NU, ISLAM DAN PERDAMAIN GLOBAL

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

NU adalah salah satu organisasi keagamaan yang sangat peka terhadap masalah perdamain. Bukan hanya di tingkat lokal dan regional, bahkan ditingkat global pun NU sering menjadi aktor garda depan dalam memperjuangkan perdamaian dunia. Sebaliknya NU sangat mengutuk terjadinya tindak kekerasan dan peperangan dengan dalih apapun, termasuk agama. Bagi NU tidak ada agama di dunia ini yang menyeru umatnya untuk memuncratkan darah orang lain.

Pandangan NU yang demikian itu karena organisasi yang didirikan pada tahun 1926 ini lebih ditopang oleh basis idiologi yang moderat. Bagi NU sikap terbaik dalam menghadapi realitas kehidupan, terutama dalam praktik keagamaan adalah tawasuth (moderat), dan bukannnya tathorruf (extrim). Sikap inilah yang menjadikan NU dikenal sebagai organisasi yang humanis dan cinta perdamaian. Karena kekerasan yang lebih sering terjadi itu lebih disebabkan oleh watak ekstrim.

Islam kultural

 

Watak moderat NU yang sangat menunjang langkah-langkah NU untuk merajut perdamaian dunia tersebut jelas karena eksistensi NU sebagai gerakan islam kultural/budaya dan bukan Islam politik. Seperti kata Gus Dur Hampir seluruh dunia memandang gerakan Islam bersifat politik sebagai gerakan fundamentalis/radikal. Pandangan itu lalu menganggap pandangan budaya dari NU sebagai ‘moderat’. Meskipun pelabelan melalui kategorisasi ini terkesan terlalu menyederhanakan masalah. Namun dengan menegaskan Islam sebagai gerakan kultural dan bukan politik, minimal, mampu mengimbangi maenstream gerakan Islam politik yang cenderung tertutup dan eksklusif.

Sebagai gerakan kultural, NU tidak menjadikan Islam sebagai sistem kekuasaan melainkan lebih sebagai etika sosial (social ethic). Dalam sejarahnya, ketika Islam telah ditarik ke wilayah politik praktis, Islam selalu diselewengkan sebagai alat untuk mendukung kekuasaan daripada sebagai ruh transformasi sosial. Ketika Islam menjadi kekuatan untuk meraih kekuasaan, Islam sering kali dipolitisir dan ajarannya sering direduksi sesuai dengan selera para penguasa. Inilah yang kemudian makna Islam mengalami pendangkalan dan distorsi. Salah satu implikasinya adalah dijadikannya Jihad sebagai legitimasi untuk membantai orang-orang non Islam.

Dari situlah kemudian perlunya dipisahkannya antara Islam dengan sistem politik secara formal. Seperti kata pemikir Islam asal Maroko, Muhammad Abid Al-Jabiri (2001) bahwa apa yang dibutuhkan masyarakat yang beragama Islam dan masyarakat yang tidak mempunyai lembaga keagamaan—disebabkan oleh agama itu sendiri karena dalam Islam agama adalah urusan individu sehingga hubungan antar individu dan Tuhan adalah hubungan langsung tanpa perantara—-adalah memisahkan agama dan politik dalam arti menghindari fungsionalisasi agama untuk tujuan-tujuan politim dengan pertimbangan bahwa agama adalah mutlak dan permanen sedangkan politik bersifat realtif dan berubah : politik digerakkan oleh kepentingan indifidu dan kelompok sedangkan agama harus dibersihkan dari hal ini, jika tidak, agama akan kehilangan susbtansi dan ruhnya.

Cita-cita itulah sebenarnya yang diperjuangkan NU terkait dengan gerakan Islam kulturalnya. Dengan berada di jalur kultural, NU semakin bebas mengkritik dan melakukan evaluasi terhadap kekuasaan tanpa harus dipengaruhi oleh kelompok politik tertentu. Karena posisi NU dalam kontek ini tidak sebagai alat kekuasaan, melainkan sebagai kekuatan moral (moral force). Sebagai kekuatan moral, perjuangan NU tidak dibatasi oleh kelompok, agama dan sekte tertentu, melainkan bersifat universal. Landasan utamanya adalah adanya nilai-nilai moral universal. NU mempunyai keyakinan bahwa etika atau nilai baik dan buruk tidak sepenuhnya sektoral atau parsial, melainkan juga universal bahkan mondial. Atas dasar asumsi ini, maka seperti juga kata Kant bahwa universalitas etis adalah sesuatu yang mungkin.

Prinsip semacam itu juga berlaku dalam koridor agama. Bahwa setiap agama, meskipun secara formal-legal berbeda, tetap mempunyai nilai-nilai etiis universal yang sama. Membunuh kepada orang yang tak berdosa adalah sebuah tindak kejahatan merupakan nilai moral yang ada di semua agama.

Atas dasar itulah kemudian sangat wajar kalau seruan perdamian yang diperjuangkan oleh NU lebih bersifat global dan bukan terbatas pada sekte atau agama tertentu. Gerakan moral perdamaian NU yang transnasional dan transkultural ini semakin meneguhkan bahwa Islam yang diperjuangkan NU bukanlah Islam garis keras yang anti kemanusiaan, melainkan Islam moderat yang lebih bersifat humanis dan toleran.

Krisis Timur Tengah

 

Sebagai bagian dari perjuangan NU untuk menegakkan perdamaian global, salah satu masalah yang menjadi garapan NU adalah krisis Timur Tengah yang terjadi Palestina versus Israel. Konflik terdahsyat antara kedua belah pihak tersebut, baru saja ditunjukkan oleh keganasan dan kebrutalan Israel memborbardir Palestina. Perang yang baru saja terjadi antara tentara Hamas dengan Israel tersebut jelas bertentangan dengan semangat kemanusiaan dan merusak cita-cita perdamaian di Timur Tengah. Agresi Israel tersebut, membuat ribuan penduduk sipil Palestina, terutama anak-anak, menjadi korban. Perang itu merupakan konflik politik antara Hamas dan tentara Israel, namun justru warga sipil Palestina yang banyak menjadi korbannya.

Inilah sebenarnya tantangan NU terkait dengan masalah perdamaian global. Sebagai organisasi Islam moderat yang lebih mengedepankan perdamaian, NU mau tidak mua harus melakukan langkah-langkah strategis untuk turut andil mendorong terciptanya perdamaian di Timur Tengah. Hal ini terutama diproyeksikan untuk membela hak-hak warga sipil Palestina yang telah sekian tahun menjadi obyek kekerasan dan kekejaman kaum zionis Israel. Seruan ini, secara moral, sebenarnya pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam kepada NU, ketika PBNU menggelar International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ke dua di Jakarta. Di forum itu, para tokoh Islam terutama yang berasal dari Timur Tengah, mengharapkan agar ICIS yang di bawah naungan NU itu mampu menjadi presure group untuk membantu masalah Palestina. Ini berarti NU oleh kalangan internasional NU dianggap mempunyai potensi besar yang bisa difungsikan untuk menciptakan perdamian antara Palestian dan Israel.

Maka, di ulang tahunnya kali ini, NU harus mampu semakin intensif dan ofensif memperjuangkan tegaknya perdamaian global, terutama terkait dengan krisis Timur Tengah, supaya jargon Islam sebagai rahmatallilaalamiin benar-benar nyata dan bukan sekedar utopia.

*Muhammad Muhibbuddin adalah direktur Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) dan koordinator diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Fak. Ushuluddin UIN Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: