REVITALISASI PERAN SOSIAL KIAI PESANTREN

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

Dalam sejarahnya, kiai pesantren mempunyai peran signifikan dalam transformasi sosial dan budaya. Hal ini karena para kiai selalu tulus dan ihlas mengabdikan dirinya untuk kerja-kerja sosial yang membawa maslahat bagi ummatnya. Dari komitmen inilah kemudian para kiai muncul sebagai pemimpin alternaif yang menjadi sandaran dan pengayom masyarakat. Sekarang, komitmen dan spirit itu makin lama makin redup. Mayoritas kiai pesantren sekarang nampak begitu sibuk mengurusi diri sendiri hingga tak sempat lagi menyapa masyarakatnya.

Pialang budaya ke pialang politik

 

Satu hal fundamnetal yang menjadi keprihatinan sekarang adalah mulai jauhnya kiai pesantren dari masyarakat dan sistem budayanya. Padahal sejarahnya dulu kiai lebih dikenal sebagai pialang budaya (cultural broker). Sebagai pialang budaya, seperti kata As’ad Ali Sa’id (2008) bahwa kialah yang selalu menanamkan nilai dan norma dalam masyarakat. Fungsi semacam ini bisa berjalan karena para kiai pesantren memang dekat dengan kehidupan masyarakat sekitar sehingga benar-benar mengetahui dan memahami seluk beluk kehidupan masyarakat. Perpaduan antara nilai-nilai Islam universal dengan tradisi-tradisi lokal masyarakat, menjadikan dunia pesantren mampu menghasilkan sintesa kebudayaan baru yang menjadi lanskap kebudayaannya. Sebagai hasil elaborasi kreatif sistem kebudayaan, pesantren akhirnya memiliki sistem dan corak kebudayaan yang unik. Atas dasar inilah Gus Dur menyebut dunia pesantren sebagai sub kultur masyarakat Indonesia.

Kehidupan masyarakat pesantren yang terkonstruk dari nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal tersebut, juga menjadikan pesantren sebagai pusat keagamaan dan sekaligus pusat kebudayaan. Pesantren bukan hanya dihiasi oleh doktrin-doktrin agama secara formal, tetapi juga kaya dengan tradisi dan budaya. Dalam kontek inilah pesantren merupakan aset bangsa untuk melestarikan nilai-nilai budaya. Namun, seperti kata Ahmad Baso (2006) selain diangankan sebagai pengembangan ilmu dan kebudayaan yang berdimensi religius sebagai hasil improvisasi lokal, peantren juga dipersiapkan sebagai penggerak transformasi bagi komunitas masyarakat dan bangsa.Cita-cita terhadap dunia pesantren tersebut bisa diimplementasikan, manakala para kiai sebagai pilot pesantren masih mempunyai kearifan untuk bersedia dekat dengan masyarakat.

Kendalanya adalah mayoritas kiai pesantren sekarang lebih suka berdiri di menara gadinngnya dan jarang mempunyai waktu untuk melayani ummat. Para kiai ini bisa bertemu langsung dengan masyarakatnya hanya etika ada hajatan-hajatan besar dan pengajian umum. Kalau tidak ada acara-acara agama atau sosial yang sifatnya kolosal itu, mereka tidak bersedia melakukan turba. Peran melayani ummat secara langsung ini mulai diambil kiai musholla atau masjid yang disebut Gus Dur dengan kiai kampung. Para kiai kampung ini yang sekarang menjadi tulang punggung ummat, karena setiap saat bersedia membuka diri dan menampung apa yang digelisahkan ummat.

Terpisahnya para kiai pesantren dari komunitas masyarakat itu semakin tajam ketika sekarang banyak di antara mereka yang lari ke panggung politik. Aktifitas politik praktis kiai pesantren terbukti menyedot tenaga dan energi para kiai itu hanya untuk ikut-ikutan merebut kue kekuasaan. Ini sangat disayangkan. Kiai yang dulunya sangat dikenal sebagai pialang budaya (cultural broker) kini berubah menjadi pialang politik (political broker). Secara moral-intelektual, peran kiai tak ubahnya dengan kaum cendekiawan bahkan para nabi. Tugas utama mereka adalah memberi pencarahan dan pendampingan terhadap masyarakat. Kehidupan mereka diharapkan mampu menjadi oase masyarakat di tengah kegersengan spiritual, moral dan intektual. Posisi kiai sebagai broker budaya dan pendamping masyarakat ini semakin vital ketika masyarakat tengah menghadapi tekanan dan hegemoni para penguasa. Di sini kiai dituntut mampu membebaskan ummatnya dari segala penindasan dan kesewenang-wenangan penguasa yang dikatator dan totaliter.

Namun fungsi kiai semacam ini sekarang mengalami degradasi ketika para kiai sendiri masuk dalam struktur politik. Ketika menjadi bagian dari struktur poiltik, maka tanpa disadari kiprah mereka sering menjadi kekuatan yang mendominasi dan menghegemoni masyarakat. Basis massa yang riel, yang seharusnya sangat efektif untuk dijadikan sebagai modal untuk melakukan transformasi sosial di tengah kehidupan masyarakat, pada realitasnya sering berubah menjadi komoditas politik yang dijual murah.

Kiai bukanlah raja atau penguasa, melainkan sahabat karib masyarakat yang selalu memberi arahan dan solusi terhadap problematika kehidupan yang dihadapi masyarakat. Mereka memahami masalah yang dihadapi oleh ummatnya, karena diri para kiai itu memang dekat dan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Namun kiai siapa sekarang yang dekat dengan wong cilik? Kiai pesantren sekarang bahkan menjadi sosok yang menakutkan dan asing di tengah masyarakatnya sendiri. Para kiai yang sekarang sudah berubah profesi menjadi aktor politik itu kemungkinan besar sudah tidak mengetahui tentang ummatnya yang mengalami kelaparan, pengangguran, tidak kuat sekolah dan sebagainya. Sebab, kehidupan kiai pesantren sekarang sudah ekstra jauh dari pengapnya kehidupan masyarakat kecil dan lebih dekat dengan glamornya panggung politik.

Kembali ke khittah

 

Untuk meningkatkan kembali peran para kiai pesantren di tengah masyarakat, maka harus ada kesadaran para kiai itu untuk kembali ke jalur perjuangannya yang semula. Para kiai pesantren harus kembali ke khittah sebagai pendamping dan pelayan masyarakat. Terlalu memfokuskan diri pada dunia politik sehingga melupakan tanggung jawabnya terhadap masyarakat, secara moral merupakan pengingkaran para kiai itu terhadap eksistensinya sendiri.

Tuntutan kepada kiai pesantren untuk kembali ke khittahnya itu semakin signifikan ketika dikaitkan dengan misi NU sekarang. NU adalah ibarat peantren besar yang pengendalinya ada di tangan para kiai. Dan hingga detik ini NU masih komitmen untuk menjaga khittah 1926. Nilai-nilai khittah NU 1926 ini tidak akan terimplimentasi secara optimal manakala tidak dibarengi oleh kesadaran para kiai untuk kembali kehittah perjuangannya. Karena aktor penggerak organisasi NU adalah para kiai. Dari sinilah diperlukan revitalisasi peran sosial kiai pesantren.

*Muhammad Muhibbuddin adalah direktur Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) dan koordinator komunitas studi filsafat “Linkaran ‘06” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: