IKLAN POLITIK DAN JARGON KEOTENTIKAN

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

Menjelang pemilu 2009 ruang publik kini dipenuhi berbagai iklan politik. Hampir tidak ada ruang publik yang sepi dari gempuran iklan-iklan tersebut. Televisi, koran, majalah, kalnder dan korek api banyak yang dihiasi dengan wajah calon presiden, calon legislatif dan partai politik yang beraneka ragam. Tempat-tempat umum seperti jalan raya, alun-alun, bioskop, pasar, halte bus, perempatan dan sejenisnya juga dipenuhi oleh berbagai gambar, bendera, umbul-umbul, baliho, pamflet dan poster para tokoh dan partai politik. Kepejalan iklan tersebut tak jarang mengganggu pemandangan.

Sebagaimana iklan lainnya, iklan-iklan politik itu juga dihiasi oleh kata-kata manis, jargon-jargon yang menyentuh hati dan slogan-slogan yang memikat. Kata –kata itu seperti”katakan TIDAK pada korupsi, korupsi bukan jalan menjadi kaya, tapi jalan menuju penjara”, “Rakyat tidak boleh hidup menderita”, “hidup adalah perbuatan” dan lain sebagainya. Dari fenomena iklan politik itu, permasalahan yang muncul adalah bahwa betapa hidup kita ini tengah dijajah oleh nilai-nilai citra, hipokrisi dan hal-hal yang sloganistik.

Iklan-iklan itu kini menjelma menjadi ruang umum yang bisa menyerap segenap diri dan perhatian indifidu masuk ke dalam eksistensinya palsu itu. Dunia kepalsuan yang membuat setiap diri terlarut inilah, oleh Heidegger disebut dunia mereka; sebuah dunia umum yang diproduksi dan dikendalikan oleh imperium citra dan tontonan keseharian (the empire of everyday seeing). Di dalam dunia tontonan ini, hubungan antara subyek atau indifidu dengan obyek iklan mulai berbalik. Subyek (masyarakat) yang semestinya bisa menguasai obyek (iklan), justru berbalik dikuasai oleh obyek itu sendiri. Obyek itu akhirnya berubah menjadi subyek yang mampu merumuskan, mendeterminasi dan mengkondisikan subyek atau masyarakat.

 

Jargon of Authenticity

 

Slogan –slogan kosong dan janji-janji palsu penuh citra itulah yang oleh Theodor Adorno (1983) disebut dengan jargon keotentikan (jargon of authenticity), yaitu kata-kata indah tentang keaslian dan keotentikan, di balik kenyataan tidak adanya keaslian dan keotentikan itu sendiri. Inilah ciri khas dunia citra. Dunia yang di dalamnya penuh dengan jargon-jargon kosong, janji-janji palsu dan slogan-slogan yang menyesatkan. Slogan-slogan itu diusung oleh para politisi dan partai politik bukan sebagai wujud idealisme yang hendak mereka implementasikan, tetapi hanya untuk menarik simpati masyarakat. Di dalamnya sama sekali tidak ada bukti konkrit alias hanya umbaran kata-kata hampa tanpa pernah menembus fakta.

Dunia kemudian tidak lagi otentik, karena penuh dengan simulakrum, kepalsuan dan imitasi. Ia seolah-olah (as if) ada, tetapi hanya penampakan yang menipu. Bahkan yang lebih naif dan ironis, kepalsuan, hipokrisi dan janji-janji palsu itu kini menutupi realitas. Dunia citra itu seolah hadir sebagai realitas. Kehadirannya sendiri, justru mendistorsi dan mereduksi realitas yang sebenarnya. Ketika dunia citra itu sudah sedemikian mendominasi, maka segalanya menjadi tumpang tindih: fiksi diyakini sebagai fakta, kepalsuan dianggap sebagai kebenaran, simulasi dianggap sebagai otentisitas. Sudah sulit dibedakan antara kedua entitas tersebut. Distingsi antara realitas dengan citra, fakta dan fiksi, otentisitas dan rekayasa telah luruh sehingga sulit diidentifikasi kategori-kategori asalnya.

Hilangnya garis damarkasi yang bisa membedakan antara keaslian dan kepalsuan tersebut membuat masyarakat sulit menemukan ukuran dan parameter untuk menetukan pilihannya. Masyarakat akhirnya merasa absurd sehingga tak sadar kalau di balik iklan-iklan politik itu banyak tokoh dan partai politik yang buruk dan korup. Dengan slogan-logan dan jargon-jargon yang seolah menjanjikan bukti konkrit itu, masyarakat banyak yang tertarik untuk memilihnya. Munculnya dunia citra yang dijejali oleh jargon-jargon kosong itu bisa menjadi kesempatan para politikus busuk untuk tampil sebagai pemimpin.

Dunia semacam itu merupakan berkah sendiri bagi para pecundang atau pahlawan kesiangan. Mereka inilah orang-orang yang pandai menebar janji, tetapi tidak pernah menepatinya. Ketika di hadapan publik mereka berjanji menciptakan kesejahteraan, kemakmuran, good governence, anti korupsi dan sebagainya. Semua ini mereka lakukan hanya sebatas jargon dan slogan belaka. Dalam realitasnya mereka sama sekali tidak mempunyai itikad baik (political will) untuk merealisasikan janji-janji itu.

 

Harus lebih waspada

 

Melihat begitu masifnya jargon keotentikan dan slogan-slogan kosong yang mulai mengepung kehidupan, maka ada baiknya kalau sekarang kita sebagai masyarakat lebih waspada untuk tidak menjadi korban politik verbal itu. Kehati-hatian dan sikap ekstra waspada itu kita tunjukkan dengan selalu berpikir jernih dan bersikap kritis dalam merespon fenomena tersebut. Seluruh jargon atau slogan yang keluar dari mulut besar para politikus atau partai politik mesti ditangguhkan terlebih dahulu. Sebagai indifidu atau masyarakat yang tak mau menjadi korban kebohongan para politikus di berbagai iklan itu, mulai sekarang yang harus tertanam dalam diri kita masing-masing adalah sifat tidak percaya. Bahwa apa yang selama ini dilontarkan dan digembar-gemborkan para politisi lewat iklannya yang intensif itu tidak lain adalah jargon kosong belaka.

Para politisi dan partai politik yang sekarang sedang giat-giatnya menggeber iklan itu adalah orang-orang atau lembaga politik yang sedang lapar dengan dukungan rakyat. Seperti yang terjadi pada pemilu-pemilu sebelumnya, mereka selalu bersusah payah mengelabui masyarakat untuk meminta dukungan. Dan kalau sudah berhasil merebut simpati masyarakat mereka sengaja lupa kepada rakyat yang mendukungnya itu. Fenomena buruk semacam itu sebenarnya sudah sering terjadi, tapi anehnya para politisi itu masih saja bisa menarik dukungan masyarakat. Ini menandakan bahwa kita sebagai masyarakat masih belum sadar sehingga mudah dibohongi. Daripada berkali-kali terjerembab pada jurang yang sama, lebih baik kita cuek saja terhadap iklan-iklan politik yang sloganistik dan penuh jargon keotentikan itu.

*Muhammad Muhibbuddin adalah direktur Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) dan koordinator komunitas studi filsafat “Linkaran ‘06” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: