ISRAEL-HAMAS, SAMA-SAMA KERAS KEPALA

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

Pertempuran antara Hamas dan Israel di jalur Gaza masih terus berlanjut. Kedua belah pihak belum ada tanda-tanda kemauan untuk menghentikan baku tembak. Itikad untuk melakukan gencatan senjata dan islah juga masih jauh panggang dari api. Kedua belah pihak telah menolak resolusi PBB nomor 1860 yang antara lain berisi mendorong gencatan senjata segera antara palestina dan Israel di jalur Gaza. Tidak ditaatinya seruan PBB ini membuat situasi di Gaza semakin mencekam. Baku tembak antara Israel dan Hamas kian sengit dan sudah merambah wilayah dalam Gaza City.

Mantan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu bahkan mengatakan, Israel harus menggulingkan kekuasaan pejuang Hamas di Gaza jika ingin memenangi pertempuran. Sementara pemimpin kelompok Hamas, Ismail Haniya, juga mengklaim bahwa kemenangan Hamas sudah di depan mata dan secara tegas tidak akan menyerah. Pernyataan kedua tokoh yang sedang bertikai tersebut merupakan indikasi bahwa Gaza memang bakal berubah menjadi jalur “neraka”. Pertempuran di wilayah ini bisa selesai, kuncinya adalah kalau ke dua belah pihak beritikad untuk damai. Namun kenyataannya baik Isreal maupun Hamas sama-sama keras kepala untuk memperpanjang pertempuran.

Warga sipil sebagai korbannya

 

Ketika kedua belah pihak keras kepala lebih memilih untuk berperang daripada berdamai, sebenarnya itu bukan masalah sepanjang warga sipil tidak menjadi korban. Persoalannya ini justru terletak pada warga sipil. Sepanjang pertempuran itu berkobar, pihak yang paling berresiko menjadi korban bukanlah pejuang Hamas maupun tentara Israel, melainkan warga sipil yang tak berdosa. Hingga kini, akibat pertempuran tersebut, sekitar 940 orang tewas (termasuk 280 anak) dan sekitar 4.260 terluka.(Kompas, 14/1/2009). Orang-orang yang tewas dan terluka ini jelas bukan pihak yang secara langsung terlibat kontak senjata. Mereka adalah masyarakat yang tak berdosa.

Secara tidak langsung, warga sipil yang tewas dan terluka itu adalah orang-orang yang menjadi korban atas sikap keras kepalanya Isreal-Hamas. Kalau mau adil, seharusnya yang menjadi korban agresi Israel itu tentara Hamas, karena dia yang mempunyai masalah dan kepentingan secara langsung dengan tentara pihak Israel. Tetapi kenyataannya, justru warga sipil tak berdosa. Dan ini yang tidak disadari oleh Israel. Dalam hal ini Israel terkesan ngawur. Kalau memang sasaran serangan Israel adalah Hamas, seharusnya ia mampu mengidentifikasi mana tentara Hamas dan mana warga sipil. Israel justru terkesan ceroboh dan membabi buta ketika meluncurkan roket-roketnya ke Palestina.

Sikap keras kepala yang ditunjukkan oleh Hamas dan Israel itu memang telah menghilangkan etika berperang. Hilangnya etika berperang ini menjadikan sebuah pertempuran berjalan secara anarkhis dan tak manusiawi. Perang akhirnya tidak lagi memandang mana musuh yang memang benar-benar terlibat dalam permasalahan perang dan mana masyarakat sipil yang tak tahu permasalahan itu. Masyarakat sebuah negara, seperti kata Gramsci, secara umum terdiri dari dua kelompok yaitu masyarakat sipil (civil society) dan mana masyarakat politik (political society). Masyarakat sipil adalah masyarakat yang otonom yang berada di luar struktur kekuasaan, sementara masyarakat politik adalah aparat pembentuk negara yang mempunyai kekuasaan untuk monopoli dan koersif.

Perang antara Hamas versus Israel itu merupakan representasi konflik masyarakat politik. Seharusnya harus dibedakan mana masyarakat Palestina yang termasuk warga sipil dan mana kelompok Hamas yang merupakan bagian dari masyarakat politik. Pihak yang seharusnya menjadi sasaran perang Israel adalah oknum Hamas, bukan masyarakat sipil. Karena, pihak Hamaslah yang secala eksplisit mempunyai konflik politik dengan Israel. Israel sendiri bahkan yang mengklaim bahwa Hamas yang telah meluncurkan roketnya ke wilayahnya. Ulah Hamas inilah yang sekaligus menajdi tendensi Israel memborbardir Palestina.

Tetapi kenyataannya, hingga kini, Israel tidak mampu mengidentifikasi secara pasti tentara Hamas. Israel justru seolah bingung dengan dirinya sendiri sehingga serangan roket yang secara gencar mereka maksudkan untuk melumpuhkan tentara Hamas itu malah salah alamat dan menyasar ke warga sipil. Kebrutalan semacam ini jelas tidak bisa dibenarkan. Kalau Israel hendak menyerang Hamas, terlebih dahulu seharusnya mengetahui secara jelas dan bisa memastikan di mana kantong-kantong Hamas sebenarnya.

Sama-sama penjahat perang

 

Perang di jalur Gaza yang dilakukan oleh Israel versus Hamas ini sebenarnya perang yang tanpa didasari oleh pertimbangan yang strategis dan etis. Perang ini hanya didorong oleh sikap keras kepala kedua belah pihak tersebut. Keduanya ini sama sekali tidak mewakili siapa-siapa kecuali kepentingan mereka masing-masing Baik Hamas maupun tentara Israel adalah representasi dari masyarakat politik. Konflik yang belangsung di antara mereka ini sebenarnya lebih dipicu oleh interest politic masing-masing. Rakyat sipil secara umum menghendaki perang itu dihentikan. Tetapi keduanya justru tetap keras kepala bertikai hingga justru membawa malapetaka terhadap warga sipil. Dalam konflik ini, pihak yang dirugikan adalah jelas masyarakat sipil yang tak berdosa.

Ketika konflik kedua belah pihak yang keras kepala itu membawa korban warga sipil, maka baik Hamas maupun Israel adalah sama-sama penjahat perang. Alasannya jelas, mereka telah membuat warga sipil mendeita dan menjadi korban perang. Mereka berdua yang sebenarnya mempunyai kepentingan untuk berperang, namun ternyata orang lain yang justru menjadi korbannya. Berarti mereka sengaja mengorbankan kehidupan orang lain untuk kepentingan mereka. Kalau Hamas dan Israel tetap keras kepala melanjtukan perang, seharusnya mereka mampu menjaga serangannya itu tidak mengenai warga sipil. Atau mereka sepakat mengambil tempat perang khusus yang jauh dari kehidupan masyarakat sehingga peperangan mereka tidak menjadikan orang lain sebagai korbannya.

Perang di Gaza ini, kalau korbannya adalah pejuang Hamas atau tentara Israel, itu mungkin bisa dianggaap bukan sebuah kriminalitas. Karena keduanya memang lagi keranjingan untuk perang. Percuma memaksa Hamas dan Israel berdamai. Lebih baik mereka memang dibiarkan saja untuk terus berperang hingga keduanya puas. Kalau keduanya nantinya sudah capek, pasti mereka akan berhenti sendiri.Karena kedua kelompok itu memang manusia berkepala batu. PBB pun tak mengatasi. Tetapi kalau perang ini masih merenggut nyawa masyarakat sipil yang tak berdosa, lebih –lebih nyawa anak-anak, maka perang keduanya termasuk kejahatan HAM.

*Muhammad Muhibbuddin adalah direktur Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) dan koordinator diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Fak. Ushuluddin UIN Yogyakarta.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: