PESANTREN NUSANTARA DAN BUDAYA LOKAL

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

 

Secara sosiologis-antropologis, wajah Islam nusantara merupakan hasil dari akulturasi nilai-nilai Islam yang universal dengan budaya lokal nusantara. Hal ini tidak bisa lepas dari usaha para penyebar Islam nusantara, khususnya para wali songo, yang lebih mengedepankan prinsip dialog dalam melakukan dakwah di dalam masarakat. Dialog di sini bukan hanya terbatas pada aktifitas komunikasi atau hubungan sehari-sehari dengan masarakat setempat, namun yang lebih penting adalah terjalinnya dialog budaya setempat yang sudah lama eksis dengan nilai-nilai normativ Islam yang datang belakangan.s

Seiring dengan perkembangan Islam di nusantara, munculah yang namanya pesantren sebagai pusat kegiatan keislaman. Eksistensi pesantren sebagai pusat penyiaran Islam di Indonesia atau nusantara tersebut, secara otomatis, nilai-nilai Islam yang berlaku dan berkembang di dalamnya adalah nilai-nilai Islam nusantara juga, yakni Islam yang terbentuk dari perkawinan nilai-nilai asli Islam itu sendiri dengan nilai-nilai budaya lokal. Dengan demikian, eksistensi pesantren, selain berfungsi sebagai pusat penyiaran dan pendidikan Islam juga telah menjadi pusat kebudayaan lokal nusantara. Dengan berfungsinya pesantren sebagai pusat kebudayaan lokal nusantara ini, secara otomatis pesantren juga mempunyai peran yang signifikan dalam penjagaan dan pelestarian tradisi budaya lokal.

Salah satu buktinya, yang sampai sekarang masih berlaku di pesantren-pesantren salaf nusantara di Jawa, adalah sistem atau metode pengajaran kitab kuning-literatur pesantren-di dalamnya yang menggunakan bahasa lokal yakni bahasa jawa. Meskipun mayorits literatur pesantren nusantara adalah kitab-kitab klasik yang berbahasa arab, namun dalam praktik memaknai (ngasahi) kitab-kitab tersebut telah memakai pengantar bahasa Jawa. Dalam aspek budaya lain, misalnya, sekarang ada pesantren-pesantren Jawa yang mengadopsi kesenian-kesenian lokal seperti Wayang, Ketoprak, Gamelan, Jatilan dan sejenisnya sebagai bagian dari aktifitasnya.

Hal itu seperti yang ada di pesantren API Tegal Rejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren hasil peninggalan KH.Khudlori ini setiap kegiatan akhir tahun (akhir sanah) selalu menampilkan kesenian-kesenian lokal tersebut, disamping acara pengajian umum yang menjadi acara pokok. Bahkan ketika acara halaqoh yang dimotori oleh Wahid Institue di pesantren API ini, telah diadakan pentas seni lokal sebagai acara puncak halaqah tersebut. Hal-hal seperti ini juga berlaku dipesantren nusantara yang lain. Di pesantren al-Munawwaroh Ciganjur, yang berada dibawah pimpinan KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering diadakan pentas kesenian rakyat seperti wayang dan sejenisnya.

Budaya –budaya lokal nusantara tersebut, yang telah menjadi ciri khas pesantren dan Islam nusantara, sekarang menghadapi ancaman serius seiring dengan munculnya globalisasi. Globalisasi yang secara empiris telah melenyapkan batas-batas wilayah atau territorial antar negara, pada praktiknya telah berpotensi melenyapkan berbagai keberagaman budaya, bahasa dan tradisi sebuah masarakat. Munculnya globalisasi budaya kini tak disadari telah menggerus dan menggrogoti budaya-budaya nusantara tersebut. Taruhlah misalnya bahasa daerah. Sekarang banyak bahasa daerah yang terancam punah.

Departemen pendidikan nasional telah mencatat, hingga kini terdapat 746 bahasa daerah yang teridentifikasi, namun 10 diantaranya masuk kotak alias punah. Padahal menurut Prof. Dr. Arif Rachman bahasa adalah salah satu tonggak kebudayaan, ia memegang peran penting dalam masarakat, bahasa sangat berharga dalam kehidupan manusia karena mengandung falsafah. Fenomena kepunahan budaya lokal ini tentu bukan hanya terjadi terhadap bahasa, melainkan juga terhadap jenis budaya lokal yang lain. Taruhlah misalnya wayang kulit. Sekarang popularits wayang kulit kalah dengan sepak bola, gamelan kalah dengan pertunjukan musik rock. Generasi sekarang pun sudah sangat enggan untuk mempelajari pewayangan dan gamelan dengan segala nilai filosofisnya.

Melihat budaya lokal yang terancam punah tersebut, merupakan sesuatu yang sangat menkhawatirkan. Karena budaya lokal, selain menjadi identitas kebangsaan kita, ia juga merupakan aset kekayaan kita yang luar biasa besarnya. Didalamnya terdapat nilai-nilai eksotis- filosofis yang sangat berharga bagi proses kehidupan. Maka mematikan budaya lokal, bukan hanya membuat kita tercerabut dari akar budaya kita, tapi juga kita akan kehilangan sebagian falsafah hidup kita. Dalam konteks nasional, ia merupakan bagian integral dari sistem dan ketahanan nasional kita.

Ditengah menguatnya globalisasi budaya yang menggiring budaya lokal pada jurang kepunahan inilah, peran pesantren nusantara sebagai lembaga yang mengakar dimasarakat hendaknya meningkatkan fungsinya sebagai pusat pelestarian dan pengembangan budaya lokal yang tersebar di santero nusantara. Untuk mengimplementsikan peran ini, pesantren harus terus menerus pandai membumikan ajaran-ajaran Islam yang universal tersebut sesuai dengan kondisi budaya lokal nusantara seperti yang telah dipraktikkan oleh para wali songo ketika pertama kali menyebarkan agama Islam di nusantara.

Konsep pribumisasi Islam yang dulu pernah diintrodusir oleh Gus Dur, sekarang harus kita apresiasi secara konkrit. Inti pribumisasi Islam ala Gus Dur (1999) adalah tuntutan membalik arus perjalanan Islam di negeri kita, dari formalisme bebrbentuk’arabisasi total’ menajdi kesadaran akan perlunya dipupuk kembal akar-akar budaya lokal an kerangka kesejarahan kita sendiri, dalam mengembangkan ehidupan beragama Islam di negeri ini.

Seperti yang dikatakan oleh almarhum Nurkholis Madjid bahwa, pada prinsipnya, nilai Islam adalah nilai yang generis. Artinya, pada tahap implementasinya, nilai Islam akan selalu relefan dan fleksibel sesuai dengan ruang dan waktu tertentu. Dengan demikian masarakat pesantren sekarang harus akrab dengan budaya-budaya lokal setempat dan mencoba mengkolaborasikan dengan nilai-nilai Islam yang generis itu. Maka sangat tepat apabila, waktu kemarin, puncak acara halaqoh yang dimotori oleh Wahid Institue di pesantren API Tegal Rejo Magelang dimeriahkan dengan pentas seni lokal-tradisional. Acara seperti ini hendaknya terus diintensifkan untuk lebih mengakrabkan budaya-budaya lokal dengan omunitas pesantren.

Dengan demikian pesantren nusantara hendaknya menjauhi praktik purifikasi atau ajaran pemurnian Islam seperti yang dugaungkan oleh gerakan Islam puritan selama ini. Karena selain faktor globalisasi, punahnya budaya lokal juga disebabkan oleh purifikasi Islam. Sebab target gerakan Islam purifikasi ini adalah membersihkan Islam dari budaya-budaya lokal yang diklaimnya sebagai takhayul, bid’ah dan khuraofat. Munculnya gerakan Islam puritan sekarang ini merupakan imbas dari gerakan revivalisme di Timur tengah , khususnya di Arab Saudi yang dipelopori oleh Muhammad bin abdul Wahhab (1703-1992). Gerakan inilah yang selanjutnya disebut dengan gerakan Wahabi, yang lebih bercorak fundamentalisme radikal.

Menurut Al-Zastrouw NG (2006) karakteristik Islam fundamentalis –radikal tersebut adalah pertama, bersifat ideologis dalam arti bahwa ia berpretensi melakukan proses Islamisasi secara radikal dan tidak memiliki kepekaan serta concern terhadap tradisi lokal dan realitas sosial. Ke dua, gerakan ini anti dialog dan eksklusif dan ke tiga, gerakan ini tidak memberikan kesempatan dan ruang pada tradisi dan nilai-nilai lokal karena hal ini dianggap membelokkan ajaran Islam.

Dengan demikian pesantren nusantara, yang sejak berdirinya didesign untuk menampilkan Islam yang kolaboratif dengan budaya lokal, hendaknya didukung eksistensinya. Jangan sampai pesantren nusantara, dengan corak keislamannya yang khas tersebut tergerus oleh arus globalisasi budaya dan gerakan puritanisasi Islam yang selama ini telah melebarkan sayapnya ke pelosok-pelosok desa yang menjadi basis pesantren nusantara tersebut.

*Muhammad Muhibbuddin adalah pegiat forum kajian filsafat “Linkaran ‘06” dan koordinator Jaringan Islam Kultural (JIK) Yogyakarta

 

 

One Response to “PESANTREN NUSANTARA DAN BUDAYA LOKAL”

  1. assalamualaikum wr.wb
    salam kenal dari ana ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: