BACK TO LOKALITAS

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

Selasa (12/5/2009) kemarin, Ikatan Keluarga Pelajar Belitung (IKPB) Cabang Yogyakarta mengadakan acara kolosal berupa pagelaran seni dan budaya Belitong yang bertempat di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Acara ini di bagi menjadi dua momen. Momen pertama adalah talk show yang diadakan pada siang hari mulai pukul 14.00-16.00 Wib. Dalam talk show ini tampil sebagai pembicara adalah bupati Belitong dan Bupati Belitong Timur. Kemudian pada malam harinya acara diisi dengan pertunjukan seni. Jenis seni yang ditampilkan adalah beragam seni khas Belitong dan teater. Acara yang digawangi oleh para mahasiswa Belitong tersebut mengambil tema “Yuk Kite Ngayau ke Belitung”.  Kata “Ngayau” menurut penjelasan dari seorang teman mempunyai arti bermain.

Satu hal yang membuat orang bertanya-tanya adalah apa yang hendak diusung oleh mahasiswa-mahasiswa Belitong ini melalui pertunjukan seni yang mereka tampilkan? Ternyata, teman-teman IKPB ini diam-diam juga berperan sebagai “duta kebudayaan” Belitong di Yogyakarta. Tugas mereka di Yogya bukan sekedar belajar, tetapi juga bertanggung jawab mengenalkan dan mempromosikan budaya dan seni lokal Belitong terhadap masyarakat nasional bahkan internasional. Hal ini sejalan dengan program pemerintah Belitong yang saat ini sedang giat-giatnya membangun sektor pariwisata Belitong.

Salah satu paket menarik yang ditawarkan oleh pemerintah Belitong dalam rangka meningkatkan potensi wisata Belitong adalah seni dan budaya khas Belitong. Dengan mengangkat kebudayaan khasnya, Belitong diharapkan mampu menarik para wisatawan dalam negeri atau manca negara untuk bermain dan berlibur ke Belitong. Sebab, selama ini, tempat untuk bermain atau berlibur di Indonesia masih didominasi oleh Bali dan Lombok. Dengan keindahan alamnya dan keeksotikan budaya lokalnya, Belitong sekarang hendak mensejajarkan diri dengan kedua tempat tersebut sebagai tempat wisata yang menarik dan dikagumi dunia.

Revitalisasi budaya lokal

Satu hal yang perlu dicatat dalam kampanye kebudayaan mahasiswa Belitong tersebut adalah tumbuhnya kesadaran untuk mengangkat dan mengapresiasi budaya lokal. Fenomena ini tentu saja menarik. Sebab, dengan alasan modernitas , orang-orang pada umumnya justru ramai-ramai meninggalkan budaya lokal. Tradisi-tradisi lokal telah disingkirkan dan bahkan berusaha ditinggalkan oleh masyarakat modern karena dianggap sebagai penghambat kemajuan. Tradisi-tradisi lokal, dalam pandangan masyarakat modern, sering di nilai primitiv, ketinggalan zaman dan kolot. Bentuk kebudayaan semacam ini tentu saja sangat tidak cocok dan bahkan bertentangan dengan alam modernitas yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih.

Dengan paradigmanya yang lebih menitikberatkan pada rasionalisme dan universalisme, modernisme telah menggusur kebudayaan lokal dan secara universal telah menggantinya dengan bentuk –bentuk peradaban modern. Universalisme yang menjadi gaya berpikirnya orang modern tersebut akhirnya mereduksi dan menafikan fakta-fakta partikular. Sehingga kebudayaan yang ada tidak bersifat plural dan multikultural, tetapi singular dan monokultural. Hampir seluruh entitas kebudayaan telah mengalami penyeragaman.

Penyeragaman kebudayaan yang dilakukan oleh keangkuhan modernisme tersebut, telah mencapai titik kulminasinya dengan hadirnya globalisasi, terutama globalisasi ekonomi. Dengan globalisasi ekonomi sebagai artikulasi dari sistem kapitalisme global, masyarakat disodori dan dibujuk untuk memakai, mengonsumsi dan menggunakan segala produk yang sesuai dengan selera kapitalisme. Produksi itu bukan sekedar barang melainkan juga nilai dan budaya.Semua nilai, pola pikir dan gaya hidup yang ditawarkan kapitalisme global kepada masyarakat semuanya memakai standar yang sama, yakni standar kapitalis. Seluruh lapisan masyarakat, dengan fakta konkritnya yang berbeda, oleh nalar kapitalisme global, telah diseragamkan, dihomogenisasi dan disingularisasikan ke dalam satu bentuk nilai dan budaya. Pola semacam ini akhirnya menggilas dan menenggelamkan budaya-budaya lokal yang justru merupakan basis eksistensi masyarakat. Ketika masyarakat dipaksa keluar dari tatanan budayanya yang lokal dan khas tersebut, konsekuensinya adalah terjadinya keterasingan dalam diri masyarakat.

Dengan latarbelakang itulah sekarang memang perlu dimunculkan kesadaran baru untuk kembali kepada lokalitas. Kembali kepada lokalitas, secara fungsional, dimaknai sebagai upaya untuk melakukan resistensi dan menghentikan proses dominasi penyeragaman dan homogenisasi yang menjadi proyek peradaban global tersebut. kesadaran lokalitas ini diwujudkan dengan cara merevitalisasi budaya-budaya lokal yang sebelumnya telah terkubur dan bahkan hilang musnah ditelan oleh monster globalisasi.

Revitalisasi budaya lokal, seperti yang dikatakan oleh Yasraf A. Pilliang (2004) adalah prinsip atau sistem –sistem lokal tersebut harus diperbaharui, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat kontemporer. Artinya sistem-sistem lokal tersebut harus diberi nafas baru. Dengan pemahaman semacam ini, merevitalisasi budaya lokal, bukan sekedar mereproduksi bentuk-bentuk budaya tersebut secara apa adanya, tetapi bentuk-bentuk kebudayaan lokal yang ada, selain harus dilestarikan tetap diberi makna dan ruh  baru sehingga bisa tampil lebih segar dan up to date untuk kondisi sekarang.

Masih dalam kerangka dialog

Sekarang persoalannya, kalau setiap elemen masyarakat diberi kebebasan untuk kembali ke lokalitas, dalam kontek persatuan dan kedsatuan nasional, bukankah ini sebuah ancaman. Tentu saja tidak, sepanjang proses dan semangat untuk kembali ke loklitas tersebut dilakukan dengan penuh bijaksana.

Supaya konflik dan perpecahan sebagai imbas dari semangat lokalitas tersebut tidak muncul, maka tradisi dialog harus menjadi spirit dari masing-masing unsur kebudayaan. Ini dalam rangka untuk menumbuhkan sikap saling memahami dan menghargai. Mikhail Bakhtin (1993) menegaskan bahwa dalam upaya pemahaman terhadap masyarakat dan kebudayaan, yang paling penting diupayakan adalah begaimana memahami manusia sebagai subyek—-dengan segala perasaannya—bukan sebagai obyek yang tidak berjiwa. Ini tentu sangat berbeda dengan nalar dan semangat globalisasi yang menafikan dialog karena cenderung memposisikan manusia atau masyarakat sebagai obyek yang tidak berjiwa sehingga bebas untuk dieksploitasi dan dideterminasi.

Dengan kesadaran kembali ke lokalitas itu justru membuka ruang seluas-luasnya untuk dialog dan komunikasi antar kebudayaan yang berbeda. Karena agar bisa hidup nyaman,, masing-masing pihak yang berbeda dituntut untuk saling memahami, menyadari dan menghargai. Mereka yang berbeda tetap dalam posisi sama-sama sebagai subyek yang aktif melakukan dialog, bukan berposisi sebagai subyek-obyek yang hegemonik dan determinatif.

* Muhammad Muhibbuddin adalah Direktur Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) dan koordinator studi filsafat “Linkaran ‘06” Fak. Ushuluddin UIN Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: