QURBAN DAN PEMANASAN GLOBAL

 

 

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

Nampaknya sudah menjadi tradisi yang sulit dirubah. Ketika momen Idul Adha datang,seluruh umat Islam di dunia beramai-ramai “membantai”hewan ternak:onta, sapi, kerbau dan kambing untuk ibadah qurban. Ibadah qurban semacam ini, kalau ditinjau dari sisi nilainya, barangkali sudah tidak diragukan kalau itu positiv. Karena di dalamnya mencerminkan semangat keihlasan dan kepedulian sosial yang tinggi.

Namun, sesuai dengan perubahan situasi zaman, qurban yang diimplementasikan dalam bentuk penyembelihan hewan ternak tersebut kini mengalami masalah serius. Masalah itu terkait dengan wacana akhir-akhir ini yang mengungkapkan tentang besarnya pengaruh konsumsi daging ternak terhadap eskalasi pemanasan global.Seperti laporan PBB yang dirilis Badan Pangan Dunia – FAO (2006) dalam Livestock’s Long Shadow – Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas penghasil emisi karbon paling intensif 18%), bahkan melebihi kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter) di dunia (13%). Peternakan juga penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan berkontribusi emisi 2,4 miliar ton CO2.

Ini tentu sebuah dilema. Bagaimana bisa sebuah ibadah yang diproyeksikan untuk menciptakan kemaslahatan justru melahirkan kemadharatan. Pada dasarnya hubungan permasalahan bukan terletak ibadah qurban an sich, melainkan pada aktualisasinya yang dipakemkan melalui penyembelihan binatang ternak. Secara tidak langsung, praktik ibadah ini ikut andil atas peningkatan pemanasan global. Dengan tidak adanya alternatif lain untuk praktik ibadah qurban itu, ibadah ini, konsekuensinya, menjadi pemasok karbon dioksida yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global.

Antara yang tetap dan berubah

 

Penyembelihan binatang ternak yang menjadi maenstream dalam ibadah qurban ini merupakan salah satu kegagalan umat Islam dalam menyikapi antara yang tetap dan berubah, antara yang abolut dan relatif, antara yang mutlak dan kondisional, antara normativitas dan historisitas. Dalam kontek qurban telah terjadi kesalahan yang fatal.Binatang ternak, yang sejatinya adalah aspek historisitas yang bersifat relatif, situasional, berubah sesuai dengan ruang dan waktu, telah dibakukan menjadi aspek qurban yang sifatnya mutlak, absolut dan normatif. Hingga sekarang belum ada hukum yang memperbolehkan umat Islam untuk berqurban selain dengan menyembelih hewan ternak. Kalaupun ada itu baru sebatas perpspektif dan seruan moral dari beberapa indifidu. Sehingga seolah penyembelihan binatang ternak sebagai wujud aktualisasi ritual qurban itu murni (pure) dari langit. Padahal aspek binatang ternak di sini justru fakta yang temporal dan historis dalam masalah qurban.

Fakta di atas tentu saja sebuah ironi. Sebab, ketika aspek agama yang relatif itu dimutlakkan hal ini justru tidak efektif. Agama akhirnya menjadi mandek. Aspek relatifitas dan profanitas dalam agama seharusnya disikapi secara wajar. Sebab, selain fitrah agama sebagai sesuatu yaang tidak mutlak sakral melainkan juga menyejarah, hal itu juga berfungsi untuk mendinamisir agama itu sendiri agar selalu aktual dan faktual di tingkat peradaban. Dengan mengabsolutkan unsur agama yang sebenarnya relatif itu justru menjadikan sebuah agama mati dan tidak up to date.

Ketika terjadi pemutlakan binatang ternak dalam praktik ibadah qurban tersebut, hal ini akan berrisiko tinggi ketika seperti sekarang ternyata binatang ternak sebagai penyebab terjadinya pemanasan global. Ini jelas tidak rasional dan immoral dan oleh karena itu kontradikitif. Sesuatu yang diwajibkan untuk dilakukan semestinya adalah sesuatu yang memang banyak maslahahnya. Tetapi dalam kontek korban ini justru sebaliknya, penyembelihan hewan qurban yang dimutlakkan itu justru lebih besar madharatnya yakni menimbulkan pemanasan global. Pertanyaannya, validkah sebuah produk hukum yang mewajibkan sesuatu dilakukan, tetapi ia justru menghasilkan dampak yang negatif. Secara yuridis maupun etis, pemutlakan hukum semacam ini jelas dengan sendirinya tidak berlaku lagi.

Sebab, dasar utama diciptakan hukum, dalam perspektif Islam adalah untuk menarik kemaslahatan (jalbul masholih) dan menolak kerusakan (dar’ul mafasid). Ketika sebuah produk hukum justru menimbulkan kerusakan maka, atas dasar ini, produk hukum itu dengan sendirinya menjadi runtuh. Kalau hukum qurban adalah wajib dengan menggunakan hewan ternak, sementara faktanya hewan ternak justru menimbulkan kerusakan, maka secara implisit hukum wajib itu menjadi batal.

Perlu ditinjau ulang

Melihat meningkatnya pemanasan global yang disebabkan oleh konsumsi daging ternak tersebut, sekarang praktik qurban perlu ditinjau ulang. Aspek qurban yang perlu ditnjau ulang, dan kalau perlu didekonstruksi adalah pada aspek pemutlakan atau absolutisasi penggunaan binatang ternak. Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa penggunaan binatang ternak untuk qurban bukanlah sesuatu yang mutlak, ukhrowi atau sakral melainkan sesuatu yang realtif, duniawi atau profan. Atas dasar ini, penggunaan binatang ternak dalam ibadah qurban bukan sesuatu yang wajib. ia bisa diganti dengan hal lain yang lebih efektif dan bermanfaat. Apalagi kalau diketahui bahwa binatang ternak ternyata turut menyumbang meningkatnya pemanasan global, maka penggunaan binatang ternak untuk qurban bisa jadi terlarang. Dalam hal ini perlu adanya reformasi ibadah qurban, bukan pada spirit ibadahnya, melainkan pada bentuk dan aktualisasinya.

 

 

 

Dr. Rajendra K. Pachauri, Ketua IPCC, pernah menekankan bahwa dua tahun ke depan merupakan masa tenggat penting untuk menghambat laju pemanasan global yang bergerak dengan sangat cepat. Pachauri akhirnya mengimbau masyarakat dunia dalam tingkat individu untuk tidak makan daging, cukup mengendarai sepeda dan hidup hemat

 

 

.

James Hansen, ahli iklim NASA, juga mengatakan bahwa kita telah berada di titik sepuluh persen di atas batas ambang kemampuan Bumi mencerna CO2. Artinya, kita telah melampaui titik balik. Ini menandakan bahwa pemanasan global adalah sebuah ancaman bagi kehidupan manusia di muka bumi. Karena penyebab utamanya di antaranya adalah konsumsi daging ternak, maka penyembelihan binatang ternak, sebagai maenstream aktualisasi qurban, perlu ditinjau kembali. Kalau tidak, maka praktik qurban ini justru akan menjadikan kehidupan di muka bumi sebagai korbannya.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator forum diskusi “Linkaran ‘06” Fak.Ushuluddin UIN Sunan kalijaga Yogyakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: