Catatan hari anak nasional 23 juli 2007, PENDIDIKAN ANTI KEKERASAN UNTUK ANAK

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

 

Fenomena aksi kekerasan ternyata bukan hanya berlaku dikalangan orang-orang dewasa, namun juga mulai lazim berlaku dikalangan anak-anak. Hal ini dibuktikan dengan maraknya sejumlah tragedi tindak kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak kita. Anak-anak, yang kebanyakan usianya masih tergolong polos dan lugu, sekarang sudah mulai berani menjadi pembunuh. Taruhlah misalnya tragedi pembunuhan kemarin yang terjadi di Jepara, yang dilakukan oleh SL (10) terhadap temannya sendiri, Imam Maulana( 7 ) (Suara Merdeka,20/7/2007). Melihat tragedi tersebut, tentu menjadikan kita sangat terheran dan bertanya-tanya, sudah begitu parahkah kenakalan anak-anak kita, sehingga sampai berani melakukan tindak kriminal yang tergolong tinggi? Bagaimana mungkin, anak seusia itu sudah berani menjadi pemangsa bagi teman sepermainannya sendiri.

Hal tersebut harus menjadi perhatian yang serius bagi kita, khususnya para orang tua, guru dan pemerhati anak, untuk lebih bisa mendidik anak-anak kita ke arah yang lebih baik. Sebab hitam putihnya jiwa anak, baik buruknya moralitas anak, halus kasarnya karakter anak sedikit banyak terbentuk oleh sistem pendidikan yang berlaku di sekolah, keluarga dan masarakat kita. Tokoh filsafat aliran empirisme, John Lock, dalam teori tabularasanya mengatakan bahwa, sejak lahir jiwa manusia adalah kosong seperti kertas putih, pengalaman kehidupan dan pengaruh lingkunganlah yang mengisi jiwa yang putih itu. Atas dasar ini pendidikan merupakan faktor yang sangat signifikan dalam mempengaruhi jiwa anak-anak kita, karena apapun jenis pendidikan merupakan bagian pengalaman yang integral dengan jiwa anak-anak kita.

Oleh karena itu, harus kita akui bahwa maraknya tragedi kekerasan yang sekarang melanda anak-anak kita ini, merupakan cermin bobroknya sistem pendidikan kita. pendidikan kita sekarang lebih mempertontonkan fenomena kekerasan terhadap anak-anak kita. Dunia pendidikan, yang seharusnya menjadi tempat menanamkan moralitas dan semangat kemanusiaan justru lebih berfungsi sebagai tempat penggodokan para algojo yang lebih mengedepankan okol daripada akal. Dengan semangat okol inilah, institusi pendidikan menjadi sangat rentan dengan budaya kekerasan.

Maka dari itu, kekerasan yang sekarang dipraktikkan oleh anak-anak kita, pada hakekatnya adalah imbas dari pendidikan kekerasan tersebut. Dalam hal ini, menurut analisis Abdurrahman Assegaf (2004) bahwa kekerasan pendidikan yang terjadi dikalangan anak-anak ini muncul dari dua sumber yakni dari kondisi internal pendidikan dan eksternal pendidikan. Pertama adalah kondisi internal pendidikan, yaitu faktor pendidikan formal yang berpengaruh langsung pada prilaku anak-anak. Hal ini disebabkan oleh pola dan sistem pengajaran yang diterapkan dalam sebuah lembaga pendidikan formal lebih mengandalkan pendekatan kekerasan daripada sentuhan-sentuhan perasaan dan pendekatan rasionalits. Seperti yang terjadi di akhir 1997, disalah satu SDN di Pati, seorang ibu guru kelas IV menghukum murid-murid yang tak mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke tangan siswa. Di Bengkalis, Riau, seorang guru SD Lubuk Gaung menghukum muridnya dengan hukuman berlari keliling lapangan dalam kondisi telanjang bulat.

Bahkan masih melekat dalam ingatan kita atas tewasnya Cliff Muntu, praja IPDN yang meninggal dunia akibat dianiaya oleh seniornya. Bentuk-bentuk kekerasan ini secara langsung telah mempengaruhi jiwa anak didik yang menjadi obyek atau sasaran penerapan kekerasan itu sendiri. Disadari atau tidak, karena berlaku dilingkungan pendidikan, maka fenomena kekerasan pendidikan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan sah-sah saja, apalagi kalau penerapan kekerasan itu berpretensi untuk menegakkan praturan dan kedisiplinan institusi, maka kekerasan bukan hanya dianggap sesuatu yang sah, tetapi sesuatu yang wajib.

Sementara yang kedua adalah kondisi eksternal pendidikan. Kondisi eksternal pendidikan ini merupakan segala sistem sosial –budaya yang berada di luar institusi pendidikan formal, namun, secara implisit juga menjadi sarana pendidikan anak-anak kita. Sistem terkecil dari kondisi eksternal ini adalah lingkungan keluarga. Keluarga merupakan dunia yang paling intensif bagi anak untuk melakukan interaksi dan komunikasi. Maka proses interaksi keluarga inilah yang menjadi ajang pendidikan non-formal bagi anak. Segala ucapan, tindakan dan aktifitas keluarga menjadi fenomena yang mudah diserap dan ditiru oleh anak-anak. Sehingga apabila lingkungan keluarga sudah dihiasi dengan kekerasan maka kekerasan keluarga inilah akan mudah ditiru oleh anak.

Sistem lainnya adalah lingkungan masarakat anak secara umum dan kompleks. Dalam sistem ini, unsur- unsur pendidikan non-formal yang menjadi ajang peniruan anak-anak adalah bentuk-bentuk media telekomunikasi seperti TV, VCD, Koran, majalah dan sejenisnya. Dalam kehidupan sehari-hari media telekomunikasi kita, seringkali, secara vulgar, menampilkan fenomena-fenomena kekerasan seperti tawuran, pembunuhan, pemerkosaan dan sejenisnya. Yang mana fenomena-fenomena tersebut membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap anak –anak kita. Segala fenomena kekerasan yang tampil di media masa mudah diikuti oleh anak-anak. Kita mungkin masih ingat atas terjadinya tragedi smack down terhadap beberapa anak pada waktu lalu, ketika acara ini masih menjadi acara regular salah satu stasiun TV swasta.

Oleh karena itu, untuk mencegah atau menghentikan laju tindak kekerasan di kalangan anak-anak kita, maka harus ada perbaikan dalam sistem pendidikan kita baik yang berada dalam institusi pendidikan formal maupun diluar pendidikan formal. Pola pendidikan yang harus kita tanamkan dalam diri anak-anak kita adalah pendidikan yang menekankan budaya anti kekerasan. Sehingga, melalui pendidikan anti kekerasan ini, anak-anak kita nantinya bisa terhindar dari budaya kekerasan yang membahayakan itu. Nilai-nilai moralitas dan humanisme seperti toleransi, gemar menolong, mengasihi terhadap yang lain dan sejenisnya harus ditanamkan dalam diri anak-anak kita sebagai bagian pokok dari proses pendidikan.

Dalamm proses pendidikan itu, supaya anak-anak kita terbiasa hidup damai dan penuh kasih sayang, tidak cukup kita dengan melalui pengajaran secara normativ dan diskursif, melainkan harus melalui praktik kehidupan sehari-hari. Sebab, apabila anak-anak diajarkan kasih sayang melalui mata pelajaran di kelasnya saja, namun dalam praktik kehidupan sehari-harinya, masih dijumpai guru atau unsur civitas akademika lain yang berlaku kasar dan keras terhadap para anak didik, maka ajaran kasih sayang itu hanya akan menjadi wacana. Begitu juga meskipun, dalam keluarga, orang tua selalu menceramahi anaknya untuk hidup rukun, namun apabila setiap harinya orang tua terebut suka bertengkar maka yang akan ditiru adalah praktik bertengkarnya itu.

Selain langkah-langkah di atas, hal yang tidak boleh dilupakan adalah orang tua harus aktif mengontrol terhadap materi bacaan, tontonan dan mainan anak-anaknya. Materi-materi tontonan atau bacaan yang penuh nuansa kekerasan harus dijauhkan dari kehidupan anak-anak sebagai pendidikan untuk mencegah anak-anak dari tindak kekerasan. Jadi intinya adalah pendidikan kita, yang selama ini penuh aroma kekerasan dan bar-barisme, harus kita reformasi menjadi pendidikan yang humanis dan penuh kasih sayang.

*Muhammad Muhibbuddin adalah pegiat forum kajian filsafat “Linkaran ‘06” dan koordinator Jaringan Islam Kultural (JIK) Yogyakarta

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: