BENARKAH SAMPAI DETIK INI MANUSIA MASIH MEMERLUKAN “AGAMA”?

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

Usia “agama” barangkali sudah setua usia sejarah manusia itu sendiri. Namun meskipun demikian, eksistensi agama di dalam kehidupan manusia itu sendiri jarang—untuk tidak mengatakan tidak pernah—dipertanyakan. Agama sampai detik ini, dipandang sebagai fenoemena hukum alam yang sudah sewajarnya terjadi. Mayoritas orang, khususnya mereka yang beragama, tidak pernah usil atau mempersoalkan perihal agama yang mereka peluk. Mereka kebanyakan, beragama lebih ditentukan oleh budaya waton mengalir, asal ikut, latah dengan keluarga, sanak famili, tetangga dan masyarakat. Pada hal mempertanyakan eksistensi agama dalam ranah kehidupan manusia adalah persoalan penting dan fundamental. Karena pertanyaan eksistensial agama itu merupakan titik tolak aktifitas keagamaan yang sebenarnya.

Satu persoalan fundamental yang jarang dipertanyakan oleh masyarakat agama sendiri adalah mengapa manusia beragama? Mengapa orang hidup mesti beragama? Apa hubungan agama dengan kehidupan manusia itu sendiri? Adakah memang korelasi yang signifikan antara agama dengan kehidupan maniusia sehingga mau tak mau manusia harus beragama? Bagaimana kalau manusia tidak beragama? Adakah sesuatu yang membuat kehidupan seseorang rugi atau terasa kurang kalau dia tidak beragama? Pertanyaan –pertanyaan semacam ini sebenarnya menjadi entry point bagi orang-orang yang hendak memeluk sebuah agama. Karena dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar itu, seseorang benar-benar menemukan urgensi dan signifikansi beragama di dalam kehidupannya.

Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, bisa diputuskan dan dipertimbangkan perlu tidaknya beragama.Tanpa lecutan dari pertanyaan-pertanyaan yang fundamental tersebut, maka seseorang yang beragama tidak akan pernah menemukan makna hakiki dari agama yang dipeluknya. Agama yang dipeluknya tidak akan pernah mempunyai dampak dan implikasi apa-apa terhadap kehidupannya. Maka tidak heran kalau sekarang banyak dijumpai orang yang beragama, tetapi kehidupan sehari-harinya sama dengan orang-orang tak beragama. Mereka rajin pergi ke masjid, gereja, pura, wihara dan tempat-tempat suci lainnya dengan dalih untuk menjalankan perintah agama, tetapi mereka sendiri tidak tahu mengapa mereka melakukan perintah –perintah agama itu? Apa manfaatnya semua itu? Persoalan-persoalan inilah yang tak pernah dipikirkan oleh para pemeluk agama sehingga agama yang dipeluknya nyaris hanya sebagai status sosila, hahya sebagai formalitas dan label KTP belaka. Agama pada level ini hanya berfungsi sebagai formalitas.

Paradok agama formal

 

Agama sejak kelahirannya diyakini sebagai alat untuk menyebarkan kebenaran. Masing-masing agama di dunia mempunyai kaim kebenaran (claim of truth) dan klaim keselamatan (claim of salvation). Seluruh ajaran dan norma yang ada di dalamnya adalah sebuah upaya atau jalan untuk mencapai keselamatan dan kebenaran yang hakiki.

Namun apa faktanya? Agama justru banyak menimbulkan peperangan dan percekcokan. Dari sekian perang yang ada di dunia, banyak disumbang oleh agama. Sebab, ternyata agama bukan hanya persoalan tuhan, bukan hanya persoalan surga atau neraka, tetapi ia juga persoalan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dari sini kita tahu bahwa agama pada level smiotis-letralis adalah sebuah postulat yang kalau diteliti secara riel yang ada di dalamnya adalah budaya, politik, kekuasaan, ekonomi dan sejenisnya.

Bangunan agama yang demikian itu, maka kita lamat-lamat menegathui bahwa mengapa meskipun di dunia ini banyak sekali agama tetapi peperangan, pertengkaran dan pembunuhan masih ters berlangsung bahkan semakin mengalami eskalasi. Tak jarang orang yang beragama, rela menggayang dan membantai orang lain, justru karena dalih untuk membela agamanya. Melihat fenomena agama yang semacam ini, agama secara sekilas justru menjadi sumber konflik sehingga yang terkesan adalah fenomean paradoks dalam agama. Artinya di sini terleihat jelas kesenjangan antara idealitas agama dengan realitas agama sendiri.

Agama ditinggalkan?

 

Ketika melihat paradoks agama yang demikian itu, maka agama dalam statusnya sebagai agama formal (the organized religion) banyak ditinggalkan oleh pemeluknya sendiri. Agama mulai banyak digugat dan dipertnayakan fungsi dan keberaadaannya. Bahkan oleh sebagian tokoh filsof dan ilmuwan, agama formal yang menjadi sumber konflik itu, dipreteli habis-habisan.

Frued mengatakan bahwa agama adalah gejala neurosis, sementara Marx mengatakan sebagai candu masyarakat dan Nietzsche dengan tegas menyatakan bahwa tuhan telah mati (god is dead). Para ilmuwan-ilmuwan semacam ini merupakan reprsentasi dari orang-orang yang sudah tidak lagi percaya tentang kebenaran agama formal. Mereka menganggap agama formal itu hanyalah rekayasa manusia belaka. Bahkan jauh sebelumnya, oleh Spinoza agama itu divonis sebagai takhayyul. Mengapa? karena baginya Tuhan atau substansi adalah bersifat natural. Karena natural, maka Tuhan adalah entitas yang impersonal. Ini berbeda dengan kaum agamawan yang memposisikan Tuhan sebagai wujud yang personal.

Sehingga mereka yakin bahwa Tuhan bisa berkehendak apa saja:memberi pahala, memberi siksa, memberi kasih sayang dan sebagainya. Dengan pandangan yang naturalistik itu, maka bagi orang-orang seperti spinoza meyakini bahwa segala praktik ritual dan ajaran adalah sesuatu yang omong kosong. Karena merupakan wujud yang impersonal, maka tidak mungkin Tuhan merespon segala bentuk doa, dzikir, sembahyang dan sebagainya yang dipraktikkan oleh orang-orang yang beragama.

Geliat untuk meninggalkan agama ini mengalami puncaknya ketika era modernisme lahir. Dengan pandangan yang rasionalistik-positivistik, agama dianggap sebagai sesuatu yang salah. Karena banyak ajaran agama, terutama yang berkaitan dengan metafisika, tidak bisa dibuktikan secara empiris dan rasional. Maka dengan lahirnya modernisme ini agama tengah mengalami ujian yang keras untuk mempertahankan eksistensinya di tengah para pemeluknya.

Di satu sisi, peradaban modern adalah sebuah semangat zaman (zeitgeist) yang lebih mengunggulkan dimensi material dan fisik. Hal ini tentu bertolak belakang dengan paham agama yang idealistik bahwa materi adalah sesuatu yang rendah. Bahwa realitas yang sebenarnya adalah sesuatu yang immaterial. Dengan pola semacam ini, maka agama banyak dicampakkan oleh masyarakat modern. Bagi orang modern, norma-norma agama hanyalah sebuah belenggu yang mengikat kebebasan manusia. Maka untuk membebaskan diri, banyak orang-orang modern yang meninggalkan agama.

Agama formal Versus Spiritualitas

 

Sama kasusnya dengan agama formal. Modernitas yang pada awalnya menawarkan janji-janji kebahagiaan, ternyata justru banyak menimbulkan tragedi kemanusiaan. Materialisme yang menjadi tuhan orang modern tidak kunjung-kunjung menghadirkan kebahagiaan yang diimpikan. Maka modernisme pun mulai digugat. Banyak masyarakat dunia yang kecewa dengan peradaban modern. Peradaban modern banyak menimbulkan kerusakan dan bencana kemanusiaan seperti kehampaan makna hidup, kerusakan alam., kebingungan eksistensial, pemusnahaan manusia dan sejenisnya. Tragedi –tragedi kemanusiaan yang ditimbulkan oleh peradaban modern ini menjadikan manusia frustasi.

Maka dari itu sekarang fenomena terbalik. Seperti banyaknya orang yang sekarang menggandrungi spiritual. Pusat-pusat kebugaran seperti yoga, reiki, dan sejenisnya tengah menjamur di perkotaan. Komunitas-komunitas spiritual dengan berbagai laatr belakanganya tumbuh subur di masyarakat urban. Sufisme, mistik dan hal-hal keruhanian, yang di abad modern dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan sekarang justru bayakdigandrungi dan diburu oleh masyarakat jet set. Inilah yang disebut Fritjof Chapra sebagai titik balik (the turning point) peradaban.

Melihat geliat itu, apakah ini pertanda bahwa agama formal mengalami kebangkitan paska di bawah aorgansi modernitas? Jawabnya ternyata bukan. Mereka hanyalah menggandrungi spiritual dan bukan agama. Upaya mereka untuk menekuni mistik bukanlah untuk rindu kepada agama formal, melainkan untuk menenggak anggur spiritual. Mereka sejatinya tetap tidak peduli dengan agama formal. Bagi mereka agama formal, berbeda dengan spiritual. Untuk menangguk anggur spiritual tidak harus masuk ke dalam kafe-kafe agama formal. Inilah yang diafirmasi oleh guru spiritual kontemporer AS Deepak Chopra. Dokter dari India dan guru spiritualnya artis-artis dunia seperti Demi Moore, penyanyi kenamaan Michael Jackson dan bintang film The X-Files, Gillian Anderson itu dengan tegas menyatakan bahwa “personaly I’m not for one religion at all. I make a big distinction between religion and spirituality”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall dalam SQ: spiritual Quistion (Bloomsbury:200). Kedua penulis buku spiritual itu menyatakan bahwa untuk mencapai kecerdasan spiritual tak perlu harus berhubungan dengan agama. Bahkan dengan optimis keduanya menyatakan: “many humanists and atheists have very high SQ (Spiritual Intellegency); many actively and vacyferiously religious people have very low”. Selain itu, secara lebih khusus juga, William C. Chittick, dalam bukunya Sufism: A Short Introduction (Oneworld, 2000) memberi perumpamaan bahwa orang Barat mau mendengar atau masuk dalam dunia tasawuf, namun mereka merasa jijik dengan apa yang disebut Islam.

Semua itu menunjukkan bahwa meskipun modernisme sudah mulai digugat dan diganti dengan peradaban spiritual yang mana mayoritas manusia di jagad ini mulai menghamburkan diri ke wilayah mistiq, bukan berarti agama formal, agama yang yang menajdi status sosial atau label KTP, agama kuantitatif, dengan secara otomatis juga diapreasiasi dan digandrungi oleh masyarakat postmodern. Agama itu tetap berada dalam ancaman yang besar untuk dicampakan oleh umat manusia.

Dalam kontek ini yang terjadi di dalam dunia agama formal adalah seperti yang ditegaskan oleh Derrida yaitu lahirnya orang yang ber”agama” tanpa “agama”. Maksudnya adalah orang-orang yang menciptakan agama baru di luar agama formal yang ada sebelumnya. Para pengagum spiritual ini mencoba keluar dari kemah agama lama dan mecoba mendirikan kemah agama tersendiri yang lebih luas dan bebas, tanpa harus terikat dengan agama-agama formal manapun. Maka, kalau yang namanya agama kita ukur dari sisi agama formal (organized religion) yang sebelumnya telah eksis, dengan hadirnya gejala keagamaan kontemporer tersebut, justru membuat kita bertanya: Benarkah, manusia sampai detik masih beragama?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: