IDUL FITHRI DAN NEVER ENDING “PUASA”

Oleh: Muhammad Muhibbuddin*

 

Hari raya Idul Fithri, dalam kultur Indonesia sering disebut dengan hari raya lebaran. Ini barangkali mengacu pada momen selesainya puasa selama bulan Ramadhan. Dalam terminologi Jawa ini disebut riyoyo bodo atau hari raya paripurna. Paripurna dari apa? Yakni dari kewajiban menjalankan puasa Ramadhan. Puasa yang diperintahkan oleh Islam itu, dalam kontek makna ini ditutup dengan yang namanya hari raya lebaran atau idul fithri.Maka kalau dipandang dari paradigam kausalitas idul fithri ini sebenarnya hanyalah sebuah akibat, dampak dari sebuah sebab yang namanya puasa. Idul fithri akan muncul kalau terlebih dahulu mucul yang namanya puasa Ramadhan. Tanpa Ramadhan nonsense ada idul fithri. Jadi, arti Idul Fithri sangat ditentukan oleh puasa Ramadhan. Karena kondisi fithrinya seseorang sepenuhnya tergantung pada suksesnya berpuasa Ramadhan.

Dengan puasa itu manusia ditempa untuk bisa menemukan jatidirinya semula, untuk bisa kembali pada fitrahnya yang sejak lahir bersih dan suci. Manusia yang awalnya bersih atau fithri itu, dalam perjalanan sejarahnya sering mengalami distorsi, fluktuasi dan ketercemaran sehingga sering terjerembab ke dalam lumpur-lumpur dosa baik dosa infdifidual maupun dosa sosial, dosa vertikal maupun dosa horisontal, dosa kultural maupun struktural dan seterusnya.

Oleh karena itu, untuk menyucikan eksistensi diri itu, untuk kembali ke fitrah, atau dalam bahasanya alamrhum Nurcholis Madjid menuju kepada kemanusiaan primordial, seseorang dituntut untuk berpuasa, yang disyariatkan selama satu bulan penuh. Dengan demikian, kalau memang idul fithri merupakan akibat dari puasa, sekarang pertanyaannya adalah apakah idul fithru ini juga momen atau terminal akhir dari proses berpuasa kita? Apakah kalau kita sudah mencapai tahapan idul fithri puasa kita lantas menjadi lebaran atau mencapai titik final?

Dalam konteks hukum dan budaya konvensional kita sering tak sadar diri dan akhirnya terlarut pada sebuah anggapan atau malah keyakinan bahwa idul fithri adalah momen berakhirnya puasa. Karena secara syariat puasa hanya dibatasi dalam tenggat waktu satu bulan, yakni selama bulan Ramadhan, maka ketika sudah keluar dari Ramadhan dan memasuki bulan Syawal, kita anggap puasa kita selesai dan secara implisit mengucapkan good bay Ramadhan. Memang secara umum ini bisa diterima. Karena kita hidup memang berjalan di atas konvensi-konvensi budaya dan aturan main (rule of the game) sosial. Namun dalam konteks konvensi ini ada keliruan prinsipil dalam memandang idul fihtri atau lebaran kaitannya dengan puasa Ramadhan.

 

Sebuah Titik awal

 

Kekeliruan mendasar yang dipersipkan oleh hukum konvensional lebaran atau idul fithri ini adalah dianggapnya atau diyakininya momen tersbeut sebagai akhir dari puasa. Ketika seseorang yang berpuasa sudah memasuki momen idul fithri atau lebaran, mereka lantas menganggap itu sebagai akhir dari proses berpuasa selama bulan ramadhan padahal secara prinsipil sebenarnya tidak. Kalau dipandang secara lebih mendalam momen idul fithri ini justru titik awal seoarang untuk menapaki jejak kehiduypan baru. Orang yang selesai berpuasa selama bulan ramadhan itu pada hakekatnya justru orang yang membuka lembaran baru. Yang mana lembaran baru itu itu merupakan bentangan jalan yang akan dia lewati untuk menyusuri jejak-jejak kehidupan selanjutnya.

Jadi dengan demikian orang yang memasuki momen idul fithri, dalam kontek ini pada hakekatnya adalah orang yang baru mencapai pintu gerbang untuk melakukan perjalanan panjang dengan program yang sudah ia rencanakan di bulan puasa. Jadi ketika kita mengucapkan selamat Idul Fithri, pada hakekatnya secara implisit tidak mengucapkan selamat tinggal, good bay, tetapi sebaliknya kita justru mengucapkan selamat datang di kehidupan yang baru. Dalam kehidupan yang baru ini Ramadhan bukan menjadi sesuatu yang final. Ia justru baru akan kita eksplor lebih dalam.

Lantas apa tugas kita di zona kehidupan yang baru itu? Tidak lain adalah mengimplementasikan dan menterjemahkan makna-makna simbolik puasa yang kita jalani selama satu bulan itu ke dalam ranah kehidupan kita sehari-hari. Puasa Ramadhan yang satu bulan penuh kita jalani itu, di momen idul fithri dan momen-momen selanjutnya, kita justru bertanggung jawab untuk mengimplementasikan dan menterjemahkan makna-makna puasa itu ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Artinya puasa itu di luar Ramadhan itu bukan berarti selesai tetapi justru menemukan artikulasi dan maknanya yang baru.

Jadi sungguh salah kalau Idul Fithri itu kita persepsikan sebagai lebaran dari puasa kita. Dengan lebaran itu, selanjutnya kita puasa Ramadhan kita anggap sebagai sesuatu yang selesai ketika sudah keluar dari momentum Ramadhan. Dengan anggapan seperti ini lantas kita lupakan pesan-pesan Ramadhan, makna Ramadhan kita anggap hanya relevan dan berlaku pada bulan Ramadhan saja, selepas dari Ramadhan kita bawa diri kita kembali ke tradisi atau budaya lama yang penuh dengan dosa dan noda. Dengan menganggap Puasa Ramdhan kita anggap selesai seiring datangnya Idul Fithri, lantas kita kembali menjadi manusia yang tak bisa mengontrol diri sehingga kembali suka korup, menelikung, menyeleweng, curang dan sebagainya.

 

Idul Fithri: sebuah proses

 

Kemudian dari itu, konsep fithri yang kita menjadi tema besar dalam hari raya Idul Fithri itu bukanlah sebuah produk yang jadi, tetapi masih dalam tahap proses. Artinya, fithri itu merupakan sesuatu yang masih kita ikhtiarkan, masih kita buru, masih kita usahakan melalui tindak lanjut atau follow up makna puasa Ramadhan ke dalam kehidupan sehari-hari tersebut. Sebagai manusia, kata budayawan Emha Ainun Nadjib (1995), kita saling memandang bahwa kita sudah sama-sama ber-Idul Fihtri. Namun sudah memfitrikah hidup kita di pandangan Allah yang maha lembut, yang perhitumganNya melebihi laser menembus tajam ke lubuk paling dalam dari batin kita?. Ini artinya kefitrihan yang kita anggap sudah kita raih di hari Idul Fithri ini masih dalam tanda tanya besar.

Maka dari itu, supaya prediket fithri ini benar-benar berimplikasi dan berpengaruh terhadap kehidupan kita secara holistik dan riil, maka puasa Ramadhan, sebagai sebab munculnya kefitrahan itu tidak boleh kita anggap selesai. Puasa Ramadhan secara doktrinal-literalis mungkin sementara kita anggap cukup, tetapi puasa Ramadhan secara substansial-maknawi tidak akan pernah selesai sepanjang kita mencita-citakan kefitrahan. Dalam hubungannya dengan cita-cita kembali ke yang fithri ini “puasa ramadhan”justru menjadi never ending.

*Muhammad Muhibbuddin adalah pegiat forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” dan staf ahli Hasyim Asy’ari Institute

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: