BERGURU KEPADA KAUM DIFABEL

 

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

Kaum difabel secara konvensional dipahami sebagai kelompok penyandang cacat. Kelompok difabel ini umumnya adalah orang-orang yang tidak sempurna sistem dan struktur fisiknya. Mereka inilah orang-orang yang tergolong tuna:tuna netra, tuna rungu, tuna wicara dan sebagainya. Tetapi yang jarang diperhatikan oleh orang kebanyakan adalah bahwa rata-rata mereka juga mempunyai daya juang dan gairah hidup yang tak kalah besarnya dengan orang-orang “normal”. Hal ini terbukti banyaknya kaum difabel yang mampu melahirkan karya-karya besar dan prestasi-prestasi brilian. Mereka ada yang mampu bermain musik, menjadi atlit olahraga, melukis dengan kedua kaki, bahkan ada yang menjadi aktifis sosial dan pejuang kemerdekaan.

Dalam kontek Indonesia kita akan terkejut bila melihat orang-orang seperti Bambang Purwanto. Alumnus Sekolah Menengah Luar Biasa Yayasan Penyandang Anak Cacat Semarang ini secara luar biasa berhasil mengafal 300 lagu. Atas prestasinya itu, Bambang diberi penghargaan oleh Muri sebagai pria penyandang cacat mental pertama yang berhasil menghafal 300 lagu secara utuh. Mengingat kondisinya, bakat Bambang dalam hal tarik suara boleh dibilang fantastis. Sekilas orang tak akan menyangka dia adalah penyandang cacat mental. Penyandang cacat lain yang meraih penghargaan Muri adalah Andi Wibowo atas prestasinya di bidang seni lukis. Penyandang cacat kaki itu mampu melukis dengan dua tangannya sekaligus. Kemudian Gigih Prakoso yang menderita kelainan otak juga menerima penghargaan Muri atas prestasinya membuat pekerjaan keterampilan dengan kakinya. Penyandang cacat sejenisnya tentu masih banyak.

Begitu juga di luar negeri, seorang cacat asal Mount Libanon, berhasil menyabet penghargaan dari Guinness Book of Records atas prestasinya berkreasi dengan korek api. Toufic Daher, yang mengalami cacat akibat ditembak, berhasil menciptakan berbagai miniatur tempat terkenal di dunia. Seperti Kuil Romawi di Baalbeck, Libanon, Menara Eiffel di Paris, Prancis, lengkap lampu kecilnya dan miniatur kapal Titanic. Khusus yang terakhir ini Daher membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan detail kapal yang tenggelam tahun 1912 itu, yakni 1 tahun 6 bulan. Pasalnya, dia juga secara teliti dan cermat harus menyusun ke enam lantai di bagian dalam Titanic lengkap dengan meja dan kursi, serta tangga. Daher pun tak melupakan berbagai hal kecil seperti 2.100 lampu atau kabel listrik sepanjang 675 meter.

Sosok lainnya adalah Apolinario Mabini.Mabini adalah seorang difabel karena kakinya tidak bisa digunakan, hingga mesti ditandu. Namun dia menjadi idola masyarakat Filipina karena perjuangan revolusionernya melawan imperialisme. Dia merelakan untuk mendaki gunung dan keluar-masuk hutan demi memimpin perjuangan membebaskan negerinya. Mabini merupakan otak dari revolusi saat itu. Satu-satunya penulis sekaligus penggerak revolusi dengan pandangan yang cemerlang. Dia pula, orang yang paling konsisten untuk terus melawan penjajahan Amerika hingga harus diasingkan ke Guam.

 

Pejuang sejati

Sederet prestasi kaum difabel di atas, menunjukkan bahwa kaum difabel adalah sosok pejuang sejati. Meskipun berada dalam keterbatasan fisik dan ketidaksempurnaan jasmani, mereka ternyata tetap mempunyai semangat hidup yang tak kalah tingginya dengan orang-orang “normal”. Perjuangan mereka untuk hidup setara dan wajar dengan orang-orang normal tetap menyala. Filsof Thomas Hobbes pernah berkata bahwa manusia itu hidup dalam keadaan berjuang, sebab tanpa demikian manusia akan jatuh tersungkur di muka bumi. Apa yang dikatakan oleh Hobbes ini sungguh nampak dalam diri para penyandang difabel tersebut. Dengan segala prestasinya yang gemilang itu menunjukkan bahwa meskipun berada dalam keterbatasan, mereka tidak ingin hidupnya sia-sia, tersungkur di dalam tanah.

Mereka itulah barangkali yang dimaksud Nietzsche dengan manusia unggul. (Ubermensch). Ubermensch adalah cara manusia memberikan nilai pada dirinya sendiri tanpa berpaling dan menengok ke seberang dunia. Itu merupakan ajakan untuk mengafirmasikan hidup tanpa memberikan sisa pun untuk ditolak (St. Sunardi:1996). Pada level tertentu, para difabel itu telah mampu mengatasi dirinya dari segala kelemahan dan kesiaa-siaan. Mereka tidak menolak realitas dirinya yang cacat. Mereka tahu, sadar dan menerima segala bentuk cacat yang disandangnya itu. Tetapi mereka tidak menyerah begitu saja atas realitas yang menimpa dirinya. Mereka tetap semangat berjuang untuk melampoi dan menorobos realitas yang mengungkungnya. Justru dengan kecacatannya itu mereka terlecut untuk menjadikan hidupnya tetap bermakna. Prestasi yang mereka ukir itu merupakan wujud komitmennya untuk memberikan nilai terhadap hidupnya tersebut.

 

Guru untuk manusia “normal”

Para difabel tersebut sejatinya pelajaran berharga dari Tuhan untuk kita yang mengaku sebagai manusia “normal”tapi tidak membuahkan prestasi apa-apa.Untuk menangkap makna di balik itu semua sangat tergantung ketajaman akal dan hati nurani kita sendiri. Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari para difabel itu adalah kritik. Kalau mereka dengan keterbatasannya itu mampu mengukir prestasi gemilang untuk masyarakat, bangsa dan negara, maka prestasi apa yang sudah kita hasilkan sebagai manusia “normal”.Harus diakui bahwa banyak sekali orang yang secara fisik lengkap, namun prestasi kehidupannya tidak begitu gemilang. Mereka secara jasmani sempurna, namun prestasinya kalah dengan para penyandang cacat. Inilah barangkali yang disebut dengan orang rugi. Mereka mempunyai potensi tetapi tidak mampu memanfaatkannya untuk hal –hal yang positif dan bermanfaaat. Bahkan tak jarang mereka malah menggunakannya untuk berbuat destruktif.

Pelajaran penting lainnya adalah terkait dengan persoalan negatifitas. Bahwa ternyata, yang namanya keburukan atau negatifitas bukanlah sepenuhnya penyakit atau penghalang untuk menggapai kesuksesan. Kalau seluruh negativitas itu disikapi dengan benar dan proporsional, maka ia bisa diolah menjadi energi dahsat untuk merubah keadaan. Begitu pun dalam kehidupan sosial-politik yang lebih luas. Masalah kemisikinan, krisis dan bencana alam kalau dihadapi disikapi dengan benar, maka ia akan menjadi energi positiv untuk memperbaiki kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara secara total.

Kalau Indonesia sekarang masih belum bisa keluar dari jerat krisis, barangkali kita perlu bertanya sampai detik ini kita pandang sebagai apa krisis yang menimpa negara kita? Dalam hal ini kita memang perlu berguru kepada kaum difabel berprestasi di atas yang tidak memandang cacat sebagai cacat, tetapi sebagai spirit dan energi untuk melahirkan perubahan.

*Muhammad Muhibbuddin adalah koordinator diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Fak. Ushuluddin UIN Yogyakarta.

One Response to “BERGURU KEPADA KAUM DIFABEL”

  1. setiyowati nia Says:

    menarik sekali membaca artikel ini, jadi semangat lagi untuk memikirkan skripsi saya tentang difabel.Memang sudah saatnya kita “peduli”, sebenar-benarnya peduli bukan mengasihani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: