REVITALISASI STUDI FILSAFAT DI ERA VIRTUALITAS

Oleh : Muhammad Muhibbbuddin

 

 

Sirkulasi informasi, budaya dan ilmu pengetahuan yang tanpa batas, sekarang ini telah menjadi pemicu terjadinya persilangan, persinggungan, perselingkuhan bahkan penjajahan antar negara tanpa adanya distorsi dari pihak manapun termasuk dari negara sendiri. Perubahan yang cepat tanpa batas tersebut membuat jarak dan waktu menjadi kian relative. Dunia kita yang kita pandang sebagai entitas yang besar ini sekarang menjadi terlipat, sehingga kehidupan berjalan semakin bebas dan liar, menembus sekat-sekat ruang dan melampoi batas-batas kebudayaan

Perubahan ini akhirnya juga membawa konsekuensi pada tata nilai masarakat. Persilangan dan persinggungan budaya global yang bebas dan tanpa mengenal batas tersebut akhirnya menyebabkan terjadinya pembauran budaya global yang saling mempengaruhi. Dampaknya diantaranya adalah terjadinya pergeseran pola pikir dan pola hidup masarakat modern. Otoritas nilai, budaya, paradigma, pandangan hidup, dan ilmu pengetahuan masarakat modern, yang dulunya dianggap sebagai kebenaran tunggal dan mutlak, sekarang menjadi luntur dan relatif

Dunia Virtual dan implikasinya

 

Relatifitas yang bersumber dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, sekarang tampak semakin relatif dan bahkan absurd, di dalam dunia baru manusia modern yakni dunia virtual. Dunia virtual merupakan hasil dari simulasi dan konstruski kecanggihan teknologi, khususnya teknologi informasi seperti halnya internet. Ruang virtual yang tercipta, pada hakekatnya adalah dunia maya (cyberspice), namun itu akan menjadi tempat kita berada atau bereksistensi ketika kita sedang berlang-lang buana, mengarungi lautan informasi global.

Munculnya dunia virtual tersebut bukan hanya menjadikan manusia bisa melipat-lipat dan menjelajah dunia, namun lebih dari itu-dan ini yang sering terjadi di era sekarang- dijadikan oleh manusia untuk mendistorsi, mencipta, bahkan memanipulasi realitas yang sebenarnya. Dunia yang sebenarnya atau realitas yang benar-benar terjadi menjadi tertutupi, tergantikan dan terdistorsi oleh dunia virtual. Hal ini karena dunia virtual sangat berpotensi untuk menciptakan citra, kesan atau imgology terhadap masarakat sehingga dengan pencitraan dan imagology yang bersemayam di dalamnya, realitas yang tercipta oleh citra atau imagology tersebut adalah realitas palsu baik itu berupa informasi, ilmu pengetahuan dan sebagainya.

Segala informasi atau realitas alam virtual tersebut, merupakan hasil pencitraan yang sama sekali tercerabut dan terputus dengan realitas yang sesungguhnya. Inilah yang dinamakan dengan hiperrealitas. Hiperrealitas, seperti yang dijelaskan oleh Jean Baudrilllard di dalam Simulations (1983) adalah penciptaan model-model kenyataan yang tanpa asal usul atau refrensi realitas. Jadi ini merupakan sebuah perekayasaan sebuah realitas sesungguhnya. Seseorang, lewat kecanggihan media inforamsi dan telekomunikasi bisa menyulap sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang baik dihadapan publik atau sebaliknya. Bisa jadi seseorang yang aslinya adalah germo, maling atau koruptor , namun dalam dunia virtual dia bisa dijadikan seorang wali, pahlawan atau bahkan nabi oleh masarakat umum melalui pencitraan dan prekayasaan diri tokoh tersebut Atau sebaliknya seseorang yang aslinya sangat penyayang, bijaksana, humoris dan suka damai namun didalam image atau kesan masarakat dia menjadi orang atau sosok yang keras, ganas, haus darah, bar-bar dan sejenisnya. Hal ini merupakan hasil pencitraan dan perekayasaan realitas orang tersebut lewat teknologi yang sengaja dilekatkan dalam diri masarakat melalui publiksasi dan sosialisasi media.

Kasus semacam itu tentu sangat menipu, karena ia tidak berpijak pada realitas yang sesungguhnya, bahkan menjadi realitas ke dua atau simulakrum. Simulakrum menurut Yasraf A. Piliang (2005) adalah realitas yang nampak tampil seperti realitas yang sesungguhnya, pada hal ia adalah realitas artificial, yaitu realitas yang diciptakan oleh teknologi simulasi, sehingga pada tingkat tertentu realitas media ini tampak (dipercaya) sebagai lebih nyata dari realitas yang sesungguhnya.

Urgensi studi filsafat

 

Disinilah perlunya studi disiplin filsafat. Mudahnya teknologi menciptakan dunia virtual, yang di dalamnya terkandung banyak jenis-jenis simulakrum maka secara otomatis kehidupan kita sekarang telah diliputi dan diselimuti oleh kepalsuan dan manipulasi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang eksis sekarang bukannya membuat realitas menjadi jelas dan terang, tapi justru menjadi gelap dan absurd. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dulunya di anggap sebagai sarana yang sangat efektif untuk membuka realitas dan alam semesta yang terselimuti oleh kabut misteri, sekarang justru menjadi penutup realitas yang menaburkan beragam misteri baru terhadap realitas dan alam semesta. Apa yang kita lihat, kita cerap dan kita dengarkan bukan lagi mencerminkan orisinalitas dan kejujuran realitas melainkan justru kepalsuan dan kemunafikan yang sengaja dibuat menjadi sebuah realitas.

Selain dari itu, alam virtualitas, yang cenderung mementingkan budaya citra atau imagology pada akhirnya menjadi gudangnya mitos. Artinya bahwa kebenaran yang ditampilkannya bukanlah cermin dari realitas melainkan distorsi realitas. Dan memang fungsi mitos, sebagaimana dijelaskan oleh Rolland Barthes (2007) adalah mengosongkan realitas:hal itu secara harfiah, merupakan aliran keluar tanpa henti, suatu pendarahan, atau mungkin penguapan, singkatnya suatu ketiadaan yang nyata.

Maka sekarang ini sangat dibutuhkan paradigma pemikiran yang kritis- transformative untuk membaca dan melihat gejala atau realitas yang berkembang diberbagai sektor kehidupan secara jernih, utuh, dan holistik. Untuk memenuhi kebutuhan itu maka disiplin filsafat menjadi sebuah keperluan pokok dalam kehidupan kontemporer sekarang ini. Hal ini untuk menjadikan kehidupan kita supaya tidak tenggelam dan hanyut oleh arus budaya virtualisasi. Sebab faktanya budaya virtualisasi berpotensi memerosokan seseorang ke dalam jurang penipuan, kemunafikan bahkan penjajahan yang menyesatkan dan membahayakan.

Filsafat, sebuah disiplin yang menekankan untuk berpikir rasional, kritis, sistematis dan mendalam, merupakan perisai analisis yang efektif untuk membongkar realitas virtual dengan segala orientasi dan modus operandinya . Setiap orang bisa menghadapi realitas kehidupan modern secara selektif, senantiasa mempunyai filter, dengan tidak menelan mentah-mentah segala informasi atau fenomena yang muncul.

Tugas filsafat, dalam konteks tertentu, sebagaimana yang dikatakan oleh Socrates adalah bukan menjawab masalah melainkan mempermasalahkan jawaban. Artinya segala fenomena, informasi, budaya, pemikiran, idiologi dan sebagainya, yang ditawarkan oleh institusi apapun baik agama, kampus, LSM, partai politik dan sejenisnya, yang seringkali diterima oleh masarakat umum sebagai sebuah kebenaran secara taken for granted, harus kita persoalkan, pertanyakan, analisis dan belejeti terlebih dahulu sebelum sesuatu itu kita konsumsi sebagai kebenaran.

*Muhammad Muhibbuddin adalah penggiat forum kajian filsafat “Linkaran ‘06” Yogyakarta dan Koordiantor Jaringan Islam Kultural (JIK) Yogyakarta.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: