BERCERMIN PADA PEMILU AMERIKA

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

Pemilu Amerika Serikat sudah selesai. Pesta demokrasi di negeri Paman sam itu berhasil mengantarkan Barack Obama (47) sebagai pemenang (the winner). Obama, yang kini tercatat sebagai presiden AS ke 44 , memperoleh kemenangan telak (landslide).Dengan keberhasilan meraup 60 juta suara, Obama mampu mengkanvaskan lawannya, McCain yang hanya mampu memborong 54 juta suara. Pemilu AS 2008 ini nampak fantastik. Sebab, selain menghasilkan pemimpin dari kulit hitam pertama kali di AS, pemilu ini juga mampu meningkatkan pastisipasi publik. Partsisipasi pemilih dalam pemilu AS 2008 kali ini meningkat dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. Sekitar 135 atau 65 % warga AS memberikan suaranya pada pemilu tersebut. Antusiasme warga AS dalam keikutsertaannya mensukseskan pesta demokrasi itu ditunjukkan dengan mengularnya warga di berbagai TPS untuk memberikan suaranya. Tingginya antusiasme dan partisipasi publik itu menunjukkan bahwa pemilu AS mempunyai legitimasi kuat.

 

Faktor penentu

Keberhasilan pemilu AS 2008 kali ini merupakan poin tersendiri. Karena ia mampu “memikat” hati publik AS. Ada beberapa faktor  di dalamnya. Pertama, keinginan kuat bagi rakyat AS untuk menghadirkan perubahan. Amerika di bawah kepemimpinan George W. Bush ternyata mengalami degradasi di berbagai bidang, terutama di bidang politik dan ekonomi. Kebijakan politik Bush yang seringkali kontroversial telah merontokkan kewibawan dan reputasi AS di mata dunia.

Kebijakan mengenai perang Iraq dan Afghanistan menjadikan AS dikutuk sebagai negara agresor oleh masyarakat internasional. Ambruknya keidgdayaan AS itu semakin parah ketika sekarang AS dihantam oleh badai krisis moneter. Di samping cita-cita untuk mengembalikan reputasi AS di mata dunia, rakyat AS juga hendak segera keluar dari kungkungan krisis tersebut. Rakyat Amerika benar-benar sadar atas masalah yang dihadapinya. Mereka menggantungkan harapan masa depan Amerika, merangkai optimisme berubahnya situasi resesi ekonomi yang sedang mereka hadapi, perang tak berkesudahan dan banyak permasalahan lain yang mendera negeri super power itu. Untuk mewujudkan cita-cita itu, satu-satunya jalan adalah suksesi kepemimpinan melalui pemilu.

Kedua, karena faktor integritas kandidat. Dalam hal ini Obama adalah bintang yang mampu menyedot hati publik untuk berpartisipasi dalam pemilu. Ketika rakyat sudah mulai collap, satu-satunya jalan adalah menghadirkan sosok pemimpin yang mampu menciptakan perubahan dan perbaikan. Obama, dalam pandangan warga AS diyakini mampu mewujudkan keinginan rakyat AS itu. Sebagai intelektual sekaligus politisi, Obama dianggap mempunyai integritas tinggi hingga mampu merubah keadaan AS. Integritas ini sudah ditunjukkan oleh Obama sendiri ketika masih menjabat sebagai senator AS.

Saat dilantik sebagai senator pada tahun 2005, banyak masyarakat AS yang mulai memberikan perhatian serta pujian terhadap konsistensi sikap politiknya yang berpihak pada orang miskin di dunia (secara internasional). Banyak pihak menganggap kemuncullan Barack Obama, ibarat munculnya kembali John F Kennedy di masa hidupnya, bahkan kepopulerannya dinilai melebihi kepopuleran Bill Clinton dimasa berkuasa. Dengan integritas itu tidak heran kalau kemudian mayoritas warga AS berbondong-bondong ke TPS untuk memberikan suaranya kepada Obama.

 

Terkait dengan pemilu Indonesia

Melihat pemilu AS yang berhasil menarik dukungan warganya itu, kita bangsa Indonesia pun berhara-harap cemas. Sebab, sebentar lagi Indonesia juga akan melangsungkan pesta demokrasi 2009. Pertanyaannya adalah mampukah Indonesia menghasilkan pemilu yang didukung oleh sebagian besar warganya? Rasanya sulit untuk mengatakan “bisa”. Sebab, belum menjadi kenyataann pun, pemilu Indonesia sudah dihantam bau golput. Hal ini dibuktikan dengan hasil pilkada di berbagai daerah. Suara golput dalam pilkada-pilkada tersebut selalu mendominasi. Memang pemilu di Indonesia masih dalam tahap perencanaan. Pemilu ini masih dalam angan. Jadi masih terlalu dini untuk memastikan ya atau tidak.

Tapi maraknya golput di berbagai daerah ketika pilkada itu cukup dijadikan standar untuk membaca kemungkinan maraknya golput pada pemilu nanti. Sebab, pilkada adalah salah satu barometer yang riel bagi pemilu di tingkat nasional. Maraknya golput di berbagai daerah itu mengindikasinkan bahwa pemilu Indonesia terancam tidak mendapatkan partisipasi dari warganya. Ini jelas ancaman yang membahayakan. Sebab, kalau golput sampai menembus angka 70 %, seperti kata Gus Dur, pemimpin yang terpilih tidak akan mempunyai legitimasi masyarakat. Saat ini, publik justru terkesan cuek dengan pemilu.

Salah satu faktor terjadinya sikap apatis dan tidak bergairah masyarakat menyambut pemilu 2009 adalah karena tidak adanya perubahan dan perbaikan dalam kehidupan rakyat. Meskipun berulang kali diadakan pemilu, berulang kali berganti pemimpin, kenyataannya, kehidupan rakyat tetap terpuruk. Bahkan tak jarang para elit politik  justru banyak mengkhianati aspirasi rakyat. Mereka hanya mampu menebarkan janji-janji palsu. Kebanyakan mereka hanya sibuk mengurusi kemakmuran dan kesejahteraan diri, keluarga dan parpolnya. Korupsi, kolusi dan nepotisme juga semakin meningkat. Sangatlah wajar kalau masyarakat akhirnya jengah dan kecewa dengan perpolitikan nasional, termasuk dengan pemilu.

Sebenarnya kejengahan dan kekecewaan rakyat tersebut tetap bisa di atasi, kalau menjelang pemilu ini, masing-masing parpol memang melakukan rekrutmen kepemimpinan dengan baik sehingga mampu menghadirkan seorang tokoh pemimpin yang benar-benar berkualitas dan memikat.  Seperti yang telah terjadi di AS. Meskipun kondisi AS sekarang secara ekonomi tengah mengalami resesi, publik AS tidak merasa jengah atau pesimis terhadap pemilu. Karena pemilu AS mampu menghadirkan calon pemimpin nasional yang integritasnya tidak diragukan oleh publik AS. Kalau seandainya pemilu AS tidak menawarkan calon pemimpin yang dipandang berkualitas, mayoritas warga AS bisa dipastikan golput. Hal inilah yang sekarang belum dijumpai di Indonesia.

Penjaringan calon pemimpin nasional oleh parpol justru terkesan asal-asalan karena hanya mempertimbangkan aspek popularitas calon dan bukan integritasnya. Hal ini seolah meneguhkan bahwa pemilu Indonesia mendatang hanya akan menjadi pertarungan partai politik untuk meraih kekuasaan semata dan bukannya untuk menyelesaikan problem rakyat yang semakin menumpuk. Sebenarnya Indonesia bisa berkaca pada pemilu AS. Supaya ancaman meningkatnya golput di pemilu 2009 tidak menjadi kenyataan.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator studi filsafat “Linkaran ‘06” Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: