Catatan hari pahlawan , 10 Nopember 2008

HEROISME VERSUS TERORISME

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

Sepuluh November dalam kontek Indonesia telah disepakati sebagai hari pahlawan. Pembakuan hari pahlawan ini diasalkan pada sebuah titik sejarah yakni pertempuran heroik di Surabaya di awal kemerdekaan Indonesia. Surabaya pada waktu benar-benar berkobar menjadi kawah pertempuran pejuang versus kaum penjajah. Pertempuran dahsyat itu merupakan wujud loyalitas segenap elemen bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru saja diproklamirkan. Pada saat itu segenap unsur masyarakat mulai dari para kiai, santri, petani, pedagang  dan para pemuda, khususnya arek-arek Suroboyo, bersatu padu “membaptiskan” diri sebagai martir demi tegaknya kemerdekaan Indonesia. Peristiwa itu sampai sekarang masih terasa menggetarkan jiwa bila kita baca dengan penuh penghayatan.

Dari peristiwa itu, banyak para pejuang kita gugur. Atas kebesaran jasa dan pengorbanannya terhadap bangsa dan negara itulah, mereka kita sebut sebagai pahlawan. Pertanyaannya kemudian, apa itu pahlawan? Yang jelas tidak ada definisi baku tentang makna pahlawan, semua cenderung relatif, masing-masing orang mempunyai standar nilai, sudut pandang dan kapasitas intelektual sendiri-sendiri dalam menafsirkan pahlawan.  Seperti kata budayawan Emha Ainun Nadjib (2007) bahwa semua pihak terlibat dalam sejarah penafsiran, dengan segala kejujuran dan kecurangannya, dengan hati suci maupun nafsu.

Kata pahlawan sendiri berasal dari kata ”pahalawan”, yang berarti orang yang berhak memperoleh pahala. Jadi ketika seseorang mendapat pahala (upah yang besar), ia layak disebut sebagai pahlawan. Sebab, seseorang mendapatkan pahala, karena ia berjasa. Berjasa kepada siapa? Kepada pihak yang kemudian memberinya pahala. Merujuk pada istilah ini, term pahlawan, dalam perspektif strukturalisme adalah sebuah penanda (signifer).

Di balik penanda itu terkandung sebuah makna (signifed), nilai atau realitas berupa jasa, pengorbanan, loyalitas dan bahkan keberanian untuk membela kebenaran. Nilai keberanian, pengorbanan, dan membela kebenaran itulah yang disebut dengan nilai kepahlawan. Tapi bukan hanya itu, menurut Bambang Subiyakto (2006) satu unsur nilai kepahlawanan lagi yang perlu ditambahkan adalah bahwa perjuangan yang dilakukan adalah untuk kepentingan umum, atau untuk meningkatkanharkat kemanusiaan, dan memberikan dampak nyata pada masyarakat. Anehnya, dari sekian nilai peahlawanan itu hanya disandarkan pada masalah kemanusiaan dan bukannya pada masalah ketuhanan.

Versus terorisme

Kalau begitu bagaimana para teroris yang sangat gigih membela tuhan dengan tanpa ampun kerap kali membantai ratusan bahkan ribuan manusia? Sekarang ini, Indonesia tengah diramaikan oleh rencana pemerintah untuk mengeksekusi mati tiga terpidana bom bali:Imam Samudra, Amrosi dan Ali Ghufron. Mereka bertiga ini dikenal sebagai di antara gembong teroris di Indonesia. Mereka inilah yang kerap kali berseloroh memproklamirkan diri sebagai pembela tuhan, pembela syari’at, pembela agama tuhan dan sebagainya. Pertanyaannya sekarang, kenapa mereka disebut teroris dan bukannya pahlawan?.Tentu, di mata pendukungnya, mereka ditafsirkan sebagai pahlawan atau bahkan syuhada’, karena mereka dipandang sebagai mujahid-mujahid tuhan.

Pandangan seperti itu sah-sah saja. Tapi, standar kepahlawanan versus terorisme bukan masalah tuhan versus manusia, melainkan masalah konstruksi versus destruksi. Pembelaan terhadap tuhan tidak akan menjadi sebuah tindakan kepahlawanan kalau dari situ justru menimbulkan banyak kerusakan dan kehancuran bagi kehidupan manusia dan alam semesta. Hal yang perlu ditegaskan di sini adalah bahwa pembelaan terhadap tuhan tidak harus mengalahkan terhadap pembelaan terhadap nilai kemanusiaan. Nilai dan spirit ketuhanan selamanya harus diselaraskan dengan nilai-nilai kemanusiaan. tidak rasional, kalau ada orang dalam rangka membela tuhan, justru berbuat kejam dan sadis terhadap manusia lainnya.Sungguh absurd, kalau ada sekelompok manusia, dengan PDnya sebagai pejuang, atau dalam terminologinya Khalid Abu Al-Fadhl sebagai tentara tuhan, tapi justru suka menebar kebencian, pembunuhan dan kekerasan terhadap sesama manusia. Pembunuhan, kekerasan dan sejenisnya adalah cermin dari tindakan teror, meskipun ia diproyeksikan sebagai pembelaan terhadap tuhan. Kenapa? Karena ia melahirkan kerusakan dan destruksionisme terhadap kehidupan manusia lain.

Teror sendiri secara etimologis mempunyai arti merusak, menakut-nakuti dan memunculkan kekerasan dalam segala manifestasinya. Merusak, menakut-nakuti dan sejenisnya dalam hal ini, konteknya jelas kemanusiaan. Kemanusiaan pada hakekatnya adalah masalah ketuhanan juga. Sebab,nilai-nilai yang ada di dalam wilayah kemanusiaan, secara prinsipil adalah nilai-nilai ketuhanan. Sehingga memperjuangkan ketuhanan dengan cara membabi buta menghancurkan tatanan dan nilai kemanusiaan adalah sebuah paradok. Idealnya, membela tuhan itu jusru harus melahirkan beragam kemaslahatan dan keselamatan bagi seluruh nilai kemanusiaan. Pemahaman semacam inilah yang tak ada di otak para teroris.

 

Pahlawan untuk membarantas terorisme

Karena aksi terorisme sungguh membahayakan kehidupan, apapun alasannya, aksi ini harus ditumpas. Siapapun orang itu, apapun bangsa dan kelompok itu, kalau memang ia suka menciptakan kekerasan, teror dan suka berbuat sewenang-wenang terhadap sesamanya, maka ia harus tumpas. Termasuk maraknya gerakan radikalisme agama yang ditunjukkan oleh organisasi-oragnisasi garis keras, kebijakan mantan presiden AS George W.Bush menggempur Iraq dan Afganistan, pembunuhan aktivis HAM Munir adalah  kategori aksi terorisme. Karena jelas, mereka telah menimbulkan kerusakan, ketakutan dan kekerasan terhadap orang lain.

Dalam kontek lebih luas, makna teror ini juga bisa menyangkut tindakan-tindakan lain yang sama-sama destruktifnya seperti korupsi, pembalakan liar,legal logging, traficking dan sejenisnya. Para pelaku aksi-aksi itu juga teroris, sebab ulah mereka terbukti merusak dan mendehumanissasi kehidupan manusia lainnya.Akibat mereka, banyak kemiskinan, kelaparan, pengangguran dan kebodohan merajalela.Kalau di Indoensia memang diberlakukan hukuman mati bagi para teroris, maka para koruptor, para penjahat HAM, agresor, para pembalak kayu dan para germo hendaknya juga harus dihukum mati. Sekarang Indonesia sangat membutuhkan para hero atau pahlawan yang berani dan bisa menghentikan aksi para teroris tersebut.  

Muhammad Muhibbuddin adalah Koordiantor studi filsafat “Linkaran ‘06” Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: