Catatan hari ulang tahun ICMI

ICMI DAN MASALAH INTEGRASI UMAT

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

 

Sejarah didirikannya ICMI, Desember 1990, adalah karena masalah integrasi umat Islam Indonesia. Ulang tahunnya yang ke-18 ini merupakan momentum yang tepat untuk merefleksi dan menggali inspirasi untuk membaca misi tersebut dalam kontek kekinian.

Para pemrakarsa dan pengusung pendirian organisasi intelektual itu adalah lima orang mahasiswa tehnik sipil angkatan 1987 yang bergabung dengan organisasi kerohanian Universitas Brawijaya, Malang: Erik Salman, Ali Mudakir, Mohammad Zaenuri, Mohammad Iqbal dan Awang Surya.

Para mahasiswa tersebut merasa prihatin melihat realitas umat Islam yang cenderung terfragmentasi dalam beragam wadah dan komunitas. Ada kelompok Paramadina Jakarta, Komunitas Salman Bandung, Jamaah Solahuddin Yogyakarta, Al-Falah Surabaya dan sebagainya. Tersebarnya umat Islam dalam berbagai wadah ini, dalam pandangan mereka, merupakan hal yang memprihatinkan. Seolah masa depan umat Islam berada dalam polarisasi yang sulit disatukan. Kalau tidak ada jembatan untuk mempertemukanya, itu akan mengganjal gerak umat Islam sendiri untuk turut serta dalam membangun bangsa dan negara Indonesia. Dari kegelisahan inilah mereka berinisiatif untuk membuat semacam simposium yang bisa mempertemukan dan menyatukan para intelektual Islam dari berbagai komunitas.

Simposium cendekiawan Muslim yang dilanjutkan dengan pembentukan ICMI itu, menurut M. Syafi’i Anwar memang sesuatu yang istimewa baik bagi pemerintah maupun umat Islam. Suasana pada tanggal 6-8 Desember 1990 itu, lebih menggambarkan ‘kemesraan” antara umat Islam dengan pemerintah, tepatnya antara cendekiawan muslim dengan birokrasi Orde Baru. Di sana, lanjut Syafi’i Anwar, 465 orang cerdik pandai Muslim dari berbagai aliran, kelompok, profesi dan warna politik menggelar simposium yang diharapkan memberikan sumbangan berharga bagi pembangunan dan masa depan bangsa.

Karena kedekatannya dengan Orde Baru itulah, ada sebagian pihak menilai bahwa ICMI adalah organisasi oportunistik yang konsentrasi utamanya adalah kekuasaan. Para aktivisnya, sengaja mendesign organisasi ini untuk menjalin keintiman dengan rezim Orde Baru demi mendapatkan secuil kue kekuasaan. Hal ini sealur dengan strategi politik Orde Baru pada waktu itu, yang dalam bahasanya Afan Gafar disebut dengan dengan politik akomodatif. Lewat politik akomodatif ini, Orde Baru hendak memperbaharui relasinya dengan umat Islam yang sebelumnya diposisikan sebagai kelompok ekstrim kanan.

Dari sisi normatif, misi ICMI sebagai pengikat seluruh golongan umat Islam itu bisa diapresiasi dan diperjuangkan terutama untuk era sekarang. Meskipun aksentuasi penyatuan ini pada level vertikal umat Islam. Sebab, realitas menunjukkan, umat Islam dalam proses pertumbuhannya tak lepas dari polarisasi idiologi dan politik. Kalau polarisasi ini dibiarkan, tanpa ada usaha dari sebagian pihak untuk menciptakan ruang kebersamaan, maka akan mengancam integrasi umat.

Ancaman integrasi umat ini selalu mewarnai kehidupan umat Islam di Indonesia. Bahkan di era reformasi ini, ancaman itu semakin mengalami eskalasi. Hal ini ditunjukkan dengan lahirnya beragam kelompok Islam baik yang beraliran liberal maupun konservatif. Lebih parah lagi dalam ranah politik. Paska runtuhnya rezim ORBA, umat Islam nampak turut larut dalam euporia politik tanah air. Bahkan para kiai pesantren yang dulunya dikenal sebagai pialang budaya, sekarang berubah menjadi pialang politik. Ini ketika melihat fenomena para kiai yang secara masif menghamburkan diri ke dalam ranah politik. Euporia politik ini mengakibatkan umat Islam semakin terfragmentasi.

 

Integrasi umat di era multi partai

 

Lahirnya budaya multi partai memang perlu disyukuri. Karena ini merupakan kekuatan penggerak untuk mempercepat proses demokratsiasi di Indoensia yang sekarang masih dalam keadaan transisi. Namun, kalau ini tidak disikapi secara dewasa dan rasa kebangsaan yang tinggi, lahirnya multi partai ini justru akan menjadi bencana bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Terkait dengan masalah ini, sedikit banyak keutuhan umat Islam di Indonesia akan terganggu. Ketika faktanya umat Islam Indonesia banyak yang ikut mendirikan partai atau berafiliasi ke dalam beragam partai, berarti peluang perpecahan semakin terbuka.

Cukup memprihatinkan, ketika kita melihat begitu banyaknya partai politik umat Islam yang akan ikut bertarung pada pemilu 2009 mendatang. Partai-partai yang berasaskan Islam seperti PKS, PBB, PPP, PKNU atau berasaskan Pancasila tapi lahir dari rahim umat Islam seperti PANdan PKB, adalah partai yang basis utamanya adalah masyarakat muslim. Parpol-parpol itu juga banyak yang melibatkan elit umat Islam. Hal itu bisa menjadi bumerang bagi persatuan umat Islam Indonesia.

 

Tantangan yang lebih berat

 

Berdasarkan cita-cita awalnya sebagai kekuatan integralisasi seluruh elemen umat Islam yang berbeda-beda tersebut, kalau ICMI memang masih menjunjung tinggi misi awalnya itu, era paska Orde Baru ini merupakan era yang lebih berat bagi ICMI dibanding saat Orde baru masih berkuasa. Di samping beragam kelompok aliran muncul, kultur multi partai seolah menjadi maenstream budaya politik pasca ORBA ini. Ketika umat Islam sudah sedemikian massifnya berbondong-bondong masuk ke dalam partai politik yang berbeda dan variatif, maka integrasi umat jelas sulit diwujudkan. Karena ketika umat Islam sudah bergelut dengan politik, yang mereka perjuangkan adalah kepentingan mereka masing-masing dan bukan lagi persaudaraan umat Islam. Fenomena semacam ini sudah sering terjadi dalam pentas politik umat Islam.

Tapi, yang menjadi persoalan utama sebenarnya adalah dari sisi internalitas ICMI sendiri. ICMI adalah organisasi yang mewadahi elit Islam. Robert Hefner (1995) melihat, di sana ada kegiatan kelas menengah Islam, terutama kelas profesionalnya, yang betul-betul mulai bergerak dibidang intelektual, profesional dan juga ekonomi dan politik. Tapi, anehnya ICMI sebagai komunitas kelas menengah Islam ini justru malah menjadi kelompok eksklusif yang terasing dengan masyarakat Islam secara luas dan universal.

Ketika berada dalam posisi terasing dan eksklusif semacam itu, ICMI bukannya menjadi kekuatan pemersatu, tetapi justru menjelma menjadi kelompok tersendiri yang terpisah dengan yang lain. Ia sendiri akhirnya tidak bisa akrab dan melebur dengan kelompok lain. Inilah tantangan terberat ICMI sebenarnya ketika memposisikan dirinya sebagai wadah untuk integrasi umat Islam. Kalau karakter ICMI memang seperti ini, maka wajar integrasi umat yang diidealkan ICMI hanya menjadi angan-angan kosong.

*Muhammad Muhibbuddin adalah direktur Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: