INDONESIA DAN PERUBAHAN IKLIM GLOBAL

Oleh: Muhammad Muhibbuddin*

Pangeran Charles, Sabtu kemarin telah tiba di Jakarta untuk memulai kunjungannya selama lima hari di Indonesia. Seperti dijelaskan, ada dua tema utama dalam kunjungan pangeran Charles di Indonesia yaitu pelestarian hutan tropis di Indonesia terkait dengan masalah perubahan iklim global dan pemajuan pemahaman agama dan budaya melalui dialog antara kepercayaan. Terkait dengan masalah pengelolaan hutan tropis itu, duta besar Inggris untuk Indonesia Martin Hartfull menyatakan, untuk memerangi perubahan iklim melalui kerja sama dengan Indonesia  sangat penting, karena Indonesia pemilik hutan tropis yang besar dan hutan tropis itu sangat baik sebagai carbon sink (penyerap karbon) (Kompas, 1/11/2008).

Kunjungan Charles ke Indonesia terkait dengan pengelolaan hutan tropis  itu merupakan indikasi bahwa secara geografis, Indonesia merupakan zona strategis untuk turut serta memerangi perubahan iklim yang sekarang semakin mencemaskan masyarakat global. Sebagai negara di tengah pelukan garis khatulistiwa, alam Indonesia sungguh sangat menguntungkan baik secara politik, ekonomi dan budaya. Buminya subur hingga menjadikan Indonesia kaya hutan. Karena kekayaan hutannya itu, Indonesia populer disebut zamrud khatulistiwa. Hal ini karena, kalau dilihat dari angkasa, Indonesia terlihat hijau ranau bagai lautan zamrud. Maka tak salah kalau di pentas global, Indonesia sangat diperhitungkan dalam hal menanggulangi masalah kosmik seperti perubahan iklim tersebut. Ini secara implisit menegaskan bahwa Indonesia adalah pilar dunia dalam hal penyelamatan dan pelestarian bumi dari ancaman kehancuran.

 

Hutan Indonesia yang memprihatinkan

Sungguh sangat disayangkan, ketika dunia sedang dilanda kehancuran akibat perubahan iklim, hutan di Indonesia justru mengalami kerusakan dahsyat. Selain faktor alamiah seperti kebakaran, kerusakan hutan Indonesia juga disebabkan oleh ulah tangan-tangan jahat. Maraknya skandal legal logging, illegal logging atau pembalakan liar, adalah bukti nyata terjadinya kejahatan tersebut. Akibatnya, banyak hutan di Indonesia mengalami kerusakan. Berhektar-hektar hutan Indonesia, sekarang sudah banyak yang menjadi gurun pasir.

Ini belum lagi dengan pembukaan lahan hutan untuk perkampungan, perumahan, pendirian industri dan sebagainya. Di sisi lain, penyebab terjadinya kerusakan hutan yang “super dahsyat” itu adalah disebabkan kegiatan penebangan hutan skala besar oleh perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk industri kertas dan perluasan perkebunan kelapa sawit Faktor –faktor semacam ini akhirnya mengakibatkan hutan di Indonesia mengalami krisis yang sangat parah.

Buku rekor dunia edisi tahun 2008 memasukkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat penghancuran hutan tercepat diantara negara-negara yang memiliki 90% dari sisa hutan di dunia. Dalam Setiap jamnya hutan Indonesia telah hancur dalam luasan 300 kali luas lapangan sepak bola. Akibat besarnya laju kerusakan hutan tersebut, Indonesia telah kehilangan tiga per empat bagian dari luas kawasan hutan alamnya (sekitar 72%) dan dari jumlah tersebut 40%-nya telah hilang. Melihat kerusakan hutan tanpa terkendali itu, wajar kalau kondisi alam sekarang sudah tidak seimbang. Terjadinya perubahan iklim, global warming, efek rumah kaca dan sebagainya adalah bukti kalau alam tempat manusia hidup ini sudah tidak seimbang.

Penggundulan hutan sendiri sebenarnya telah menyumbang 1/5 dari jumlah keseluruhan emisi gas rumah kaca yang mendorong terjadinya perubahan iklim dunia,  kekeringan berkepanjangan, banjir meluas serta tenggelamnya pulau-pulau akibat kenaikan permukaan air laut. Saat ini Indonesia menempati urutan ketiga tertinggi di Dunia dalam emisi gas karbonioksida setelah Amerika Serikat dan Cina, Akibat penggundulan hutan, pengeringan ekosistem gambut dan kebakaran hutan. Hutan gambut yang merupakan cadangan penyimpan karbon yang sangat besar. Sayangnya saat ini hutan gambut mengalamai ancaman yang sangat serius karena perluasan perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran untuk memenuhi permintaan dunia yang besar akan minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit digunakan sebagai salah satu bahan penting dalam industri makanan, kosmetika dan bahan bakar nabati.

 

Saatnya menjaga dan melestarikan

Melihat besar dan vitalnya eksistensi hutan dalam sistem kosmik kita, saatnya sekarang dan selanjutnya, kita berusaha peduli dengan semaksimal mungkinterhadap kondisi hutan Indonesia. Berbagai macam ulah kejahatan dan tindakan destruktif  kita terhadap hutan harus segera kita akhiri. Sisa-sisa hutan yang selama ini masih ada, jangan sampai hancur oleh tangan-tangan jahil kita, tetapi sebaliknya hutan-hutan itu harus kita jaga dan kita lestarikan. Karena, melestarikan hutan ini sama halnya dengan menyelamatkan kehidupan umat manusia sejagad.

Manusia, kata Thomas Berry ,seperti yang dikutip oleh Mary Evelyn Tucker (2000) tidak dapat menciptakan sebatang rumput dan tidak perlu menjadi sebatang rumput kecuali kalau manusia belajar untuk melindungi dan menjaganya dengan sikap rendah hati dan tidak memanipulasi. Sungguh sangat terkutuk, bagi manusia yang kerjanya selalu merusak dan memalak hutan tanpa mau berpikir bahwa hutan itu merupakan bagian dari kehidupannya yang harus ia jaga dan lestarikan. Sebab, tanpa adanya hutan itu, dirinya tidak mungkin bisa eksis.Ketika seseorang dengan seenaknya merusak hutan, mereka lupa kalau itu sama halnya merusak dirinya, keluarga, masyarakat dan bahkan manusia sedunia.

Kealpaan manusia semacam ini merupakan ketidaksadaran dirinya kalau dia dengan alam semesta, termasuk dengan hutan, adalah satu entitas yang saling meneguhkan. Mereka merasa bahwa dirinya dengan alam semesta seisinya adalah dua hal terpisah. Padahal pada hakekatnya tidak semacam itu. Manusia, yang oleh Heidegger disebut dengan daseign adalah bagian, bukan sebagai unsur terpisah, dari bumi. Meminjam istilahnya konfucius Tu wei-ming dalam Centrally and Commonality: An Essay on Confucian Religiusness (1989) kita manusia merupakan sebuah subsistem dari sistem bumi, bahwa kita bukanlah mahluk antroposentris, melainkan realitas antropokosmik. Paradigma berpikir semacam ini merupakan kritik pedas terhadap peradaban modern-positivistik yang cenderung memposisikan manusia sebagai subyek-pusat dan alam semesta sebagai obyek.

Kunjungan pangeran Charles ke Indonesia dalam rangka melihat proyek penghutanan kembali itu hendaknya menjadi  pelajaran bagi kita dan masyarakat dunia bahwa hutan adalah salah satu unsur vital dalam kelestarian alam semesta. Tanpa hutan bumi kita akan terancam musnah. Maka hutan Indonesia harus diselamatkan dari berbagai kejahatan, termasuk kejahatan negara-negara kapitalis-neoliberal yang paling banyak menyumbang kerusakan alam.

Muhammad Muhibbuddin Koordinator studi filsafat “Linkaran ‘06” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: