“EKSEKUSI TINGGAL SATU JAM, TOLONG ANDA SIAP-SIAP”

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

Bunyi judul di atas merupakan pesan singkat dari petugas keamanan lapas Nusakambangan kepada almarhum ketiga terpidana mati—Amrozi, Imam Samudra dan Ali Ghufron alias Mukhlas—satu jam menjelang detik-detik kematiannya. Kita bisa membayangkan sendiri bagaimana rasanya, ketika kata-kata dalam surat itu ditujukan kepada kita? Kata-kata itu mencerminkan tragedi, horor dan ancaman menakutkan. Seseorang yang menganggap kematian sebagai tragedi, sudah bisa dipastikan kondisi jiwanya akan terguncang, jantungnya berdetak keras dan perasaannya bercampur aduk tidak karuan oleh kata-ata tersebut.

Di dalam kata-kata itu hanya ada satu tawaran:kematian. Di balik kata-kata itu hanya ada derap langkah malaikat maut yang semakin dekat untuk mewartakan ajal. Kalau ajal adalah satu-satunya pilihan, satu-satunya tawaran, tidak ada alternatif lain, siapa tak terguncang? Siapa tak merasa terteror? Itu jelas teror yang luar biasa mencekam. Seandainya kalimat itu berbunyi: ” satu jam lagi anda akan ditemukan dengan kekasih anda, tolong anda siap-siap” atau “satu jam lagi anda akan dilantik menjadi menteri, tolong siap-siap”, tentu akan membuat hati berdebar-debar bahagia. Tetapi ketika seseorang disuruh bersiap-siap untuk mati, diperintah bersiap-siap untuk menghentikan hidup di dunia ini secara paksa, bisakah ia menerima kenyataan itu?

 

Berkata “ya” kepada hidup

 

Apa yang dialami oleh Amrozi dkk adalah sebuah cermin afirmasi hidup. Afirmasi hidup ini, secara lantang, digaungkan oleh filsof eksistensialis, Nietzsche. Bagi Nietzsche hidup ini tidak lain adalah chaos, sebuah realitas penuh tragedi, absurditas, ironi, penderitaan dan marabahaya. Manusia sudah terlanjur hidup di dunia, mau tak mau harus menerima kehidupan chaos dan membahayakan itu. Manusia tidak bisa menghindar atau apalagi lari dari kehidupan yang mengerikan tersebut. Satu-satunya jalan adalah berkata “ya” (ja sagender) terhadap kehidupan itu sendiri.

Ketika manusia sudah bisa mengafirmasi kehidupannya yang penuh bahaya itu, barulah dia akan menemukan kenikmatan. “percayaalah padaku:rahasia untuk memetik buah paling besar dan kenikmatan tertinggi dari manusia adalah hidup dengan bahaya (gefahrlichleben)!. Kirimkanlah kapal-kapalmu ke samudra yang belum terpetakan! Hiduplah dalam perang melawan sesamamu dan dirimu sendiri”, begitulah “tausiyah” Nietzsche .

Amrozi dkk adalah potret manusia yang berada dalam kawah marabahaya. Ketika nyawanya sudah di ujung senapan para sniper, sementara mereka sudah tidak menemukan cara lain untuk menghindar: jalan hukum sudah mentok, lobi politik sudah tertutup dan energi untuk melawan sudah habis, satu-satunya jalan adalah berkata “ya” terhadap ancaman mati itu, tidak lain adalah mengafirmasi dan menerima kematian di depan mata tersebut. Barangkali kematian atau eksekusi mati itu oleh kebanyakan orang dianggap sebagai kekejaman, sebagai tragedi, penderitaan.

Tetapi, bagi orang yang sudah berada di tapal batas eksistensi, berada dalam kesadaran chaos, peristiwa itu dianggapnya sebagai sebuah seni hidup penuh kenikmatan. Orang tidak lagi terkungkung dengan beragam norma, agama, moral dan belenggu-belenggu lain di dunia. Ia sudah melampoi semua itu. Baginya yang ada adalah menikmati pergolakan hidup secara ritmis itu. Hidup dalam konsep sejarah sudah mereka lampoi dan selanjutnya adalah mengarungi arus hidup sebenarnya, sebuah hidup di luar sejarah.

Hidup manusia di dunia, seperti, Karl Jaspers adalah hidup dianggap sebagai kehidupan dalam “situasi batas’ (Grenzsituation). Situasi batas ini merupakan kondisi kehidupan yang tidak bisa dihindari. Situasi batas ini, jalan untuk manusia bereksistensi. Situasi batas itu sendiri, lanjut Jaspers, terdiri beragam bentuk dan peristiwa:kematian, kesengsaraan dan kesalahan. Dari sekian situasi batas itu, yang paling dramatis dan misterius adalah kematian.

Tentu saja kematian adalah sebuah tragedi, karena ia melahirkan perasaan takut dan ngeri. Tetapi sebagai batas eksistensi manusia, kematian juga mengandung energi sebagai penyempurnaan eksistensi manusia itu sendiri. Sebab, masih menurut Jaspers, keinsafan akan kematian serta merta mendesak manusia untuk hidup otentik. Keinsafan akan kematian yang tak terelakkan itu akan meneguhkan keberanian dan integritas. Ia akan menjadi pelecut untuk mempertebal dan memperkuat mental-spiritual manusia.

Ketika seseorang sudah dihadapkan pada kematian, dihadapkan pada tiang gantungan atau peluru senapan, kondisi mencekam semacam ini akan berbalik melahirkan ketegaran dan keberanian. Keberanian dan ketegaran di depan ngerinya kematian itu merupakan cermin ontentisitas diri manusia sendiri. Dalam tahap ini kematian justru menjadi gelanggang pembuktian diri manusia sebenarnya. Secara fisik jelas ini sebuah kesengasaraan. Tetapi kesengsaraan dalam situasi batas kematian itu sendiri merupakan proses pengutuhan dan pewantahan kehidupan manusia sebagai jalan untuk membuka dunia transensden. Inilah, barangkali yang ada di dalam diri Amrozi dkk. Di tengah ketidakberdayaannya menghadapi ancaman kematian itu, hanya ada ketegaran dan kepasrahan total untuk menerima letusan peluru sniper.

 

Selamat mengarungi samudra

 

Sungguh sebuah jalan terjal bagi Amrozi dkk. Tapi itulah nasib bagi mereka. Mereka seolah dituntut untuk mencintai nasib (amor fati) tragis itu. Dalam kehidupan masyarakat luas, kematian Amrozi dkk ini jelas melahirkan beragam sudut pandang penilaian. Di mata para “fans atau “muqollidnya”, Amrozi dkk tetap akan diidolakan sebagai syuhada’, mereka adalah para pahlwan pembela agama Tuhan. Sementara bagi mereka yang merasa dianiaya terutama dari keluarga korban bom Bali, akan tetap menganggapnya sebagai teroris sadis.

Semua penilaian itu, bagi Amrozi dkk barangkali sudah tidak memberi efek apa-apa. Amrozi dkk sudah tidak menggantungkan atau menyandarkan diri pada dermaga nilai dan sejarah apapun, baik dermaga pujian, cacian, etika dan kepentingan politik. Semua darmaga itu sudah ia hancurkan dan ia lenyapkan ketika peluru telah menembus jantungnya. Sekarang ia bebas mengarungi samudra luas yang tak bertepi dan tanpa darmaga. Rupanya, satu jam sebelum eksekusi itu adalah momen di mana Amrozi dkk tengah mempersiapkan kapalnya untuk mengarungi samudra yang belum terpetakan.

Pertanyaannya, akankah, di samudra itu, mereka bertiga bertemu dan bahkan saling gocoh dengan rombongan korban bom bali yang dulunya mereka bom? Ah, itu pertanyaan tak penting. Kita ucapakan saja kepada mereka semuanya, baik kepada Amrozi dkk maupun kepada para korban bom bali: selamat mengarungi samudra keabadian, requiem aeternam.

 

*Muhammad Muhibbuddin adalah koordinator diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Fak. Ushuluddin UIN Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: