HIPERSMIOTIKA AGAMA, MATINYA NILAI-NILAI AGAMA DITENGAH KUATNYA ARUS BUDAYA CITRA DALAM PRAKTIK KEAGAMAAN

Oleh: Muhammad Muhibbuddin

A. Pendahuluan

Pada prinsipnya setiap agama, khususnya Islam, selalu mengajarkan  kejujuran (fairness), keterbukaan dan kebenaran. Ini adalah nilai-nilai moral yang sangat dijunjung tinngi oleh agama apapun. Tidak ada satupun agama di dunia ini yang menyerukan kepada umatnya untuk berbuat bohong. Bahkan sebaliknya, setiap agama selalu mengecam perbuatan bohong. Dalam perspektif agama, perbuatan bohong termasuk perbuatan yang tercela. Dalam Islam ia dikategorikan sebagai tanda-tanda orang munafik.

Namun, nilai-nilai agama semacam di atas sekarang ini mulai sirna oleh arogansi teknologi, terurtama tekonologi informasi. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi sekarang, pada level tertentu, terbukti telah menggusur nilai-nilai keagamaan dan norma sosial semacam kejujuran. Nilai-nilai etis dan moralitas keagamaan, termasuk yang ada di dalam Islam, sekarang semakin terdesak dan berada di ambang kepunahan seiring dengan maraknya perkembangan industrialisasi dan pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi oleh masyarakat modern diposisikan sebagai entitas yang bebas nilai sehingga keberadaannya cenderung menggerus nilai-nilai etis keagamaan.

Bukan hanya masalah kejujuran yang tergerus, nilai-nilai lain, semacam kesederhanaan, ketekunan, solidaritas dan sebagainya juga ikut musnah. Hal ini karena dalam aktualiasi dan penggunaan IPTEK masyarakat kontemporer lebih mendasarinya dengan hasrat, bukannya logika dan hati nurani. Sementara hasrat sendiri adalah potensi diri yang tidak pernah puas, selalu cenderung menerabas, melampoi dan menerjang segala macam batasan, baik batasan norma, etika dan hukum. Hasrat selalu mengalami deteritorialisasi. Oleh karena itu, ketika penggunaan teknologi berada dalam kendali hasrat, maka saat itu juga teknologi bisa dipergunakan apa saja, termasuk untuk berbohong.

Sebuah tindakan dikatakan bohong, manakala ia tidak lagi mencerminkan realitas, tetapi justru menutup-nutupi atau bahkan memanipulasi realitas. Realitas yang sebenarnya A oleh seseorang telah disulap dan dimanipulasi sehingga yang tampak adalah B. Pola semacam ini sangat menyeruak dan menjadi arus besar di era sekarang. Peran dan kontribusi teknologi informasi dan telekomunikasi, dalam sisi negatifnya, turut menyumbangkan menggejalanya pemanipulasian realitas itu.

Upaya pemanipulasian realitas di atas, pada tahapnya yang lebih luas, juga menjelajah dunia agama. Karena penggunaan teknologi lebih dikendalikan oleh hasrat yang cenderung liar dan tak bisa dibatasi, maka agama yang sejatinya menjadi balance dan sistem kontrol terhadap aktualisasi teknologi, sekarang justru menjadi medan yang empuk bagi imperialisme dan kolonialisasi teknologi. Fakta ini tampil ke permukaan tatkala nilai-nilai agama semacam kejujuran, kebenaran, kesederhanaan dan sebagainya mulai musnah oleh gempuran tekonologi. Sehingga realitas kehidupan sekarang, dalam ranah agama pun, lebih didominasi oleh kemunafikan, kepalsuan, penyelwenagan dan sebagainya yang semua itu ditampilkan dalam bentuknya yang manipulatif. Artinya, sesuatu yang nampak itu sebenarnya hal-hal negatif, tetapi untuk kepentingan pribadi maupun kelompok, sesuatu yang negatif itu sengaja ditampilkan sebagai sesuatu yang positif. Contoh konkritnya adalah para caleg yang ramai-ramai mengiklankan diri di TV, radio, internet dan cyberspace lainnya,dengan menggunakan simbol-simbol agama. Sehingga ia tampil seolah sangat religius dan bermoral, padahal track recordnya sebenarnya adalah bajingan.

Dari gejala semacam itu, maka praktik keagamaan sekarang lebih dijadikan sebagai topeng belaka. Teknologi sekarang cenderung menggiring manusia untuk beragama secara virtual. Maka, agama, berkat pengunaan teknologi yang tak bertanggung jawab, justru dijadikan sebagai alat untuk menutup-nutupi fakta dan realitas yang sebenarnya. Dengan begitu, maka nilai-nilai kebenaran agama sekarang telah mengalami kematian. Kejujuran, kebenaran dan kebijaksanaan telah hancur dan musnah digantikan oleh nafsu kebohongan, keserakahan, pemanipulasian dan sebagainya.

Praktik keagamaan yang semacam itulah, yang sekarang dalam diskurusus smiotika masuk kategori hipersmiotika. Artinya, praktik keagamaan sekarang mengalami transformasi dari kedalaman makna ke arah permainan tanda. Sehingga praktik keagamaan sekarang cenderung melampoi dan bahkan keluar dari, tanda koridor dan tujuan asalnya. Ini yang menyebabkan nilai-nilai moralitas-etis dan spiritual agama menjadi kabur dan tak jelas eksistensinya.

Maka tulisan ini ingin membedah gejala-gejala keagamaan di era hiperrealitas tersebut. Persoalan yang hendak dibedah adalah apa itu hipersmiotika dan bagaimana relasinya dengan arus budaya citra, aspek-aspek apa yang berperan di dalamnya dan bagaimana pengaruhnya terhadap praktik keagamaan sekarang.

B.HIPERSMIOTIKA, CITRA DAN MATINYA NILAI-NILAI KEAGAMAAN

1. Selintas tentang hipersmiotika

Secara etimologis ada dua suku kata yang melekat, yaitu hiper dan smiotika. Hiper secara etimologis mempunyai makna berlebihan, melampoi, di atas atau menembus batas. Smiotika sendiri, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ferdinand de Saussure dalam Course in General Linguistic adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign) sebagai bagian dari kehidupan sosial. Hipersmiotika berarti melampoi atau mengatasi smiotika.

Arti mengatasi atau melampoi di atas secara eksplisit menunjukkan kematian dan sekaligus kelahiran baru dalam unsur-unsur semiotik. Jadi, dalam rimba raya hipersmiotika hal yang menjadi fokus kajian adalah fenomena kematian dan kelahiran pada tingkat smiotik: kematian tanda, kematian petanda, kematian makna, kematian struktur, kematian logos, kematian realitas dan seterusnya, di satu sisi; serta kelahiran pembaca, kelahiran bahasa, kelahiran teks, kelahiran simulasi, kelahiran virtualitas, kelaihiran tanda artifisial, kelahiran patafisika dan sebagainya. Dengan demikian hipersmiotika merupakan teori yang bertolak belakang dengan smiotika. Kalau smiotika merupakan wilayah kajian yang, menjadi simbol hidupnya dan berfungsinya fenomena pertandaan, hidupnya realitas, makna dan logos, maka hipersmiotika adalah kebalikannya itu.

Ketika hipersmiotika tersebut disandingkan dengan agama, atau yang disebut dalam judul tulisan ini dengan hipersmiotika agama, maka mempunyai arti kematian dan kelahiran smiotik pada ranah agama. Artinya sistem pertandaan dalam agama yang terkiat dengan makna, realitas, kejujuran, kebenaran, fakta dan sebagainya sekarang telah musnah dan tergantikan fenomena-fenomena agama lain yang nampak absurd dan ganjil. Hampir semua nilai agama yang secara konvensional awalnya dijadikan sebagai pedoman dan standar praktik religiusitas, sekarang telah mati sehingga nilai-nilai dan norma agama sekarang mengalami ketidakstabilan, mengalami relativisme, kesemrawutan, tumpang tindih penuh ilusi, dan fantasi.Batasan antara baik dan buruk, kejujuran dan kemunafikan, kebenaran dan kepalsuan dalam fenomena keagamaan sekarang menjadi kabur. Semua batasan-batasan nilai tersebut sekarang sudah mati dan berubah menjadi “hantu-hantu” smiotik.

Oleh karena itu, dunia hipersmiotika adalah dunia hantu di mana tanda-tanda kehidupan telah mati dan berubah dengan wujud lain sehingga yang terlihat adalah keganjilan, absurditas, kesemrawutan, kerancuan, ilusi, fantasi dan sebagainya. Kehidupan tidak lagi berjalan secara wajar dan teratur, melainkan sudah tumpang tindih dan penuh kekaburan. Hal ini terjadi karena unsur-unsur kepastian dalam smiotika seperti petanda, makna, fakta dan unsur-unsur keniscayaan lainnya, yang awalnya dijadikan sebagai pegangan, sudah mati . Sehingga manusia telah kehilangan pegangan, kehilangan prinsip, kehilangan patokan, dasar dan orientasi.

Sekarang, bagaimana pola dan sistem hipersmiotika itu bekerja?Yasraf A. Pilliang dalam bukunya yang berjudul Hipersmiotika, Tafsir cultural studies dan matinya makna, menyatakan bahwa hipersmiotika, yang berarti melampoi batas smiotika, digunakan di sini untuk menjelaskan sebuah kecenderungan yang berkembang pada beberapa pemikir—-khususnya pemikir smiotika mutakhir—-yang berupaya melampoi batas opsisi biner yang secara konvensional dibangun antara struktur/perkembangan, konvensi/perubahan, fisika/metafisika, sinkornik/diakoronik, penanda/petanda, langue/parole, tanda/realitas. Pola-pola oposisi biner tersebut adalah tipologi pemikran yang sangat kental dalam dunia strukturalisme, terutama strukturalisme yang dipelopori oleh Saussure.

Hipersmiotika, lanjut Yasraf, mencoba membongkar tembok opisisi biner tersebut, dan megembangkan beberapa prinsip yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, prinsip perubahan dan transformasi. Dalam hal ini hipersmiotika lebih menekankan pada perubahan tanda daripada struktr tanda, lebih memprerioritaskan produksi tanda sebanyak-banyaknya ketimbang makna dan kode tanda. Dalam smiotika konvensional, yang namanya tanda akan selalu bergantung pada yang namanya konvensi, kesepakatan umum dalam menentukan makna di baliknya. Namun, dalam hipersmiotika justru sebaliknya. Ia berusaha keluar dan menerabas kesepakatan umum itu dan berusaha mengkembangbiakkan tanda secara berlebihan dan tanpa henti.

Kedua, prinsip imanensi (immanency). Hipersmiotika lebih mengutamakan penampakan tanda daripada makna yang terkandung di dalamnya. Apa yang dirayakan oleh hipersmiotika adalah penampakan (appearence) luar, bukannya substansi sesuatu yang berada di dalam wilayah ultime dan transenden. Hipersmiotika lebih sibuk memoles bungkus daripada memperbaiki isi, mengutamakan bentuk daripada makna, lebih mengutamakan formalitas daripada substansialitas.

Ketiga, prinsip perbedaan atau pembedaan. Orientasi utama hipersmiotika adalah menciptakan pembedaan dengan konvensi sosial yang telah ada. Pembedaan ini tidak harus mempertimbangkan unsur kebaruan di dalamnya. Meskipun itu produk klaisim yang telah lama tertimbun dalam peradaban sejarah manusia, maka oleh hipersmiotika itu berupaya ditampilkan kembali ke permukaan sebagai upaya untuk menciptakan nuansa beda dengan pola-pola tanda atau konvensi yang ada.

Keempat, prinsip permainan bahasa (language game). Dalam konsepnya Saussure, seorang pakar bahasa dari Swiss, dibedakan unsur-unsur bahasa menjadi langue dan parole. Dalam hal ini hipersmiotika lebih menekankan permainan pada tingkat parole ketimbang pada langue, lebih menekankan pada penggunaan bentuk-bentuk bahasa konkrit dan mereinterpretasi yang tiada henti daripada pembangunan ulang struktur dan sistem bahasa. Dalam prinsip permainan bahasa ini, hipersmiotika cenderung memproduksi tanda-tanda dalam bahasa tanpa perlu mengkaitkan diri pada sistem kebahasaaan yang telah baku demi menciptakan keterpesonaan, gairah, kepuasan dalam permainan tanda itu sendiri. Artinya yang dipentingkan adalah daya pesona berkomunikasi melalui bentukbentyk bahasa yang baru, bukan makna yang terkjandung di dalam bahasa itu sendiri.

Kelima, prinsip simulasi (simulation). Simulasi adalah penciptaan realitas yang tidak lagi merujuk pada realitas di dunia nyata, tetapi ia seolah menjadi realitas lapis dua yang refrensinya ialah dirinya sendiri. Simulasi ini muncul akibat dari peran teknologi terutama teknologi informasi dan telekomunikasi. Melalui kerja teknologi, dunia palsu bisa diciptakan, sesuatu yang sebenarnya tidak ada dibuat menjadi ada, sehingga seolah-olah apa yang ada dalam simulasi benar-benar riel, padahal hanya rekayasa. Fenomena simulasi semacam ini termasuk menjadi program utama hipersmiotika. Dan inilah yang nantinya akan melahirkan simulakra.

Keenam prinsip diskontinuitas. Hipersmiotika lebih menekankan pada prinsip diskontinuitas semiotik daripada kontinuitas smiotik. Dalam kontinyuitas semiotik, pola pertandaan yang terjadi adalah cenderung homogen, perbedaan tanda, kode dan makna kemungkinannya sangat kecil. Namun lain halnya dengan hipersmiotika, dalam sistem pertandaan telah terjadi banyak penyimpangan dan keterputusan sehingga di dalamnya tercipta dunia bebas permainan tanda-tanda. Di dalamnya sudah tidak ada lagi hubungan yang paten dan baku antara penanda (signifer) dengan petanda atau makna dan konsep atau makna di dalamnya (signifed).

Produk dari postmodernisme

Dengan berkaca pada prinsip-prinsipnya di atas, maka dalam kajian yang lebih luas, perseteruan antara semiotika konvensional dengan hipersemiotika ini wujud perseteruan antara gaya modernisme dan postmodernisme. Smiotika konvensional yang dicirikan oleh batasa-batasan yang ketat dan baku adalah produk dan simbol dari peradaban modern. Sementara hipersmiotika yang cenderung tidak mematuhi atau bahkan berusaha mendekonstruksi dan meluruhkan batasan-batasan tersebut, sehingga nampak liar dan penuh nuansa permainan itu adalah karakter dan orientasi utama peradaban postmodernisme.

Selain itu, hal yang paling ditonjolkan dalam gaya hipersmiotika adalah maraknya permainan atau penampakan luar yang mengabaikan sisi-sisi terdalam dari realitas. Artinya, sebagaimana orientasi umum psotmodernism, makna atau nilai terdalam dan substil tidak begitu dipersolakan. Maenstream yang berlaku dalam hipersmiotika adalah permainan total yang berada di wilayah permukaan. Tanda dan citra menjadi hal utama daripada makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Dengan demikian, apa yang diutamakan oleh hipersmiotika adalah kepalsuan, pencitraan, imanensi, manipulasi, imitasi, simulasi, formalitas, bentuk dan sebagainya daripada keaslian, kejujuran, kebenaran, transendensi, makna dan substansi. Hipersmiotika menawarkan sebuah pola kehidupan yang hanya ekstasi dan larut dalam kemegahan dan keindahan penampilan, gaya dan fantasi, sehingga melupakan sisi-sisi terdalam dalam kehidupan.

Maka dari itu, dalam kaitannya dengan dunia postmodernisne tersebut, Yasraf menegaskan bahwa hipersmiotika adalah sebuah kecenderungan melampaui semiotika konvensional (khususnya semiotika struktural), yang beroperasi dalam sebuah kebudayaan yang di dalamnya dusta, kepalsuan, kesemuan, kedangkalan, imanensi, permainan, artifilitas, superlativitas dirayakan sebagai spirit utamanya; dan sebaliknya, kebenaran, otenstisitas, kedalaman, transendensi, metafisika ditolak sebagai penghambat kreativitas dan produktifitasnya Jadi hipersmiotika secara implisit merupakan imbas atau produk dari postmodernisme, yang mempunyai obyek kajiannya menyangkut persoalan tanda, makna, realitas dan simulasi yang semuanya itu saling kait mengkait. Dalam hubungannya itu, hal-hal yang bersifat substansail seperti makna dan realitas sebenarnya telah terbunuh dan tersingkirkan oleh kuatnya tanda, simulasi dan pencitraan.

Dalam realisasinya dengan pola dan gaya hidup (life style), hipersmiotika sebagai produk dari peradaban postmodernisme ini merupakan  cermin dari budaya manusia kontemporer yang, dalam bahasanya Idi Subandy Ibrahim, berada dalam aura ectasy gaya hidup yang mementingkan permukaan, penampakan, penampilan, hura-hura, hiburan dan permainan tanda-tanda yang tanpa kedalaman dan yang tidak mengacu kepada realitas.

Simulasi dan hiperrealitas

Sudah disinggung di atas bahwa salah satu prinsip dari hipersmiotika adalah simulasi. Simulasi sebagaimana yang dijelaskan oleh Baudrillard adalah penciptaan model-model kenyataan yang tanpa asal-usul atau referensi realitas. Lebih jelasnya simulasi menciptakan sebuah ruang kehidupan yang bertolak belakang dengan realitas. Dengan kata lain, realitaspun juga mengalami hiper, sehingga menjadi hiperrealitas. Ketika realitas sudah dalam keadaan hiper, maka realitas itupun mengalami penerobosan,  penelikungan, pembiasan dan dan bahkan pemanipulasian.

Kenapa demikian, karena dengan tenaga simulasi, realitas palsu bisa diproduksi sedemikian rupa sehingga ia berhasil menggusur atau bahkan menggantikan realitas yang sebenarnya. Tanda-tanda yang ada dalam simulasi bukanlah tanda mencerminkan realitas yang ada melainkan justru menutup-nutupi atau bahkan memanipulasi realitas yang sebenarnya.

Pada tarafnya yang paling ekstrim, tanda akhirnya menjadi agung dan berharga daripada makna yang dikandungnya. Tanda diciptakan sedemikian memesona sehingga mampu menyihir masyarakat untuk tertarik kepadanya dan tidak mempedulikan substansinya. Artinya orang tenggelam dalam gairah pengemasan tanda itu sendiri, lewat kecanggihan teknologi simulasi dan teknologi citraan (imagology), sehingga tanda tidak lagi mengacu kepada realitas.

Akibat budaya simulasi sehingga melahirkan hiperealitas dengan segala sisi-sisiyna itulah yang akhirnya muncul yang namanya simulacra. Dalam kamus Oxford Advenced Learnes, istilah simulakra (simulacra) diartikan sebagai (1) sesuatu yang tampak atau dibuat tampak seperti sesuatu yang lain, (2) salinan foto copy. Dalam kontek ini ada perbedaan mendasar antara pengertian simulakra atau simulakrum yang dibangun oleh Umberto Eco dengan Baudrillard.  Bagi Eco, seperti yang dikuitp oleh Yasraf. A Pilliang dalam Postrealitas, mengatakan bahwa hiperrealitas adalah segala sesuatu yang merupakan replikasi, salinan atau imitasi—-tepatnya simulacrum —dari unsur-unsur masa lalu, yang dihadirkan dalam konteks masa kini sebagai sebuah nostalgia.

Pola simulacra yang ditawarkan oleh Eco di atas, nampak lebih condong ke representasi. Artinya, simulakra yang diusung oleh Eco, pada batas minimalnya masih mempunyai rujukan, paling tidak rujukan masa lalu. Meskipun ketika realitas yang dihadirkan sekarang itu kehilangan kontaknya, tetapi dalam batas imajinasi seseorang tetap mempunyai gambaran tentang sebuah keadaan atau realitas yang dijadikan sebagai rujukan untuk ditampilkan di masa kini.

Pola semacam itu sangat berbeda dengan pemahaman yang diajukan oleh Baudrillard. Dalam memahami simulacra Baudrillard nampak jauh lebih radikal dari Eco. Bagi Baudrillard ada distingsi yang jelas antara representasi dengan simulasi. Bagi Baudrillard, sesuatu dikatakan sebagai simulasi, selama ia berlawanan dengan representasi. Bila reprsentasi masih menggantungkan pada realitas di luar dirinya sebagai rujukan atau referensinya; simulasi, sebaliknya, tidak merujuk di luar dirinya, malahan ia menjadikan dirinya sebagai referensi. Konsep pemahaman simulakrum yang diusung oleh Baudrillard ini juga dipertegas oleh Deleuze yang menurut dia bahwa simulakrum adalah sebuah proses penjungkirbalikan representasi, dalam pengertian, ketimbang sebuah tanda mempunyai hubungan ikonis dengan realitas yang menjadi referensinya (misalnya foto bunga yang merujuk pada foto bunga di taman), ia justru menghancurkan ikon-ikon rujukan tersebut. Ketidaksesuain dan penyimpangan dari realitas di luar dirinya sebagai rujukan itu justru kekuatan vital dalam simulakrum.

Dengan demikian, yang namanya representasi bukan sebuah faktor yang membentuk dunia hiperrealitas. Tetapi simulasilah yang berperan penuh dalam menciptakan hiperrealitas.

Dari pengertian yang ditawarkan oleh beberapa pemkkir di atas, bisa ditangkap benang merahnya bahwa inti simulasi atau simulakra adalah usaha uantuk menciptakan kepalsuan, kedustaan dan pembiasan terhadap realitas. Pola penyimpangan, pemalsuan dan pemanipulasian ini, dalam paradigma simulcrum, tidak diposisikan sebagai sesuatu yang negatif dan oleh karena itu harus dihindari, tetapi memang sengaja dibuat dan bahkan dijunjung tinggi dan dirayakan.

Ketika simulakra sudah menguasai ruang-ruang kehidupan itulah, maka kehidupan manusia akhirnya tidak lagi berdiri dan berada dalam realitas yang sesungguhnya. Keberadaan ada dalam dunia fantasi, mimpi, kepalsua, imitasi dan manipulasi. Kehidupan manusia semakin jauh dari kehakikian, keaslian dan kejujuran. Hidup akhirnya diliputi oleh realitas palsu yang menawarkan beragam keterpesonaan, fetisisme dan keindahan. Semua itu tidak lain adalah rekayasa imajinatif dengan bantuan alat-alat teknologi yang sama sekali tidak riel.

Kepalsuan dalam dunia hiperrealitas yang diciptakan oleh budaya simulcrum tersebut pada titik ekstrimnya telah membentuk kesadaran manusia. Manusia begitu terlelap dan larut ke dalam keindahan, keterpesonaan dan ketakjuban yang luar bisa. Eksistensinya dideterminasi dan dibentuk kekuatan simulakra yang melingkupinya. Mereka begitu enjoy menikmati itu tanpa bersedia lagi untuk berpikir kritis. Padahal dunia yang memnbuat dia larut dan tenggelam, dunia yang mereka puja dan mereka junjung tinggi itu pada dasarnya adalah rekayasa dan manipulasi yang justru kalau ditelisik lebih dalam dunia tersebut adalah sesuatru yang tak ada, kosong. Oleh karena itu, mansuia yang larut dalam simulakrum, tenggelam dalam dunia hiperrealitas adalah manusia-manusia yang dikuasai oleh kepalsuan yang larut dan berjalan ke sana kemari dalam kekosongan.

Karena yang mengendalikan dirinya adalah kepalsuan, maka kesadaran yang dimiliki oleh orang atau masyarakat yang berada dalam ruang simulkara itu adalah kesadaran palsu (false consiousness). Mereka seolah bukan mimpi dalam mengarungi dan menikmati fenomena yang dihadapinya, padahal sebenarnya apa yang dia lakukan, apa yang dia nikmati dan dia alami sebenarnya sebenarnya mimpi. Mimpi bukan hanya terjadi ketika seseorang terlelap dalam tidur, tetapi mimpi juga bisa terjadi dalam kondisi orang yang berjaga, manusia yang terjebak dan dikuasai oleh simulakrum atau hiperrealitas adalah salah satu contohnya. Ketika kesadaran manusia tercengkram oleh otoritas simulakrum dan hiperrealitas, maka secara implisit eksistensinya juga palsu. Pada hakekatnya apa yang dia kerjakan adalah nihil. Aktifitasnya, ibadahnya, pemikirannya, kebijakannya dan hal-hal lain yang berkenaan dengan eksistensi kehidupannya semuanya serba palsu.

CITRA DAN PERAN MEDIA

Ketika realitas sudah dihancurkan oleh mesin-mesin simulasi (simulation mechine) sehingga menjadikan kebenaran tergantikan dengan kepalsuan, kenyataan terbunuh oleh rekayasa dan fakta sudah termanipulasi oleh kekuatan simulakra, maka apa sebenarnya ontologi tujuan manusia sekarang? Sederhananya, apa sebenarnya yang tengah diburu dan dijunjung tinggi oleh manusia postrealitas sekarang ini sehingga rela menenggelamkan dirinya dalam dunia kepalsuan, rekayasa dan manipulasi yang dihasilkan oleh mesin simulasi (simulation mechine) di atas? Jawabnya jelas: citra.

Bahwa manusia akhir abad 20 adalah manusia abad citra. Dalam kehidupannya, citra atau kesan luar sangat  dipuja dan dijunjung tinggi sehingga mereka tidak lagi mempedulikan esensi, makna dan realitas sebenarnya (true reality). Citra sudah menjadi sesuatu yang demikian penting dan sentral, sehingga ia harus diadakan, diproduksi dan didaulat menjadi realitas. Citra telah menjelma menjadi semacam barang mewah yang proses konstruksinya terkadang harus mengeluarkan uang miliaran rupiah. Contoh konkritnya adalah para selebrits yang mengiklankan diri untuk menjadi caleg atau capres. Mereka telah berlomba-lomba mengucurkan uang ratusan juta bahkan miliaran rupiah untuk pembuatan iklan sebagai alat untuk mengkonstruksi citra dirinya di tengah masyarakat. Melihat begitu sentralnya dan dominannya citra dalam kehidupan masyarakat di abad postrealitas ini, maka benar kata Heidegger dalam artikelnya “The Age of the world picture”, seperti yang dikutip oleh Yasraf A. Pilliang (Dunia Yang Dilipat:2004/262-263), menyatakan bahwa dengan berkembangnya citraan-citraan di sekeliling kita, maka eksistensi kita pada akhirnya akan berubah sebagai ontologi citraan. Kita dikurung oleh citraan-citraan dari segela penjuru, dan citraan-citraan tersebut menjadi cermin tempat kita berkaca, tempat kita mencari eksistensi diri kita. inilah transformasi dan fenomena kehidupan yang menjadi maesntream peradaban manusia di akhir abad 20.

Kegilaan manusia kontemporer terhadap ontologi citra ini merupakan perubahan paradigma masyarakat yang sekarang lebih cenderung mengagumi hal-hal yang permukaan. Kehidupan masyarakat sekarang lebih tertarik pada permianan tanda daripada penelusuruan makna, lebih mementingkan diri pada kesan daripada pesan, lebih menunjung tinggi fantasi daripada bukti. Kehidupan yang demikian ini bukan hanya berada dalam satu dimensi kehidupan manusia, tetapi telah menjelajah dan menelusup ke segala ruang dan sisi kehidupan: budaya, politik, ekonomi, sosial dan agama.

Oleh karena itu, prkembangan fenomena dibidang ekonomi, politik, agama, sosial dan sejenisnya tidak sepenuhnya asli dan orisinil, tetapi lebih merupakan konstruk rekayasa citra yang sengaja dihadirkan oleh aktor-aktor yang menguasai ranah tersebut.  Posisi citra yang begitu vitalnya dalam pola kehidupan sekarang ini membuat eksistensi citra nampak lebih penting dari moralitas. Gaya hidup atau citra dalam kehidupan begitu sangat vital dan lebih penting dari moraliotas di saat citra-citra tersebut telah menggeser dan menyingkirkan persoalan baiuk dan buruk. Orang tidak lagi berpikir apa yang baik dan buruk, tetapi apa yang mempesonakan dan yang tidak, apa yang menarim dan tidak menarik, menggairahkan dan yang tidak. Persoalan pesona, menarik, menggairhakan dan sebagainya adalah persoalan citra dan gaya, yang mana semua itu lebih mementimngkan penampakan luar. Lantas citra pun menjadi segala-galanya dan segala-galanya adalah citra . Maka manusia hidup dalam alam ecstasy akan citra. Maka nilai-nilai etika, moralitas, baik dan buruk tidak lagi berlaku dalam ecstasy citra ini.

Kemudian apa sebenarnya yang menjadi media utama dalam konstruksi citra? Tidak lain adalah media. Media sekarang menjadi faktor utama terbentuknya citra. Media massa telah tumbuh menjadi industri yang tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, tetapi menmgikuti standar dan logika yang hidup dalam budaya kapitalisme. Ia tidak hanya memoles produk budaya, tetapi dengan produk budaya itu lantas mengkonstruk selera, cita rasa, dan bawah sadar khalayak masyarakat. Dan sebagai output media yang penting adalah kebudayaan pop.

Sebagai sistem dan instrumen pengkonstruk realitas, media sekarang telah melampoi fungsi wajarnya. Dalam fungsi yang melampoi batas itu, media tidak lagi mencerminkan realitas yang diusungnya melalui beragam informasi yang mereka ekspos, tetapi lebih dari itu juga sebagai pembangun realitas itu sendiri. Inilah yang terjadi pada abad elektronik, di mana alat-alat media elektronik tidak lagi sekedar memotret realitas, tetapi mulai menentukan realitas dan akhirnya menjadi realitas itu sendiri. Realitas yang dikonstruk oleh media ini jelas realitas semu atau citraan. Karena ia hanyalah hasil rekayasa mesin teknologi canggih sehingga obyek yang ia tampilkan bukan lagi sesuatu yang natural melainkan artifisial.

Media sebagai konstruksi realitas tersebut semakin menemukan eksistensinya sering dengan ditemukan cyberspace. Teknologi virtual ini telah melapangkan jalan bagi proses produksi, reproduksi dan dekonstruksi estetis. Proses reproduksi seni yang dimungkinkan lewat kemajuan teknologi reproduksi seperti dikatakan oleh Walter Benyamin, di dalam Art In the age of Mechanical reproduction” beberapa abad lalu, kini telah berkembang ke arah kemungkinan manipulasi dan penggunaaan trik-trik virtual.

Lahirnya dunia maya (Cyber) tersebut semakin meneguhkan eksistensi citra dalam kehidupan kontemporer. Citra semakin mudah untuk diproduksi dan dihadirkan dalam ruang-ruang virtual. Citra-citra yang sejatinya adalah realitas virtual, dalam arti ia bukan mencerminkan realitas sebenarnya, menjadi semakin virtaul karena medium yang dia tempati adalah medium virtual. Dalam bentuk dan pola kehidupan ini, maka dunia benar-benar dibungkus oleh berlapis-lapis kesemuan, kepalsuan dan simulasi dalam representasi citra.

PENGARUHNYA TERHADAP AGAMA

Sekarang, ketika dunia telah berada dalam hiperrealitas, penuh dan diliputi oleh tanda dan citra, penuh dengan kepalsuan, kesemuan dan kedustaan, maka terkait dengan agama, apa pengaruhnya masalah-masalah tersebut dalam ranah agama? singkatnya, bagaimana eksistensi agama sekarang dalam perspektif hipersmiotika?

Agama diyakini sebagai entitas ilahiyah yang mempunyai kebenaran valid. Karena ia mempunyai otoritas kitab suci yang diyakini bersumber dari Tuhan. Namun, permasalahan agama di era postrealitas atau era hiperrealitas ini bukan sesederhana itu. Ia tidak hanya menyangkut persoalan entitas agama secara an sich, tetapi yang lebih penting di sini adalah menyangkut praktik nilai-nilai agama tersebut oleh mayoritas kaum beragama. Persoalan ini semakin meruncing ketika agama, yang menawarkan hal-hal yang jujur, benar dan apa adanya, dipraktikkan dalam modus yang manipulatif, simulatif dan penuh rekayasa. Dalam perspektif hipersmiotika, agama sekarang juga tengah mengalami pendangkalan dan pembelokan. Karena praktik-pratik keagamaan yang ada juga sangat dimotivasi oleh gairah citra, tanda dan gaya hidup yang lebih menampilkan penampakan.

Sebagaimana pendangkalan di ranah lain, di dalam ranah agama praktik agama yang lebih didominasi citra dan gaya hidup tersebut, unsur determinasinya adalah media. Politisasi dan idiologisasi media, manipulasi media dan hiperrealitas yang dihadirkan media dalam ruang keagamaan, menjadikan agama mengalami reduksi dan distorsi. Jelas ini sangat bermasalah. Di antara masalah itu adalah terjadinya disinformasi oleh media informasi, terutama oleh teknologi informasi. Masalah yang paling utama justru terhadap kredibelitas informasi tersebut. Simulakrum informasi yang berlangsung secara terus menerus pada satu titik akan menimbulkan kondisi ketidakpercayaan pada informasi itu sendiri, bahkan pada setiap informasi itu sendiri. Simulakrum menggiring informasi ke arah ketidakpastian dan chaos, yang menimbulkan berbagai persoalan dalam pencarian kebenaran.

Ketika praktik agama sudah dihadirkan secara disinformatif melalui simulasi media, maka imbasnya adalah ketidakpercayaan publik terhadap nilai keagungan dan kevalidan agama tersebut. Agama yang sejatinya berisi kebenaran, oleh simulasi media tersebut akhirnya menjadi barang remeh temeh yang tidak ada harganya sama sekali. Keagungan agama akhirnya menjadi hilang dan pada titik ekstrimnya terjadinya ketidakpercayaan terhadap agama secara massif. Dalam hal ini, akhirnya berkembang asumsi umum  bahwa praktik-praktik keagamaan yang selama ini terjadi hanya sekedar sebagai topeng dan cotra belaka. Ia bukan lagi berorientasi pada spirit kesalehan dan ketaatan pada Tuhan, tetapi justru sebagai media empuk untuk mengelabui dan menipu masyarakat umum. Dengan demikian, agama dalam praktiknya justru bertentangan dengan asal mula lahirnya agama yang sebenarnya. Karena praktik agama dalam bentuk hiperrealitas media, citra, tanda dan gaya hidup tersebut jelas-jelas penuh dengan rekayasa, manipulasi, simulasi realitas.

Agama memang lahan empuk untuk mengkonstruksi citra. Seorang yang sejatinya bajingan bisa tampil lebih alim dan lebih saleh ketimbang kiai, ustad atau gus karena memakai simbol-simbol agama. Seorang koruptor kelas kakap nampak sebagai ulama kondang, karena ketika dalam media ia sangat fasih menyitir ayat-ayat suci al-Qur’an, seorang preman atau provokator nampak seperti nabi atau habib karena ia fasih berbahasa Arab, membawa jubah dan hafal hadits-hadits nabi. Ketika di hadapan media pola dan gaya bicaranya sering mengutip hadits nabi, sering menggunakan bahasa Arab dan ditambah dengan jubah putih yang dikenakan, maka saat itu juga ia nampak seperti ulama saleh. Padahal orang tidak tidak tahu, di belakang ia sering bikin onar, suka anarkhis, suka bermain perempuan, suka minum dan sebagainya. Atau para selebritis yang demi popularitasnya ia suka melakukan umrah atau haji, sehingga seolah-olah ia adalah orang yang relegius, atau para politisi supaya kelihatan religius, merakyat dan baik, ia sengaja makan pecel di kaki lima, berfoto dengan anak-anak jalanan. Padahal pola hidup yang sebenarnya dia lakukan sehari-hari adalah pola hidup yang borjuis, egois dan sekuler. Ini semua adalah cermin pendangkalan dan pendistorsian agama. Agama hanya sebagai alat untuk membangun citra diri, alat untuk mitologisasi diri, alat untuk merekayasa realitas dan sebagainya. Sehingga nyaris agama berfungsi terbalik, yakni sebagai alat untuk dusta. Hal semacam ini terjadi karena spirit zaman (zeitgeist) sekarang ini, lebih mengarahkan kehidupan manusia ke arah permukaan dan konstruksi citra yang lebih mementingkan tanda daripada makna.

Ketika agama sudah menjadi ajang untuk pencitraan diri, sehingga yang berlaku dan berlangsung dalam agama justru hal-hal negatif yang sejatinya sangat dikecam oleh agama sendiri seperti kebohongan, kedustaan dan kepalsuan, maka hancurlah hakekat dan nilai-nilai agama. Nilai-nilai sejati agama seperti etika dan spiritual, menjadi raib karena kalah oleh arogansi citra dan kepalsuan yang mengungkungnya. Aura agama tidak lagi memancarkan keluhuran moralitas, kekritisan akal sehat dan keteduhan air mata spiritualitas, tetapi justru menghadirkan suasana yang memuakkan oleh hal-hal palsu, permukaan dan penipuan.

Ketika agama berada dalam hiperrealitas yang berorientasi pada citra dan simulakra, maka spiritualitas agama luruh menjadi postspiritual, dan moralitas agama menjadi postmoralitas. Post spiritualitas adalah kondisi bercampur aduknya nilai-nilai spiritual dengan nilai-nilai materialisme, bersekutunya yang duniawi dengan yang ilahiyah, bersimpang siurnya yang transenden dengan yang imanen, bertumpangtindihnya hasrat rendah dengan kesucian, sehingga perbedaan di antara keduanya menjadi kabur.

Dalam postspiritual, yang namanya kesucian dan kesakralan itu sendiri hadir dalam bentuknya yang palsu. Ia sebenarnya bukan sesuatu yang suci dan sakral , tetapi ia terkesan dan nampak seolah-olah (as if) sakral dan suci. Kesucian dalam hal ini muncul dalam bentuk psaudo of holliness. Ia hanya terlihat suci dalam tanda-tanda kesucian yang imanen, namun secara maknawi ia sangatlah sekuler. Hal semacam ini jelas merupakan bentuk pendangkalan dan pendistorsian kesucian dalam ruang spiritualitas.

Lebih jauh, spiritualitas yang telah mengalami pendistorsian dan pendangkalan semacam itu, semakin nyata kalau sudah bergelut dengan kepentingan ekonomi dan politik. Seperti sekarang ini, terutama ketika musim Ramadhan tiba, berbagai industri Televisi berlomba-lomba menayangkan sinetron religius. Padahal sebenarnya religiusitas yang ditampilkan dalam sinetron tersebut lebih dimotivasi oleh interes ekonomi. Orientasinya jelas untuk mengeruk laba yang setinggi-tingginya dengan cara mencuri momen Ramadhan. Hal yang diutamakan dalam hal ini bukan  nilai-nilai yang disampaikan, tetapi karena sinetron itu menempati rating tertinggi sehingga mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah. Sehabis tontonan itu usai, maka usailah semuanya. Para produser, aktor dan kru lainnya yang mengusung tontonan itu bukannya tetap memegang nilai-nilai dan pesan moral sinetron yang ditayangkan. Hal ini karena mereka tidak dimotivasi oleh nilai-nilai moral dan spiritual dalam sinetron religius tersebut, tetapi lebih dimotivasi oleh nilai materialnya. Contoh lain adalah istigosah atau dzikir massal yang setiap kali musim pemilu sangat marak. Padahal semua itu dilakukan hanya sekedar untuk kampanye. Jelas nilai yang diutamakan bukanlah kedalaman istigosah dan dzikir tersebut, tetapi nilai politis yang ada di dalamnya. Fenomena-fenomena lainnya pasti masih banyak lagi.

Semua itu menunjukkan bahwa agama hanya digunakan untuk memperkuat citra melalui segudang penampilan dan perekayasaan fisik-materialistik. Agama sebagai konstruksi citra ini akhirnya menjadi ajang untuk konsumerisme. Ia tidak lagi menjadi jalan untuk menemukan kebenaran yang sejati, tetapi hanya untuk tontonan dan daya tarik untuk menjilat selera masyarakat. Dunia konsumerisme adalah dunia yang dibentuk oleh nilai-nilai keterpesonaan (fascination) dan ekstasi. Apa yang diekspos oleh konsumerisme adalah pesona citra dan penampakan (commodity fetisishme), tanpa ambil pusing nilai-nilai transenden yang lebih dalam, khususnya nilai-nilai spiritualitas ketuhanan.

Ritual keagamaan sekarang yang sudah dikuasai oleh nafsu komoditi, ekonomi dan politik, telah menggiring praktik-prkatik ritual ke dalam jurang komoditas (comodifictaion of ritual). Pelatihan sholat khusyuk, umrah, haji, dzikir dan sebagainya sekarang menjadi menu yang menarik untuk ajang komoditas.  Ketika ritual-ritual keagamaan sudah menjadi entitas komoditi maka praktik-prkatik semacam ini akhirnya mengkristal menjadi budaya pop (pop culture), yang di dalamnya berbagai bentuk artifisialitas, permainan bebas bahasa, dan citra dikembangkan sebagai cara dalam menciptakan imajinasi kolektif (collective imagination) dan manipulasi pikiran massa, yang di dalamnya berlangsung komodifikasi kesucian.

Ritual-ritual keagamaan tersebut dipraktikkan bukan untuk didalami nilai-nilai dan maknanya yang terdalam, diambil saripati etis dan spiritualnya, melainkan sekedar untuk konstruksi citra diri di hadapan masyarakat atau paling banter untuk pelarian dari keterasingan eksistensi. Kepentingan untuk menggunakan ritual keagamaan ini sangat ditentukan oleh profesi yang disandang para aktor indifidu. Bagi mereka yang berprofesi sebagai ekonom atau selebritis, mereka mengkonstruk citra melalui ritual-ritual keagamaan tertsebut adalah jelas untuk mempertahankan karir dan untuk memperoleh keuntungan material di dalamnya. Sementara bagi mereka yang berprofesi sebagai politisi, maka tujuan menciptakan citra melalui praktik-praktik ekagamaan itu adalah untuk kepentingan politis misalnya supaya terpilih menjadi anggoa legislatif atau presiden. Bahasa, atribut dan tanda-tanda yang melekat dalam ritual itu difungsikan sebagai alat untuk mengelabui masyarakat.

Fenomena semacam itulah yang oleh Yasraf disebut dengan Hiperitualitas. hiperituliats adalah penciptaan model-model ritual yang tanpa asal usul atau referensi realitas. Dalam kontek ritual keagamaaan, hiperitualitas keagamaan adalah realitas ritual yang tidak lagi mengacu lagi pada realitas dunia nyata atau prinsip asali yabng membangunnya sebagai referensinya, sehingga ia ,emjadi semacam realitas kedua, yang refrensinya adalah dirinya sendiri. Aspek-aspek kegiatan ritual sekakan-akan tampil seperti realitas yang sesungguhnya atau hakiki, padahal ia adalah realitas artifisial (artificial reality), yaitu realitas yang diciptakan sedemikian rupa sehingga pada tingkat tertentu ia tampak (dan dipercaya) sebagai bagian dari hakikat ritual keagamaan itu sendiri.

Efek dari munculnya hiperritualitas ini adalah tereduksinya dan terdistorsinya nilai-nilai ritual keagamaan itu sendiri. Ritual agama hanya eksis pada level permukaaan, penampakan dan formalitasnya saja. Agama dalam  bungkusnya nampak begitu bagus, namun miskin isi, secara permukaan agama begitu ramai, namun secara spiritual nampak sangat sepi, secara retorik agama begitu nampak gaduh, namun secara substansi nampak langka. Agama benar-benar tampil sebagai entitas yang palsu dan penuh fantasi. Ia kelihatannya ada namun sejatinya tidak ada. Agama hanya muncul dalam bentuk identitas-identitas, simbol-simbol dan tanda-tanda, namun makna agama, nilai sejati agama, nilai transformasi agama yang merupakan wujud hakekat agama hilang dari hiruk-pikuk dunia. Semua yang hadir hanya lipstik dan basa-basi belaka.

Maka dengan hadirnya arus budaya citra dalam praktik keagamaan, yang lebih mengedepnkan penampakan daripada kedalaman, tanda daripada makna, kepalsuan daripada kebenaran, rekayasa daripada fakta itulah, maka agama kini tengah mengaalami kematian. Fenomena itu boleh dikatakan postagama, yaitu agama sudah tidak tampil sebagaimana mestinya tetapi sudah tumpang tindih dengan beragam rekayasa, kepalsuan dan kedustaan agama. Nilai-nilai agama tidak lagi menunujuk pada kesalehan dan ketaatan yang lebih transenden, melainkan lebih pada orientasi pelepasan gairah dan hasrat material.

C. KESIMPULAN/PENUTUP

Dalam perspektif hipersmiotika, agama sekarang tengah berada dalam cengkraman dan hegemoni budaya hiper. Dalam budaya yang serba hiper itu yang dipentingkan bukan lagi makna melainkan citra.  Budaya citra ini sekarang tengah mengalir deras masuk ke dalam kanal agama sehingga agama sekarang hanya tampil sebagai ornamen, aksesoris, eksterior dan hiasan luar kehidupan manusia.Dengan demikian agama akhirnya mengalami kematian, dalam arti ia sekarang tengah mengalami pendangkalan, perekayasaan dan penjungkirbalikan nilai-nilai.

Kematian agama itu tercermin dalam tidak kuasanya agama sekarang untuk melakukan transformasi kehidupan masyarakat baik dalam ranah sosial, moral maupun spiritual. Agama yang awalnya mampu merubah dan memperbaiki tatanan masyarakat dalam segala dimensinya, mensucikan jiwa dan memperbaiki moralitas masyarakat, sekarang justru mati suri dan menjadi mumi yang hanya difungsikan sebagai tontonan dan hiasan diri atau citra belaka. Inilah nasib tragis agama di abad citra, khususnya Islam.

DAFTAR PUSTAKA:

-Asy’ari, Hasyim, KH, Irsyadul Mukminiin, PP. Tebu Ireng Jombang, 2007

– Pilliang, Yasraf Amir, Hipersmiotika, Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Jala Sutra Yogyakarta, 2003

___________________,Posrealitas, Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika, Jalasutra, Yogyakarta, 2004

___________________, Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampoi Batas-batas Kebudayaan, Jalasutra, 2004

___________________, Transpolitika, Dinamika Politik Di dalam Era Virtualitas, Jalasutra, 2005

-Ibrahim, Idi Subandy (Ed), Lifestyle Ecstasy, Jalasutra Yogyakarta, 1997

-Hartono, Agustinus, Skizoanalsis, Deleuze +Guattari, Jalasutra Yogyakarta, 2007

-Al-Fayyadl, Muhammad, Derrida, LkiS Yogyakarta, 2005

-Qolyubi, Syihabuddin, Stilistika al-Qur’an,  Titihan ilahi press, Yogyakarta, 1997

-Bunt, Gary R, Lampeter, Islam Virtual, Menjelajah Islam di Jagad Maya,Suluh press, Yogyakarta, 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: