GUS DUR DAN GOLPUT SETENGAH HATI

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

Akhir-akhir ini, panggung politik nasional diwarnai oleh sejumlah perubahan menarik. Salah satunya adalah koalisi PKB versi Gus Dur dengan PDI-P. Ketika usaha hukumnya sudah mentok dan kalah di lembaga pengadilan, PKB Gus Dur yang dipimpin oleh Yenny Wahid, memutuskan untuk menyalurkan dukungannya kepada PDI-P. Pengalihan dukungan PKB Gus Dur ke PDI-P ini dimulai sejak Rabu (14/1) dari cabang Surabaya. Deklarasi koalisi dua kubu tersebut dihadiri sekjen partai masing-masing yakni Pramono Anung (PDI-P) dan Yenny Wahid (PKB Gus Dur).

Alasan utama PKB Gus Dur mengalihkan dukungannya ke PDI-P sebenarnya lebih menggunakan pertimbangan pragmatis. Pertimbangan itu sangat sederhana: ketimbang massa PKB Gus Dur mubazir, maka lebih baik diberikan PDI-P yang menurut ketua DPP PDI-P, Tjahjo Kumolo, antara PKB dan PDI-P mempunyai pandangan yang sama

Memang tidak bisa dinafikan bahwa kuantitas massa Gus Dur di PKB masih lumayan besar. Kekalahan Gus Dur versus Muhaimin pada level legalitas-formal belum tentu mencerminkan kekalahan Gus Dur pada level substansialnya. Bisa dimungkinkan secara substantif, Gus Dur masih menguasai PKB. Hal ini karena ketokohan dan kharisma Gus Dur di mata konstituen PKB masih kuat. Bahkan boleh dikatakan, kebesaran PKB sebagian besar adalah karena ditopang oleh kebesaran Gus Dur. Mayoritas massa yang mendukung PKB bukan semata-mata karena murni memilih partai ini, melainkan karena fanatiknya terhadap sosok Gus Dur. Seorang yang sangat dihormati, diidolakan bahkan dikultuskan oleh simpatisan PKB.

Namun, yang membuat absurd adalah apabila koalisi ini dikaitkan dengan kampanye golput yang sebelumnya sangat intensif dilakukan oleh Gus Dur. Nampak belum hilang dari ingatan bahwa di berbagai pertemuan:pengajian, seminar, diskusi dan jumpa pers, Gus Dur secara agitatif dan provokatif selalu menyerukan golput. Kampanye golput ini tak henti-hentinya ia lakukan, meskipun pada faktanya sering mendapat perlawanan dari tokoh-tokoh lain, termasuk dari ulama-ulama NU. Kiai-kiai NU secara umum menyerukan dan bahkan mengharuskan warga Nahdliyyin menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2009. NU secara kelembagaan sendiri juga tidak setuju dengan adanya golput.

Langkah Gus Dur tersebut jelas kontroversial dan sudah pasti membingungkan. Ketika PKB versi Gus Dur memutuskan untuk mengalihkan suaranya kepada PDI-P dengan alasan supaya tidak mubazir, secara eksplisit Gus Dur menyerukan kepada warganya untuk mencoblos pada pemilu 2009. Keputusan ini secara implisit menggugurkan keputusan Gus Dur yang mengajak warganya untuk golput. Seharusnya, kalau Gus Dur memang konsisten memperjuangkan golput, suara PKB yang ada di bawahnya tidak dialihkan ke mana-mana. Massa PKB itu tetap diprovokasi untuk tidak mengikuti pemilu. Kalau perlu massa partai lain juga dipengaruhi untuk tidak mencoblos.

Tipologi golput

Meskipun golput sering menjadi wacana umum, namun jenis golput sendiri bukanlah satu warna. Ada banyak jenis golput yang terjadi pada masyarakat. Hal ini karena dilatarbelakangi oleh motif dan kecenderungan masing-masing anggota masyarakat dalam memilih golput.

Dalam pandangan Agus Riewanto (2008) minimal ada tiga tipologi golput di masyarakat yaitu golput ideologis, politik dan pragmatis. Golput ideologis yaitu golput yang dilatarbelakangi sikap penolakan apapun terhadap produk kekuasaan khususnya dan sistem sosial politik pada umumnya. Golput model ini lebih disebabkan oleh kesadaran idiologis masyarakat vis a vis negara. Ia lahir bukan sekedar ikut-ikutan, tetapi lebih didorong oleh komitmen terhadap nilai-nilai idiologi yang dipegang oleh masyarakat. Jelas golput semacam ini mengandung semangat pengetahuan dan intelektual. Maka,ancaman golput ideologis ini dimungkinkan lahir dari kalangan masyarakat yang mempunyai basis pengetahuan dan wacana politik yang tinggi.

Tipologi golput politis, yaitu golput yang terjadi akibat prefensi-prefensi politik. Golongan dalam golput politis ini adalah masyarakat yang pada umumnya terjebak pada lingkaran alienasi, yaitu perasaan diasingkan dari panggung politik atau pemerintahan. Kemunculan kelompok ini bisa lahir dari kalangan kaum politisi yang gagal dan kalah dalam merebut posisi tertentu dalam politik. Golput semacam ini mudah tumbuh di dalam sebuah negara yang ekstra liberal. Di dalam negara yang lebih di dominasi oleh sistem liberalisme, maka negara hanya menjadi pelayan bagi golongan kuat yang menang dalam persaingan. Pihak yang kuat dan menang akan selalu mendapatkan privilage dari negara, sementara pihak yang kalah dan tak berdaya semakin terpinggirkan. Sedangkan tipologi golput pragmatis, yaitu golput yang muncul berdasarkan kalkulasi rasional bahwa aktivitas memilih tidak akan berdampak lebih baik pada diri pemilih.

Golputnya Gus Dur

Terkait dengan jenis tipologi golput di atas, maka tipe golputnya Gus Dur yang kemarin dikampanyekan itu masuk kategori kedua yakni golput politis. Hal ini karena golput yang dikampanyekan Gus Dur lebih disebabkan oleh kekalahan Gus Dur di pengadilan atas konfliknya dengan Muhaimin. Gus Dur sangat kecewa ketika sengketanya dengan Muhaimin terkait persoalan PKB, sering dikalahkan oleh pengadilan. Kekalahan dirinya ini, dalam pandangan Gus Dur, disebabkan oleh kuatnya intervensi pemerintah yang pro terhadap Muhaimin. Atas dasar asumsi inilah Gus Dur hendak melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan menyebarkan golput.

Karena memang bukan didukung oleh komitmen idiologis dan lebih ditentukan oleh pertimbangan politis, maka golputnya Gus Dur tersebut sifatnya setengah hati.Golput setengah hati adalah golput antara yes dan no. Sikap setengah hati ini menyebabkan terbukanya kemungkinan-kemungkinan bagi Gus Dur untuk kompromi. Dalam hal ini, unsur-unsur pragmatis dan realistis masih menjadi hal yang menarik untuk diperjuangkan.Berkoalisinya PKB Gus Dur dengan PDI-P di sejumlah daerah adalah cermin dari sikap kompromistik Gus Dur itu. Namun ini tentu bukan pilihan final politik Gus Dur. Di dalamnya, masih terdapat banyak kemungkinan untuk berubah. Adegan dan jurus-jurus politik yang lebih kontroversial, liar, absurd dan fantastik kemungkinan besar masih akan digeber oleh si dewa mabuk ini.

*Muhammad Muhibbuddin adalah direktur Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) dan koordinator diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Fak. Ushuluddin UIN Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: