HILANGNYA TRADISI INTELEKTUAL

Oleh: Muhammad Muhibbuddin*

 

Tawuran kini bukan lagi marak di kalangan masyarakat awam, tetapi juga sudah menjadi trend di kalangan mahasiswa. Kompas (19/10/2008) telah mengekspos beberapa aksi tawuran yang dilakukan oleh calon-calon intelektual itu. Tawuran pertama terjadi pada Selasa (14/10) yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Kristen Indonesia dan Universitas Persada Indonesia Yayasan Administrasi Indonesia atau YAI Jakarta. Tawuran berikutnya terjadi pada Sabtu (18/10) yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Islam Makassar (UIM) di kampus mereka Jl. Perintis Kemerdekaan Makassar. Tidak menutup kemungkinan aksi-aksi sejenisnya masih akan terjadi di kalangan mahasiswa lain.

Maraknya aksi tawuran mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia ini membuat orang bertanya-tanya: apa sebenarnya yang terjadi pada dunia akademik kita? Kenapa para mahasiswa sebagai masyarakat akademis, kaum intelektual yang dinilai sebagai orang-orang yang pandai dan intens menggunakan akal budi dan hati nuraninya justru mudah bertindak barbar yang jelas-jelas bertolak belakang dengan spirit intelektualitas dan moralitas.

Salah satu ciri khas seorang intelektual adalah terletak pada pola, strategi dan metodologinya dalam memandang dan menyikapi sebuah persoalan. Dalam menyikapi sebuah persoalan, seorang intelektual selalu dituntut untuk bersandar pada nalar intelektual dan moral yang selalu mengedepankan semangat rasionalitas, kejujuran, obyektifitas dan jauh dari sikap emosional. Dengan demikian, menyelesaikan masalah melalui tawuran adalah bukan cara seorang intelektual.

Tawuran mahasiswa ini sebenarnya cerita lama. Berulang kali media mengekspos terjadinya perbuatan yang tidak lazim dilakukan insa-insan akademis itu. Karena saking seringny terjadi, seolah perbuatan memalukan itu sudah menjadi hal yang lumrah. Naifnya, dalam tawuran itu tidak ada nilai idealisme yang mereka perjuangakan. Mereka bertawur bukan karena membela rakyat atau melawan kekuasaan otoriter, tetapi lebih disebabkan oleh hal-hal yang remeh-remeh seperti masalah persaingan, gengsi, kecemburuan sosial dan sebagainya.

Artinya mudahnya mahasiswa meledakkan emosi tawuran itu lebih disebabkan oleh kekurangdewasaan diri. Mereka gagal melakukan transformasi diri dari siswa ke mahasiswa. Hal ini sekaligus menunjukkan hilangnya tradisi intelektual mahasiswa. Tradisi intelektual yang lebih menitikberatkan pada semangat rasionalitas, obyektifitas dan kejujuran hati nurani sekarang sudah mati dan digantikan dengan tradisi preman yang lebih suka berbuat anarkis.

Hilangnya batas tradisi agung dan tradisi kecil

 

Ketika tradisi intelektual sudah hilang dari pusaran akademik kampus, maka yang terjadi adalah leburnya batas etika, moral dan intelektual antara masyarakat akademis dengan masyarakat umum. Dalam tinjauan filsafat kebudayaan J.W.M Bekker (1984) membagi dua tradisi masyarakat yaitu tradisi agung (the great tradition) dan tradisi kecil (the little tradition). Tradisi besar adalah tradisi yang mencerminkan semangat refleksi (tradition of the reflective few). Artinya tradisi agung ini merupakan tradisi yang didasari oleh semangat ilmiah dan nilai-nilai intelektual. Oleh karena itu tradisi ini hanya terbatas pada masyarakat akademik. Sebaliknya tradisi kecil adalah tradisi yang tidak berdasar pada prinsip-prinsip ilmiah, ia berjalan secara banal dan biasa saja. Tradisi semacam inilah yang ada dalam kehidupan masyarakat awam.

Namun pandangan Bekker tersebut tidak relevan lagi ketika dibenturkan dengan fenomena aksi tawuran mahasiswa. Tawuran mahasiswa itu membuktikan bahwa sudah tidak ada lagi batas yang ketat antara dua tradisi di atas. Sudah tidak ada distingsi yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi antara tradisi masyarakat akademis dan masyarakat awam. Kalau mahasiswa sudah tidak berpikir, tidak mampu berrefleksi dan mengendalikan diri sesuai dengan prinsip-prinsip moral akademik, sehingga mudah melakukan aksi barbarisme, maka apa bedanya dengan orang-orang orang-orang awam?

Ketika para calon intelektual itu dalam menyelesaikan masalah hanya bisa melalui adu otot, maka di mana letak perbedaannya dengan masyarakat kecil. Dalam kontek ini, jelas sudah tidak bisa dibedakan. Sebagai cermin dari tradisi agung yang sarat dengan nilai-nilai idealisme, mahasiswa seharusnya mampu menunjukkan pola penyelesaian masalah yang baik, rasional, arif dan jauh dari sikap emosional apalagi anarkis.

Dengan aksi barbarisme itu menujukkan bahwa, baik masyarakat akademis maupun masyarakat umum, secara moral-intelektual, sama –sama berada pada ruang tradisi yang sama:yaitu tradisi yang tidak menggunakan otak, jauh dari tradisi intelektual dan kecendekiaan (litlle tradition). Justru dalam kasus tertentu, masyarakat awamlah yang lebih berhak menyandang tradisi agung. Karena di antara mereka masih banyak yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan hati nurani sehingga bisa jauh dari kekerasan.

Ancaman terhadap dunia pendidikan

 

Maraknya aksi tawuran antar mahasiswa tersebut merupakan ancaman kredibelitas lembaga pendidikan. Univeristas atau perguruan tinggi yang seharusnya steril dari gejolak aksi kekerasan justru berpotensi menjadi dunia yang akrab dengan premanisme. Mungkin yang diharus diperhatikan oleh seluruh lembaga pendidikan di Indonesia adalah fungsi pendidikan yang selama ini berjalan. Harus diakui bahwa kebanyakan lembaga pendidikan sekarang membiarkan dirinya terseret arus formalisasi dan komersialisasi.

Hal itu karena yang lebih dipentingkan oleh kebanyakan universitas adalah penampakan, citra atau image belaka. Sementara hal-hal yang sifatnya substansial kurang mendapatkan tempat. Karena yang diutamakan adalah citra, maka banyak perguruan tinggi yang terjerumus dalam ekstase kecepatan dalam proses belajar. Mahasiswa dipresur untuk segera cepat lulus dengan prestasi formal yang tinggi. Proses pendidikan yang berada pada ekstase percepatan belajar ini membuat mahasiswa dan seluruh aktor pendidikan tidak sempat untuk berrefleksi dan merenung. Mereka tidak mampu lagi berpikir mendalam untuk menggali kearifan dan kebijaksanaan. Hal ini karena mereka disibukkan oleh peraturan dan birokrasi pendidikan yang super ketat. Proses pendidikan semacam ini pada hakekatnya adalah jenis kekerasan, yang dalam bahasanya Piere Bourdieu, dinamakan kekerasan simbolik.

Bagaimanapun juga fungsi pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia. Untuk mencapai idealisme tersebut aktifitas refleksi dan pendayagunaan akal budi, sebagai cermin dari tradisi intelektual, tidak boleh hilang atau mati oleh keangkuhan birokrasi dan apalagi komersialisasi. Kalau ini tidak diperhatikan maka jangan kaget kalau semakin lama semakin banyak mahasiswa yang berpikir dangkal sehingga saling sruduk.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator studi filsafat “Linkaran ’06” fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: