KEMBALI KE ADA, HEIDEGGER DAN KRITIK TERHADAP METAFISIKA BARAT

Oleh: Muhammad Muhibbuddin

 

 

A. Pendahuluan

 

 

Heidegger merupakan sosok filsof barat yang mempunyai andil besar dalam memperbaharui konsep metafisika Barat.Ia merupakan tipe sosok pemikir yang memiliki daya perenungan dan reflksi yang dalam. Metafisika Barat-modern yang eksis begitu lama telah ia selami begitu detailnya sehingga ia mampu menangkap sisi kelemahan dari konsep metafisika Barat tersebut. Proyek Heidegger untuk menggugat metafisika barat inilah yang pada akhirnya diteruskan oleh tokoh filsof dekonstruksi : Derrida.

 

Dasar filsafat Heidegger adalah fenomenologi. Filsafat ini ia geluti semenjak ia belajar di Universitas Freiburg, tempat dia mempelajari teologi dan filsafat skolastik. Fenomenologi sendiri pada awalnya sudah menyembul dalam pemikiran Franz Brentano. Hembusan pemikiran inilah yang kemudian dikembangkan secara fantastis dan dramatis oleh Edmund Huserl (1859-1938). Dalam ranah filsafat, fenomenologi ini merupakan sistem filsafat yang bertolak belakang dengan pakem filsafat sebelumnya. Fenomenologi memaklumatkan sebuah slogan “kembali pada kenyataan itu sendiri”. Dengan kata lain tunda dulu semua keputusanmu tentang kenyataan. Biarlah kenyataan atau istilah filsofisnya :fenomen, mewujudkan kebenarannya sendiri.

 

Fenomenologi menolak adanya anggapan atau pemikiran yang menyatakan bahwa obyek atau seluruh realitas di luar diri manusia adalah realitas yang terpisah dengan kesadaran manusia, sebuah realitas inhern dalam diri manusia itu sendiri. Manusia dengan dengan dunia di sekelilingnya adalah bukan realitas yang sepenuhnya terpisah, melainkan sebuah realitas yang interrelasi. Dunia manusia adalah dunia penghayatan (lebenswelt) dan bukan dunia pengamatan, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh sains. Oleh karena itu, manusia dengan dunia di sekelilingnya tidak bisa dipisahkan hingga menimbulkan jurang keberjarakan yang menganga, tetapi sebaliknya ia (manusia), antara kesadaran dengan dunia eksternalnya adalah entitas yang saling bergelut, saling menyapa dan saling mempengaruhi. Baik kesadaran maupun obyek eksternal bisa eksis kalau terjalin korespondensi dan komunikasi di antara keduanya. Sebuah pohon bisa muncul kalau memang ada kesadaranku muncul dan berdialog dengan pohon itu, begitu juga kesadaranku terhadap pohon itu bisa lahir kalau memang di dalam faktanya ada pohon yang menyapa kesadaran saya. Ini berarti bahwa antara kesadaran dengan obyek bukanlah entitas yang berjarak yang tak terjembatani, melainkan sebuah kesatuan yang terangkai dalam sistem relasi.

 

 

B. Heidegger Versus Metafisika Barat

 

 

Untuk memahami seperti apa metafisika yang diusung Heidegger sebagai antitesis metafisika Barat, maka harus diketahui terlebih dahulu sistem metafisika Barat yang menjadi sasaran kritik Heidegger. Untuk mengetahui anomali metafisika Barat ini dalam konteks tertentu seseorang memang harus “berguru” kepada Heidegger. Karena ia adalah orang yang pertama kali yang mempersoalkan tentang ontologi Barat-Modern yang telah eksis begitu lama sebagai dasar pemikiran Barat.

 

Dalam filsafat, metafisika juga populer disebut dengan ontologi. Kajian ontologi atau metafisika ini merupakan ranah yang untuk membincang dan menguak sang Ada.Orientasi ontologis-metafisis adalah mencoba untuk membongkar dan menangkap ada yang sebenarnya. Apa hakekat ada sebenarnya? Itulah pertanyaan pokok metafisika. Ontologi adalah ilmu tentang Ada (Being), yang menjadi sumber eksistensi segala sesuatu di dunia fenomenal yang diistilahkan dengan Mengada atau adaan (beings).

 

Filsafat Barat adalah hasil konstruksi dari sains yang memposisikan manusia sebagai mahluk transendental. Transendental artinya mampu menghindarkan diri dari dimensi sejarahnya untuk mencapai pengetahuan yang murni dan obyektif. Poin atau titik sentral yang menjadi orientasi filsafat Barat Modern adalah universalitas dan obyektivitas. Untuk mencapai titik itu, filsafat Barat telah menegasikan sejarah. Inilah sebenarnya salah satu persoalan ontologis atau metafisik Barat yang hendak diperkarakan oleh Heidegger. Bagi Heidegger yang dimaksud ada adalah ada dalam dunia. Dalam kontek ini ada perbedaan yang prinsipil antara konsep metafisika abad pertengahan dengan metafisika Heidegger. Kalau pada abad pertengahan, metafisika diasumsikan dan dipersipkan sebagai realitas yang berada jauh di seberang dunia ini atau realitas ketuhanan. Maka, sebaliknya dengan Heidegger, ia justru lebih sekuler (duniawi) bahwa ada bagi Heidegger berupa ada di dunia yang terlepas dari ruang ketuhanan.

 

Proyek gugatan ontologis Heidegger selanjutnya terhadap filsafat Barat adalah, selain menafikan sejarah atau unsur duniawi demi sejumput obyektifitas, filsafat barat yang lebih dipengaruhi filsafat Cartesian telah memposisikan manusia dengan alam di sekelilingnya secara diametrial. Manusia hanya berposisi sebagai subyek-pengamat dan alam di sekelilingnya dijadikan sebagai obyek yang diamati. Seolah-olah antara si subyek dan si obyek berdiri sendiri-sendiri dan terpisah sedemikian rupa sehingga nihil dialog, komunikasi dan korespondensi. Pola atau sistem eksistensi yang demikian ini melahirkan konsekuensi berupa lahirnya pola hubungan hirarkhis, pola hubungan atas bawah dan bukan hubungan dialogis fungsional. Dalam konteks ini jelas, manusia, yang diposisikan sebagai subjek ia menempati posisi sentral, superior dan atas sementara dunia eksternal manusia lebih diposisikan sebagai obyek yang menempati posisi lebih inferior dan rendah.

 

Melihat filsafat Barat-modern yang terjerembab dalam disparisitas atau keterpisahan antara subyek dan obyek ini, Heidegger menangkap bahwa ada yang salah secara fundamental dalam bangunan filsafat Barat. Apa kesalahan itu?. Kesalahan fundamnetal filsafat Barat, menurut Heidegger, adalah dilupakannya tentang Ada. Filsafat Barat selama ini miskin sekali konsep tentang ada, ia terjangkiti kelupaan Ada. Amnesia ontologis ini mengkibatkan filsafat Barat terlempar dari pertanyaan filsofis yang sesungguhnya. Ada, bagi Heidegger adalah sesuatu yang paling prinsipil dan fundamental, namun ini justru yang dilupakan dan dinihilkan dalam bangunan filsafat Barat.

 

Kelupaan tradisi filsafat barat menanyakan tentang Ada itu, terletak pada kelalaiannya membedakan antara “Ada” (Being) dengan “a” besar dan “adaan” (beings) dengan “a” kecil. “Ada” ditafsirkan sama dengan “adaan”(beings). Bagi Heidegger Ada adalah sesuatu yang universal yang mengatasi seluruh partikularitas. Ia adalah sesuatu yang mencakup dan melampoi seluruh adaan. Katakanlah bahwa rumah, manusia, hewan, meja, kursi dan sebagainya semuanya adalah “adaan”. Namun “Ada” sendiri bukanlah rumah, meja, kursi, manusia dan sejenisnya itu . Ia (Ada) meliputi semua “adaan”. Bagi Heidegger “Ada” pada hakekatnya adalah lebih fundamental dan lebih prinsipil dari adaan-adaan tersebut. Maka, dalam dunia filsafat, pertanyaan lebih efektifnya diarahkan pada sang Ada itu.

 

Pertanyaan filsafat Barat selama ini bertumpu pada konsepsi tentang “adaan” sebagai benda-benda diskriptif. Pada hal pertanyaan tentang Ada dengan adaan adalah sebuah konsep yang beda secara fundamental. Karena konsep tentang apa itu Ada jauh beda dengan konsep apa itu buku. Selama ini, karena kelupaanya itu, filsafat Barat menganggap bahwa ada adalah ada dalam adaan itu.

 

Sebagai akibat diabaikannya Ada, metafisika Barat cenderung meletakkan logika atau rasio sebagai pusat dari eksistensi. Segala sesuatu yang berada di luar diri manusia akhirnya dianggap sebagai manifestasi dan representasi dari rasio itu sendiri. Konsekuensinya adalah rasio atau logika menjadi tolok ukur bagi semesta fenomena yang ada dalam dunia eksternal. Kritik Heidegger terhadap sejarah ontologi menggugat posisi pikiran yang diletakkan sebagai subjek, pusat atau tolok ukur realitas. Adanya subyek yang menjadi pusat diabadikan oleh metafisika Barat dengan mengembangkan suatu pendekatan yang memprioritaskan logos atas segala-galanya. Dalam posisinya yang sudah menjadi logos ini maka pemikiran atau rasio tidak lagi menjadi salah satu aspek kebenaran yang sifatnya partikular, relatif dan menyejarah, tetapi lebih dari itu sudah menjadi konsep kebenaran yang universal, total mengatasi dimensi ruang dan waktu. Rasio atau pemikiran akhirnya menjadi kebenaran superior dan absolut yang akhirnya tercerabut dari dimensi sejarahnya. Karena ia tercerabut dari dimensi sejarahnya maka kebenaran rasio atau pikiran itu sulit untuk diutak-atik dan apalagi digugat.

 

Dalam sejarahnya, rasio, dalam filsafat Barat telah didaulat untuk selalu menghadirkan pandangan dunia. Pandangan dunia yang dijadikan itu akhirnya dianggap sebagai kebenaran yang utuh, absolut, nirwaktu dan nirruang. Ia menjadi semacam visi yang memberikan penerangan kepada manusia untuk mentransendensi segala bentuk keterbatasan yang diakibatkan oleh perbedaan oleh ruang dan waktu itu. Produk rasio yang abolut dan totalitas, yang dihadirkan menjadi logosentrisme itu akhirnya dipandang sebagai realitas obyektif dan tak dapat dijangkau tanpa bantuan rasio, logika atau akal budi.

 

Dalam kritiknya, Heidegger telah menabuh genderang perang terhadap rasio atau pemikiran yang terlanjur diabsolutkan tersebut. Dengan tegas ia menyatakan bahwa yang namanya rasio atau logos itu sendiri tidak bisa dilepaskan dari waktu (zeit) atau dimensi kemewaktuan (zeitlechkeit). Rasio atau logika adalah fakta yang berada dalam kungkungan ruang dan waktu, ia adalah barang yang menyejarah. Maka dari itu, sangat tidak mungkin apabila rasio atau pikiran terlepas dari dimensi kesejarahannya. Untuk merobohkan bangunan logosentrisme metafisika Barat ini, godam yang dipakai Heidegger adalah destruksi (destruction). Dengan “destruksi” ini Heidegger mulai mempesoalkan status ontos dalam filsafat Barat.

 

Upaya Heidegger untuk kembali memunculkan konsep Ada terlihat dalam konsepnya tentang Dasein. Dalam bahasa Jerman “Da” berarti di sana (ruang dan waktu) sedang “Sien” berarti ada. Sehingga Dasein berrarti “ada di sana’( ruang dan waktu). Bagi Heidegger analisis tentang Dasein ini merupakan ontologi yang lebih mendasar atau ontologi fundamental. Ontologi fundamental ini, lanjut Heidegger adalah lebih asali dan lebih prinsipil. Dalam kontek ini Heidegger membedakan dua analisis yaitu analisis ontologis dan analisis ontis. Analisis ontologis merupakan analisis yang diproyeksikan untuk Dasein sementara analisis ontis diproyeksikan untuk benda-benda selain Dasien. Bagi Heidegger, Dasein secara ontis sungguh sangat dekat sementara secara ontologis ia sangat jauh.

 

Pada analisis ontologis ini, pertanyaan yang mendasar bagi Heidegger adalah bukan terletak pada apa artinya menjadi ilmuwan atau agamawan atau filsof, melainkan lebih luas dari itu yaitu apa artinya ber-ada? Dengan demikian jelas bahwa berada yang dimaksud ini adalah berada dalam konteks makna Dasaein. Bagi Heidegger ada dalam Dasein adalah ada dalam dunia yang merupakan satu kesatuan. Artinya, realitas Dasein dan dunia sendiri tidak dipahami sebagai dua entitas yang terpisah dan berdiri secara bergadap-hadapan. Ada daalam Dasein sudah pasti ada dalam dunia, namun Dasein sendiri bukanlah benda-benda material yang ada di dunia seperti pohon, binatang, rumah dan sejenisnya.

 

Dasein

berbeda dengan benda-benda metarial itu, ia terus bergelut terllibat dan melibatkan diri, terpengaruh dan mempebgaruhi dengan alam di sekitarnya. Dasein. Keberadaan Dasein sendiri bukanlah seperti keberadaan air dalam ember yang bersifat empiris-obyektif. Keberadaan Dasein lebih bersifat faktisitas yaitu keberadaan dalam dunia sedemikian rupa ketika dasein memahami dirinya sebagai terkait dengan benda-benda lain. Dalam istilahnya Heidegger, Dasein hidup di dunia tidak diam begitu saja, tetapi ia justru mendunia. Dengan demikian meskipun ia secara ontologis-eksistensial berbeda dengan benda-benda partikular dunia, Dasein tetap sebuah realitas yang menyejarah. Konsep semacam ini merupakan kritik yang tajam terhadap metafisika Barat sebelumnya yang cenderung memisahkan diri dalam kategori subjek-objek. Dengan konsep Dasein yang eksistensinya menyejarah, meruang dan mewaktu namun ia sendiri bukan benda-benda yang ada dalam ruang dan waktu itu, berarti konsep oposisi biner seperti sobyek-obyek, superior-inferior, obyektif-subyektif dan sejenisnya menjadi runtuh.

 

Selain itu segala kepastian, absolutitas, universalitas dan obyektifitas yang telah ditegaskan oleh rasio dalam metafisika Barat akhirnya juga ikut luruh. Artinya kebenaran-kebenaran yang diusung oleh metafisika Barat sebelumnya yang berada di bawah panglima rasio Cartesian menjadi tidak berarti sehubungan dengan destruksinya Heidegger. Rasio bukan lagi menjadi pusat kebenaran melainkan bagian atau alternatif saja dari bangunan kebenaran itu. Begitu juga manusia, ia tidak lagi menjadi satu-satunya subyek dalam dunia. Kalau keberadaan Dasein merupakan keberadaan yang saling bergelut, mempengaruhi dan dipengaruhi antara Dasein sendiri dengan dunianya, maka di sini jelas tidak ada subyek-obyek yang jelas dan tunggal. Bisa jadi satu sisi sebuah unsur menjadi subyek namun pada posisi yang lain ia berubah menjadi obyek dan begitu sebaliknya.

 

Namun meskipun demikian, berhasilkah Heidegger dalam usahanya meruntuhkan metafisika Barat? Pada level kritik jelas ia berhasil. Namun pada level dekonstruksitf ia belum berhasil. Proyek destruksi Heidegger itu mencapai tahapannya yang paling radikal ada di tangan Derrida yang populer dengan istilah :Dekonstruksi. Bagi Derrida, usaha destruksi Heidegger kurang begitu berhasil karena di dalam konsepnya masih dibayang-bayangi logosentrisme yang ia kritik sendiri. Kalau destruksi hanya berupaya untuk mengkritik metafisika Barat, maka Deskonstruksinya Derrida tidak berhentu pada mengkritik, tetapi merombak dan mencari kontradiksi-kontradiksi yang inherren dalam bangunan tersebut lalu membiarkannya centang-perentang dan tidak memungkinnya dibangun kembali. Ibaratnya Heidegger hanya meruntuhkan bangunan dengan menggunakan batu yang sudah tersedia dalam bangunan itu, sedangkan Derrida sendiri hendak membongkar tanahnya sekalian, dengan cara meledakkannya dan membetot orang secara brutal ke luar serta mencanangkan pemutusan hubungan total.

 

Tetapi bagaimanapun juga harus diakui bahwa usaha Heidegger untuk menyingkap dan menggugat logosentrisme dalam metafisika Barat ini merupakan usaha yang patut dikagumi. Ia tidak hanya mampu menggugat paradigma Cartesian yang begitu lama menjadi rezim dalam filsafat Barat, tetapi lebih dari itu—dan ini yang paling urgen—membawa kembali filsafat Barat pada akarnya yakni ontologi. Filsafat Barat yang telah tercerabut dari akarnya, dengan ajakan Heidegger untuk mempertanyakan Ada, akhirnya bisa dipertemukan kembali. Selain itu, Heidegger juga bisa merehabilitasi konsep Ada yang dilupakan oleh filsafat Barat tersebut dan berhasil menampilkan konsep Ada itu dalam bentuknya yang baru.

 

 

DAFTAR PUSTAKA :

 

 

 

Lawlor, Leonard, The Basic Problem Of Phenomenology, Indiana University 2002

 

Al-Fayyadl, Muhammad, Derrida, LkiS Yogyakarta, 2005

 

Adian, Donny Gahral, Martin Heidegger, Teraju 2003

Pilliang, Yasraf Amir, Posrealitas-Realitas Kebudayaan dalam era Postmetafisika, Jalasutra, 2004.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: