MENEGUHKAN ISLAM “MADZHAB” INDONESIA

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

 

Hingga detik ini persoalan hubungan antara Islam dengan nasionalisme keindonesiaan belum menemukan titik final. Hubungan antara spirit keislaman dengan keindonesiaan, dalam kontek kehidupan berbangsa dan bernegara, masih sering diwarnai oleh ketegangan dan konflik. Seolah terjadi kesenjangan yang begitu lebar antara nilai-nilai Indonesia dengan ajaran-ajaran Islam. Kesenjangan ini akhirnya menimbulkan permasalahan prinsipil: apa yang harus dilakukan oleh umat Islam Indonesia, mengislamkan Indonesia ataukah mengindonesiakan Islam. Pertanyaan ini nampak sederhana namun konsekuensinya cukup besar. Pertanyaan tersebut merupakan titik tolak yang sangat menentukan arah dan sikap umat Islam dalam mengaktualisasikan nilai-nilai keislaman di Indonesia. Memasuki tahun bari hijriah 1430 dan tahun baru masehi 2009 ini ada baiknya momen tersebut kita jadikan sebagai spirit pembaharuan paradigma keberislaman kita ke arah yang lebih prospektif dan konstruktif dalam kontek keindonesiaan.

Perlunya mengindonesiakan Islam

 

 

Sebagai umat Islam Indonesia, masalah yang harus di atasi adalah bagaimana memadukan antara semangat nasionalisme keindonesiaan dengan spirit keberagamaan Islam. Di sinilah perlunya diteguhkan Islam “madzhab” Indonesia. Islam “madzhab” Indonesia ini merupakan semangat keberislaman yang berjalan secara harmonis dan padu dengan kultur Indonesia. Prinsip dasar Islam “madzhab” Indonesia adalah mengindonesikan Islam dan bukan sebaliknya. Secara linguistik dan filosofis, prinsip ini mempunyai arti yang berbeda dengan prinsip mengislamkan Indonesia. Perbedaannya secara fundamental terletak pada aksentuasinya. Titik tekan prinsip mengindonesiakan Islam adalah pada aspek substansial Islam. Bahwa dengan semangat universalnya, Islam adalah sebuah ruh atau spirit yang tidak menafikan fakta lokalitas. Secara ideal (dassolen) Islam adalah cita-cita universal, tetapi dalam tataran praksisnya (dasein) ia adalah fakta partikular. Kenyataan ini tak bisa dibantah.

Sebaliknya, prinsip mengislamkan Indonesia lebih cenderung ke arah formalisasi Islam. Pola ini berangkat dari sebuah keyakinan bahwa Islam adalah nilai ilahiyah yang kebenarannya mutlak. Sebaliknya nilai-nilai keindonesiaan dianggap sebagai budaya hasil kreatifitas manusia. yang tingkat kebenarannya jauh lebih rendah dari nilai keislaman. Implikasi lebih jauh, pola semacam ini melahirkan sikap puritanistik. Islam harus dibersihkan dari tradisi-tradisi lokal.

Pola itu jelas keliru. Sebab, sebagai bagian dari agama di Indonesia, sudah seharusnya kalau aktualisasi Islam berjalan secara integral dengan budaya Indonesia. Menafikan aspek lokalitas budaya Indonesia, justru akan menjadikan Islam sebagai barang asing dalam masyarakat Indonesia. Islam tidak menjadi barang aneh dan gejala asing di Indonesia kalau ia mampu merealitas dalam bahasa dan kultur Indonesianis. Pola keberagamaan semacam itu harus dimulai dari kesadaran bahwa kita ini, seperti kata kata budayawan muslim KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) adalah orang Indonesia yang beragama Islam dan bukan orang Islam yang kebetulan ada di Indonesia.

Sinkretisme dan bukan puritanisme

 

 

Prinsip mengindonesiakan Islam secara implisit meniscayakan sinkretisme dan bukannya puritanisme. Semangat sinkretisme ini mengandung arti bahwa keislaman di sini tidak diukur dari sisi formalitas budaya melainkan dari sisi spirit dan semangat yang terkandung di dalam budaya itu. Ini akan berbeda dengan kelompok puritan, yang sekarang ini menjadi arus utama kelompok wahaby. Kelompok puritanistik ini menganggap bahwa budaya-budaya lokal di Indonesia itu merupakan nilai-nilai bid’ah dan bahkan syirik yang sama sekali bertentangan dengan niai-nilai Islam. Anggapan seperti ini menyebabkan hilangnya toleransi terhadap aktualisasi nilai-niai lokal-partikular. Nilai-nilai lokal itu bahkan harus dibrantas dan apabila ada praktik keagamaan Islam yang masih tercampuri dengan budaya-budaya itu maka harus segera dibersihakn (dipurifikasi). Pola dan praktik keislaman kaum modernis ini berakibat terjadinya penetrasi terhadap unsur-unsur Islam dari budaya tersebut. Penetrasi ini merupakan wujud upaya kelompok Islam modernis untuk :”mengislamkan” tradisi Indonesia.

Apa yang dilakukan oleh kelompok puritan tersebut merupakan pola keberagamaan yang bertentangan dengan fitrah kehidupan. Itu merupakan implikasi dari gerakan modernisme di dunia Barat sebagai konsekuensi lahirnya rasionalisme Cartesian. Orientasi peradaban Barat modern adalah obyektivisme. Demi sejumput obyektifisme itu, salah satu implikasinya adalah mensterilkan kehidupan manusia dari debu-debu sejarah, termasuk dari tradisi. Spirit modernisme Barat inilah yang digugat Heidegger. Bagi Heidegger, manusia adalah mahluk sejarah.

Eksistensi manusia justru tersadari ketika manusia itu telah terlempar dalam sejarah ruang dan waktu. Tradisi, sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah adalah sebuah keniscayaan eksistensialis manusia. Ia tidak mungkin untuk dipurifikasi secara total, tidak mungkin dipisahkan atau dilepaskan seratus persen dari kehidupan manusia. Mempurifikasi atau memaksa manusia untuk lepas dari tradisinya justru akan melahirkan alienasi. Bentuk relasi nilai-nilai Islam universal dengan nilai-nilai keindonesiaan lokal-partikular lebih tepatnya bukanlah purifikasi melainkan sinkretisasi.

Menjaga keutuhan Indonesia

 

 

Nilai yang paling vital dalam spirit Islam madzhab Indonesia ini, dalam kontek kehidupan berbangsa dan bernegara adalah upaya untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Terbukti Islam madzhab Indonesia yang coraknya sinkretis itu mampu menopang keutuhan bangsa Indonesia.Dalam sekup yang lebih sempit fakta ini trcermin dalam masyarakat Banjar. Seperti kata intelektual Banjar Daud Alfani (1997), bahwa kebudayaan Banjar telah memberikan bingkai dan Islam telah terintegrasikan. Ia menegaskan, banyak dari upacara-upacara tradisional sebenarnya adalah suatu praktik yang berfungsi merekatkan solidaritas kelompok di antara komunitas orang Banjar yang disebut bubuhun, teristimewa golongan bangsawan atau bubuhun raja-raja.

Fakta itu menunjukkan arti bahwa sinkretisme merupakan medium yang efektif untuk mengukuhkan persaudaraan dan meminimalisir konflik.Pola semacam itu sangat berguna bagi kelangsungan kehidupan bangsa Indonesia secara nasional. Ketika Islam dipraktikkan dalam bingkai kebudayaan Indonesia, Islam tidak berposisi secara antagonistik yang berdiri secara vis a vis dengan budaya Indonesia, melainkan lebih berposisi secara fungsional yang secara integral menjadi satu kekuatan nasional. Islam “madzhab” Indonesia yang lebih mengedepankan sikap toleran, akomodatif dan sinkretis ini sekarang perlu diperkuat untuk membendung arus arabisme yang sekarang semakin menjadi trend di Indonesia. Arabisme Islam adalah sebuah ancaman. Karena selain merduksi universalitas Islam, juga sangat membahayakan keutuhan bangsa Indonesia.

*Muhammad Muhibbuddin adalah direktur Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) dan koordinator diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Fak. Ushuluddin UIN Yogyakarta.
 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: