PERSAINGAN ANTAR CALEG MULAI TIDAK SEHAT

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

Pemilu 2009 kini dibayangi oleh membesarnya konflik. Ini terjadi ketika potensi konflik antarcaleg bukan lagi terjadi antar parpol, melainkan sudah merembes ke wilayah internal parpol. Menurut Budiman Sudjatmiko (Kompas, 10/1/2009), persaingan itu sama kerasnya di antara caleg satu partai dan lain partai. Nyaris tidak ada perbedaannya. Masing-masing caleg itu sudah terlibat intrik dan kompetisi yang tidak sehat dalam memperebutkan simpati masyarakat. Sudah sedemikian kerasnya persaingan itu sehingga antarcaleg sudah berani melakukan aksi tebang bendera meskipun dari partai yang sama.

Tajamnya persaingan antarcaleg tersebut sudah bisa dipastikan akan berimbas pada kalangan grass root. Konflik di masyarakat bawah juga akan semakin keras. Masing-masing simpatisan akan turut terseret ke dalam medan konflik dan pertarungan untuk mendukung jagonya. Hal ini karena mobilisasi massa sudah pasti akan terjadi. Kalau di pemilu yang lalu, mobilisasi massa hanya terjadi pada level parpol, kini aksi itu sudah meluas ke wilayah indifidu caleg. Meluasnya mobilisasi massa ini jelas akan memicu meluasnya konflik di masyarakat.

Tantangan berat para caleg

 

Memang, problem mendapatkan dukungan masyarakat adalah sebuah tantangan berat bagi para caleg. Ini terutama ketika sistem nomor urut sudah tak berlaku dan diganti dengan sistem suara terbanyak. Perubahan sistem ini memaksa para caleg harus all out banting tulang untuk bisa mempengaruhi masyarakat. Posisi caleg semacam ini tak ubahnya seperti penjual. Keduanya sama –sama memposisikan masyarakat sebagai ” konsumen” yang bebas dieksploitasi dan di”provokasi” hasratnya. Kalau dalam ranah ekonomi, hasrat masyarakat dieksploitasi untuk mengkonsumsi sebanyak-banyaknya terhadap sebuah produk, maka dalam ranah politik ini, eksploitasi hasrat masyarakat diorientasikan untuk memberikan dukungan sebesar-besarnya pada caleg atau pada partai politik.

Upaya untuk mempengaruhi dan menarik simpati masyarakat tersebut jelas tidak mudah. Karena di samping tidak ada konvensi sosial yang efektif untuk menggerakkan massa, hal ini juga sangat terkait dengan kondisi psikologis dan selera estetis masyarakat. Seorang caleg, yang benar-benar mempunyai keinginan kuat untuk memenangkan dukungan masyarakat, ia harus berjuang keras menaklukkan psikologi dan selera masyarakat demi meyakinkan publik. Usaha untuk meyakinkan masyarkat ini jelas pekerjaan sulit.

Dalam kontek Indonesia, kesulitan untuk meyakinkan masyarakat itu diperparah oleh akumulasi kekecewaan masyarakat itu sendiri setelah sekian lama menyaksikan drama-drama politik dalam negeri yang lebih diwarnai adegan-adegan memuakkan. Masyarakat nampak sudah sangat bosan, geram dan frustasi karena berbagai kebijakan politik yang ada seringkali tidak berpihak pada kepentingan masyarakat. Bahkan masyarakat selalu menjadi korban kebohongan politik para elit. Kekecewaan dan frustasi kolosal ini akhirnya merubah sikap dan kondisi psikologis massa. Masyarakat akhirnya lebih bersikap apatis, indifidualis, pragmatis, oportunistik dan skeptis. Karena berkali-kali selalu dikecewakan dan dibohongi, akibatnya masyarakat sudah tidak menaruh kepercayaan dan harapan lagi kepada para politisi.

Perubahan kondisi psikologi masyarakat di atas merupakan jalan terjal bagi para politisi untuk meraih kekuasaan. Benar apa yang dikatakan oleh J.G. Blumler (2000) bahwa para politisi dewasa ini menghadapi basis pendukung yang konsumeris, individualis, mudah berubah dan skeptis. Untuk menjinakkan dan mempengaruhi masyarakat semacam ini, seorang politisi dituntut untuk merumuskan strategi jitu dan efektif untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat. Keberhasilan komunikasi ini sulit diwujudkan karena performance publik sulit dikontrol.

Dalam kondisi publik yang serba tidak jelas dan mudah sekali berubah itu, pesan yang disampaikan melalui komunikasi sering mengalami kegagalan. Untuk merebut hati masyarakat, sebuah komunikasi mutlak diorientasikan untuk menyentuh hati masyarakat. Pesan yang disampaikan terhadap publik jelas seruan untuk mendukung calon atau parpol. Kegagalan komunikasi terjadi ketika ternyata banyak anggota masyarakat yang tidak memberikan dukungannya.

Hilangnya kreatifitas

 

Munculnya gejala persaingan yang tidak sehat antar caleg di atas, menunjukkan bahwa para politisi kita sekarang sudah kehilangan daya kreatifitas komunikasi politik. Mereka tidak mampu menciptakan pola-pola komunikasi yang etis dan estetis dalam rangka menarik simpati masyarakat. Cara-cara kompetisi yang kasar dan vulgar seperti menebang bendera lawan, menghujat dan menjelek-jelekkan calon atau partai lain, bersikap arogan dan sebagainya adalah cermin dari lemahnya daya tarik komunikasi mereka di hadapan publik.

Bila pola berkomunikasi, seperti kata Haryatmoko (2007) masih paternalistik, merekayasa komunikasi politik dengan tujuan mengindoktrinasi, mengkondisikan, membohongi dan menebar ancaman terselubung, akan mudah terbaca sehingga akan menjauhkan simpati masyarakat. Hal ini karena ruang publik kita sudah dikuasai oleh sarana media. Hampir tidak ada sejengkal ruang publik pun yang luput dari incaran media. Masalah privat pun, yang merupakan masalah tertutup, sekarang sudah tidak bisa dihindarkan dari pnetrasi media.

Dengan asumsi itu, melakukan tindakan yang immoral dalam berkompetisi untuk menarik simpati masyarakat, akan mudah tercium oleh publik. Sehingga tindakan konyol itu justru dengan sendirinya akan mengundang sangsi masyarakat. Masyarakat akhirnya semakin tidak percaya apalagi simpati. Bahkan sebaliknya, masyarakat, terutama yang berpikir jernih dan kritis, akan bermaia-ramai mengutuk aksi yang tidak etis dan kriminil tersebut.

Hilangnya ide-ide kreatif para caleg dalam pola berkomunikasi dengan masyarakat ini sebuah masalah tersendiri. Mereka mudah bertindak ngawur. Para caleg itu akhirnya mudah menerabas dan suka memakai jalan pintas untuk mengganjal lawannya. Ini sekaligus meggambarkan tidak kredibelitasnya mereka dalam bermain politik. Pola semacam ini menceminkan kepicikan mereka dalam berkarir di bidang politik. Pertanda mereka tidak kompeten mengatasi masalah secara elegan.

Hilangnya pemikiran kreatif dan ide-ide cerdas para caleg hingga menimbulkan persaingan tak sehat antar diri mereka tersebut jelas berbahaya. Kalau nantinya mereka berhasil melenggang ke parlemen, mereka akan semakin tidak mampu mengatasi masalah-masalah kebangsaan. Sebab, problematika kebangsaan ini sifatnya jauh lebih besar dan lebih komplek dari sekedar urusan menarik simpati masyarakat. Menghadapi persoalan kebangsaan yang sangat pelik dan rumit itu mutlak dibutuhkan pemikiran-pemikiran genius dan ide-ide kreatif. Kalau para caleg itu ternyata tidak mempunya kapasitas berpikir yang demikian, maka kehadirannya di gedung parlemen nanti bukannya mengurangi masalah, tetapi justru menambah masalah.

*Muhammad Muhibbuddin adalah direktur Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) dan koordinator diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Fak. Ushuluddin UIN Yogyakarta.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: