SUPERSEMAR DAN KAPITALISME GLOBAL

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

 

 

Salah satu hal yang sulit untuk dibuktikan dalam sejarah adalah kevalitan sejarah itu sendiri. Hal ini karena penulisan sejarah tidak terlepas dari maksud subjektifitas sang penulis sejarah. Apalagi kalau sejarah sudah terkait dengan ambisi politik seseorng. Sudah barang tentu sejarah akan dijadikan sebagai legitimasi dan justifikasi terhadap segala macam kebijakan dan policy orang tersebut. dalam posisi demikian maka sejarah bukan lagi merupakan saksi hidup yang bisa memberikan pencerahan dan petunjuk terhadap generasi sejarah., melainkan justru akan memberikan kesesatan terhadap para generasi itu sendiri. Karena banyak fakta sejarah yang sudah dimanipulasi, ditelikung, bahkan di buang dan dihilangkan maka sejarah bukan lagi berfungsi sebgai sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi melainkan berubah menjadi fiksi, dongeng bahkan mitos.

Salah satu peristiwa sejarah kebangsaan kita yang sekarang telah mengalami nasib di atas adalah peristiwa Surat perintah 11 Maret 1966 atau yang populer dengan istilah supersemar. Sudah sangat lama peristiwa sejarah ini terjadi, namun belum juga terkuak faktor-faktor pemicu lahirnya surat “sakti” tersebut secara jelas. Beragam versi dan spekulasi tetap menyelimuti peristiwa ini. Masih banyak kesimpang siuran informasi dan perspektif atas terjdinya peristiwa sejarah tersebut. Sehingga peristiwa yang dianggap sebagai sejarah itu sampai sekarang tetap diliputi oleh kabut misteri yang sulit diungkap kebenarannya. Akibatnya, di setiap lintasan generasi anak bangsa, telah terjadi tradisi pewarisan teka teki dan keabsurdan sejara.

Maka kalau sekarang kita sekarang membicrakan supersemar, yang terjadi bukan membicarakan fakta-fakta empirik di seputar peristiwa supersemar yang mencerahkan, namun sebaliknya kita justru berbicara tentang dongeng dan mitos tentang peristiwa tersebut yang cukup membingungkan. Hal ini karena nilai kevalidan dan kebenaran sejarah sudah dinafikan sedemikian rupa untuk kepentingan politik.

Kronologi lahirnya Supersemar ialah berawal dari surat perintah harian yang ditanda tangani oleh Pesiden Soekarno yang isinya adalah menugaskan Letnan Jendral Soeharto untuk “mengambil alih segala tindakan yang dianggap perlu” dengan maksud demi “terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kesetabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi”. Namun anehnya dalam praktiknya surat ini justru menjadi alat kudeta militer dengn ditandai oleh peristiwa peralihan kekuasaan dari tangan Soekarno ke Soeharto. Inuilah keabsurdan yang terus menerus menghantui kehidupan kita.

Kalau dicermati lebih dalam maka pertanyaan yang muncul :bagaimana mungkin sebuah surat perintah harian telah berubah menjadi alat kudeta terhadap presiden? Siapa sebenarnya yang mendalangi dibalik penyalahgunaan surat tersebut? apakah penyalahgunaan surat tersebut memang berasal dari Soeharto sebagai penerima mandat isi surat tersebut ataukah ada pihak lain yang menjadi otaknya ? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu tidak mudah. Menguak aktor dibalik ini semua dibutuhkan bukti-bukti konkrit yang benar-benar valid.

Dalam rangka menguak aktor dibalik itu semua, Romo Baskara T. Wardaya, melalui bukunya yang berjudul Membongar Supersemar (2007) berusaha mengeskplorasi berbagai permasalahan yang timbul sebelum dan sesudah penandatangann naskah tersebut. Buku ini merupakan hasil penelitian Wardaya di AS pada periode 1998-1999 dan 2004-2005. Selama dua periode itu penulis buku ini melakukan research diperpustakaan Konggres dan Arsip Nasional I (keduanya di Washington DC) serta di Arsip Nsional II (di Collage Park, Marylan ) maupun di sejulah Perpustakaan epresidenan yang tersebar di AS.

Dari hasil penelitiannya itu Wardaya berpendapat bahwa lahirnya Supersemar tidak semata dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang ada dalam negeri saja, melainkan justru berasal dari kekuatan luar negeri yakni Amerika serikat. Kenapa demikian? Menurut Wardaya, Amerika Serikat tahun 66 adalah sebuah negeri adikuasa yang sedang terlibat dalam perang dingin. Kita tahu, perang dingin adalah perseteruan idiologi kapitalis yang dikomandoi oleh AS versus idiologi sosialis yang digawangi oleh Uni Soviet.

Berkaitan dengan Indonesia , waktu itu Amerika berpandangan bahwa Indonesia dirasa lebih condong ke sosialis (kiri). Secara lebih khusus, Amerika waswas mengikuti pesatnya perkembangan PKI, yang pada tahun 1964 telah tumbuh menjadi partai komunis terbesar I dunia di luar blok Uni Soviet-Cina. Kekhawatiran AS ini diperkuat dengan hubungan kuat dan saling mendukung antara Bung Karno dengan PKI. Retorika Bung Karno yang anti neo-kolonialisme dan anti neo-imperilaisme Barat juga sangat meresahkan pihak Woshington. Amerika sadar, bahwa Bung Karno tidak hanya memiliki pengaruh di dalam negeri namun juga di luar negeri, khususnya di antara negara-negara non-blok.

Melihat dinamika yang demikian itu, Amerika berupaya memengaruhi Indonesia agar menghentikan orientasi yang pro sosialis dan membelokkan orientasi politiknya ke blok kapitalis yang menjadi idiologi wajib bagi Amerika dan sekutu-sekutunya. Amerika pun terus berusaha menggrogoti kekuasaan dan pengaruh Bung Karno dan PKI, sekaligus berharap pemerintahannya diganti dengan pemerintahan baru yang pro-kapitalis. Di tengah harapan Amerika yang demikian itulah maka Supersemar lahir. Dan memang benar, paska turunnya surat yang berbuah terhadap lengsernya kekusaan Soekarno, pemerintahan baru yang dipimpin oleh Soeharto mulai saat itu telah menjadi pemerintahan yang pro –kapitalis. Amerika yang asalnya menjadi musuh pemerintahan Soekarno kini telah berubah menjadi sahabat pemerintahan paska Bung Karno.

Dari ilustrasi Romo Baskara ini seedikit terkuak bahwa intervensi negara –negara kapitalis sebenarnya bukan akhir-akhir ini saja ketika perdagangan bebas dan globlisasi menjadi maenstream dunia internasional, melainkan sejak dahulu pengaruh neoliberal telah mencengkramkan kuku tajamnya di Indonesia. Dengan demikian dapat diketahui bahwa latar belakang lahirnya Supersemar, dalam kontek global, adalah wujud praktik kolonialisasi dan intervensi kapitalisme global yang ada di Indonesia. Maka tidak heran kalau di era orde baru perusahaan –perusahaan asing, seperti Freeport dan Exon Mobile, yang nota bene agen-egen kapitalis telah bebas masuk ke Indonesia. Neo-liberalisme yang sekarang kebijakannya sering kali merugikan bangsa Indonesia, sebenarnya embrionya sudah eksis sejak lahirnya supersemar yang menghsilkan pemerinthan baru itu.

*Muhammad Muhibbuddin adalah staff Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta, (LKKY) dan koordinator Jaringan Islam Kultural (JIK) Yogyakarta

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: