapindo tersebut kini justru berubah menjadi sebuah minuman ES. Sedikit banyak ini akan merubah atau bahkan menghilangkan makna yang sebenarnya. Bisa jadi, orang banyak berbicara Lumpur Lapindo bukan lagi tertuju pada penderitaan masyarakat Porong, melainkan lebih terbayang oleh segarnya dan nikmatnya ES.

Dalam dimensi moral-spiritual, ES Lumpur Lapindo ini mengingatkan kita pada refleksi novelis kaliber asal Brazil, Paulo Coelho dalam eleven minutesnya. Di dalam novel itu digambarkan pembicaraan antara seorang pelukis, Ralf Hartz dengan Maria—tokoh utama novel itu– mengenai segelas anisette. Ketika Maria melihat segelas anisette, ia tidak menemukan sesuatu kecuali hanya segelas minuman itu. Ini berbeda dengan Ralf yang suka menyelami segala sesuatu sehingga melihat segelas anisette itu secara mendalam. Maka yang ia lihat bukan hanya anisettenya, tetapi juga hal-hal yang terkait dengan minuman itu: badai yang menerpa tanaman itu, tangan yang memetik tanaman itu, perjalanan dengan kapal laut dari negeri lain, bau dan warna –warni yang dicampurkannya pada tanaman itu sebelum dimasukkan ke dalam minuman keras. Andai dia diminta melukis pemandangan itu, akan ia masukkan semua unsur yang disebutkan tadi.

Bisa jadi, seandainya ES Lumpur Lapindo yang dijual itu dilihat oleh Ralf Harts tersebut, maka, di dalam segelas ES Lumpur Lapindo itu yang akan nampak bukan hanya minuman ES yang sederhana tetapi juga semburan lumpur panas, rumah-rumah yang tenggelam, orang-orang porong yang sedih dan berurai air mata, anak-anak yang menjadi gelandangan, para petani yang kehilangan sawahnya dan sejumlah penderitaan lainnya. Tapi apakah tragedi –tragedi Lapindo itu juga dilihat dan dirasakan oleh para penikmat ES Lumpur Lapindo di dalam gelasnya?

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator studi filsafat “Sophos alaikum” Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: