MATINYA NILAI-NILAI MORAL DI TENGAH KUATNYA ARUS GAYA HIDUP

Oleh : Muhammad Muhibbuddin

A. Pendahuluan

Moralitas atau yang dalam bahasa agama (Islam) disebut dengan akhlaq merupakan salah satu unsur kehidupan manusia yang paling pokok. Karena ia mencerminkan karakter alamiah (thabi’iyyat) manusia.  Persoalan moralitas adalah persoalan baik buruk. Persoalan ini sudah lahir sejak manusia ada di muka bumi. Ini adalah sangat berkaitan dengan tindakan praktis manusia-sehari-hari. Persoalan baik buruk bukan sekedar wacana atau pemikiran belaka, melainkan sebuah landasan etis terhadap seluruh prilaku dan perbuatan manusia di muka bumi. Landasan moral atau etis ini merupakan pijakan manusia untuk meraih kebahagiaannya. Artinya tanpa pegangan moral, manusia tidak akan bisa mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Dalam bukunya ethics, Arsitoteles[1] menekankan bahwa tujuab alamiah manusia, yang memenuhi wataknya, adalah kebahagiaan. Kabahagiaan menurut Aristoteles adalah suatu aktifitas jiwa agara sesuai dengan kebijakan yang sempurna. Namun, kata lanjut Aristoeteles, kebahagiaan yang sejati hanya bisa dicapai dengan mengupayakan kehidupan moral dan kebaikan intelektual. Ini artinya bahwa kebahagiaan dengan etika, moral atau akhlaq secara ontologis adalah sama, yakni sama –sama  unsur dasar, karakter alamiah dan potensi ilahiyyah yang melekat dalam diri manusia. Aktualisasi akhlaq atau moral pada dasarnya adalah bersifat alamiah. Ia, secara hakiki, tidak bisa dibohongi, tidak bisa dimanipulasi dan tidak bisa direkayasa. Kalaupun ada orang yang berpura-pura atau mengingkari nilai-nilai etis yang bersifat antural itu dalam dirinya itu, maka saat itu juga hati ya akan gelisah, menyesal dan bahkan frustasi. Karena ketika dia melanggar norma-norma etis alamiah itu, pada dasarnya ia mengingkari eksistensinya sendiri, menerjang dan melanggar hati nuraninya sendiri.

Manusia sebagai mahluk yang di dalam dirinya terdapat potensi-poetnsi alamiah seperti jiwa (nufus) rasio (aql) dan hati (qolb) adalah mahluk yang mampu mengkonstruksi, merefleksikan dan menimbang-nimbang mana yang harus dan patut di lakukan dan mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang layak dan tidak layak dan seterusnya. Oleh karena itu, manusia-manusia yang potensi-potensi kemanusiaannya tersebut mati atau hilang dari kedsadaran dirinya, ia saat itu juga menjadi manusia binatang yang tidak bisa merefleksikan atau mempertimbangkan nilai-nilai moral dalam dirinya.

Dengan mengetahui sangkan paran moral atau etika tersebut, kita tahu bahwa milai-nilai etika atau moral adalah sevbuah keniscayaan hidup. Ia bukan hasil rekayasa sosial. Nilai-nilai yang sudah dipatenkan menjadi norma atau etika sosial adalah pencerminan atau refleksi dari nilai-nilai yang terpendam dalam diri masing-masing indifidu anggota masyarakat. Norma-norma itu bukan diproduksi dari ruang hampa, melainkan benar-benar lahir dari hati nurani dan pertimbangan pemikiran dari ceruk yang paling dalam.

Idealnya apa yang emnajdi keniscayaan ini seharusnya benar-benar dijadikan sebagai prinsip dan pedoman hidup manusia. Karena nilai-nilai etis ini genuine, asli, orisinil karakter alamiah manusia, maka seharusnya ia diajdikan sebagai dasar, pedoman dan  pandangan hidup manusia. Namun anehnya, kiering dengan perubahan era, pergeseran waktu dan transformasi budaya umat manusia, nilai-nilai moralitas tersebut justru secara ramai-ramai dibunuh, dicincang dan dirtinggalkan oleh manusia sendiri. Nilai-nilai moralitas yang asli, natural dan orisinil karakter manusia itu justru diganti dengan gaya hidup (lifes style) yang lebih menawarkan citra, kepalsuan dan kemunafikan. Ini terjadi ketika manusia sudah menjadi pemuja citra daripada makna, formalitas daripada substansialitas, wadak daripada ruh, permukaan daripada kedalaman dan sebagainya.

Tulisan inilah  hendak menjelaskan tentang pergeseran tersebut, yakni matinya nilai-nilai etis-moralis kehidupan yang tergantikan dengan aspek-aspek gaya hidup yang lebih cenderung mebawa pada kedangkalan dan kedustaan. Dengan demikian, tulisan ini bukan untuk mengeskpos secara mendalam dan panjang lebar persoalan epistemology etika, tetapi hanya sebagai refleksi kritis terhadap realitas kehidupan manusia yang sekarang larut dan lebih suka mengejar gaya hidup dan rela melupakan nilai-nilai moral.

B. I. Moralitas dan pengetahuan

Konsep kebaikan dalam dunia filsafat, terutama filsafat era Plato dan Aristoteles sangat disandingkan dengan pemngetahuan. Plato bahkan menyebutkan bahwa yang namanya kebaikan adalah pengetahuan sendiri. Dari sinilah Plato dalam teori politiknya mem”fatwa”kan bahwa orang yang mempunyai pengetahuan harus dikasih ruang untuk berkuasa. Karena orang yang berpengetahuan sudah tentu akan baik. Sebaliknya, orang yang tidak berpengetahuan, tentu saja ia bodoh sehingga tidak mempunyai potensi kebaikan. Orang yang melakukan kejahatan, bagi Plato karena memang ia tidak mempunyai pengetahuan yang memadahi tentang kebaikan. Sehingga hidupnya selalu terjerembab dalam keburukan dan kehinaan.

Begitu juga dengan Arsitoteles. Ia juga mengkaitkan masalah etika atau moralitas dengan pengetahuan. Namun ia berbeda dengan Plato yang cenderung idealis. Dalam hal ini Arsitoteles membedakan pengetahuan manusia menjadi dua, yaitu pengetahuan spekulatif dan pengetahuan praktis[2]. Yang pertama, yang mencakup fisika, metafisika dan matematika, berhubungan dengan hal-hal penting tapi tidak bisa dipraktikkan—hal-hal yang bisa diketahui namun tidak dipengaruhi oleh oleh upaya-upaya manusia. Sementara yang ke dua adalah ilmu-ilmu praktis yang mencakup etika dan politik, berhubungan dengan materi yang mungkin dipengaruhi oleh tindakan-tindakan manusia.

Atas dasar itu, etika bukan sekedar teori melainkan praksis, ia bukan sekedar pengetahuan tetapi pengalaman. Maka orang belajar etika oroientasi terutamanya bukan untuk mengetahui yang baik, tetapi bisa mempraktikkan yang baik. Dan orang yang tahu tentang yang baik tidak serta merta disebut orang yang berteika. Karena orang yang tahu tentang etika, para akademis yang mengajar etika, belum tentu berprilaku baik.

2. Antara yang universal dan yang partikular

Sekarang pertanyaannya bagaimana nilai-nilai etika itu sendiri, apakah dia bersifat universal ataukah partikular. Aristoteles karena meletakkan etika pada kategori ilmu praktis ia menyebutnya etika adalah bersiaft partikular. Karena bagi Arsitoetles, ilmu-ilmu yang tercakup dalam ilmu-ilmu praktis tidak benar-benar universal. Hukum-hukum ini tunduk pada beberapa pengecualian dikarenakan fakta-fakta yang menjadi obyek kajian yang bersifat kontingen.[3]

Dari sini nampaknya ada semacam relatifitas nilai –nilai dalam pandnagan Arsitoteles. Bahwa baik dan buruk boleh jadi merupakan fakta yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi manusia qua indifidu. Karena lebih menitikberatkan pada aspek praktis, maka etika sangat tergantung oleh kondisi manusia yang mempraktikkannya. Sudah barang tentu nilai-nilai etis yang berisifat praktis ini akan berbenturan fakta-fakta empiris yang sangat mempengaruhi pola konstruksinya. Ia bukan sesuatu yang given sebagaimana yang didealkan oleh Plato, melainkan masih sangat relativ, tergantung pada hal-hal spesifik yang mana hal –hal inilah nantinya yang juga berpengaruh pada pembentukan sebuah nilai dikatakan baik atau buruk.

Pendapat Aristoeteles ini, selain bertentangan dengan Plato, juga sangat berlawanan dengan  Kant. Kant tidak sepenuhnya membagi etika ke dalam kategori empiris tetapi juga idealis. Artinya ada nilai-nilai moral yang memang bersifat relativ, tergantung dengan situasi dan kondisi, tetapi juga ada nilai-nilai moral yang mutlak dan bersifat universal. Ia tidak tergantung oleh apapun kecuali kesadaran atas nilai itu sendiri. Menurut Kant, yang bisa disebut baik dalam arti sesungguhnya hanyalah kehendak yang baik. Semua hal lain disebut baik secara terbatas atau denganb syarat.[4] Sekarang, Kant nampak juga menggantungkan teori moralnya ini pada kehendak. Artinya baik dan buruk, bagi Kant sangat dipengaruhi oleh Kehendak manusia. Padahal kehendak sendiri tidak mesti baik. Ada kehendak baik dan kehendak buruk. Kemudian yang menjadimpertanyaan selanjutnya adalah apa dan bagaimana kehendak itu bisa mengarah kepada kebaikan? Jawaban Kant, kehendak menjadi baik, jika bertindak sesuai dengan kewajiban. Kalau perbuatan, dilakukan tidak karena kewajiban, tetapi karena yang lain, perbuatan itu tidak bisa disebut baik, meskipun perbuatan itu nampak begitu luhur dan bernilai tinggi.Dari sinilah Kant, kemudian mengkonstruksi teori moralnya dengan membaginya ke dalam dua kategori: imperial hipotesis dan imperial kategoris. Kewajiban moral mengandung menandung imperatif kategoris, artinya, imperative (perintah) yang mewajibkan begitu saja, tanpa syarat. Sebaliknya, imperative hipotesis selalu diikutsertakan sebuah syarat.[5]

Selain diskurusus moralitas oleh tokoh-tokoh di atas, wacana moral juga hadir dalam teori moralnya filsof Muslim Khwajah Nashir. Nashir lebih condong ke arah universalitas dalam urusan moral. Hal ini sebagai disntingsi terhadap konsep syari’ah. Wacana akhlaq atau moral yang dikembangkan oleh Khwajah Nashir tidak identik dengan syaria’ah Islam. Ini adalah diskursus sui generic dan berada di bawah kendali penuh alam imajinasi moral yang dalam hal ini setiap individu, Muslim atau bukan, dapat mencapai akhlaq yang mulia dan keberadaan sosial[6]. Dari sini Nashir hendak menyatakan bahwa yang namanya baik dan buruk tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat konvensi yang bersifat sosial tetapi berada dalam semesta kemanusiaan yang sifatnya universal. Nilai-nilai etis tidak bisa dibatasi oleh agama, negara, etnis maupun kelompok tertentu, melainkan mengatasi fakta-fakta partikular tersebut.

Dari diskursus moralitas di atas, kita bisa mengetahui bahwa etika atau moraliotas adalah terkait erat dengan kehidupan manusia yang merupakan hasil refelski dan penghayatan manusia terhadap eksistensinya. Jadi ia merupakan unsur yang berfungsi untuk membedakan antara kepalsuan dengan kemunafikan, antara yang kedustaan dengan kebenaran dan lain sebagainya. Nilai-nilai moral itu hendaknya menjadi pedoman hidup dan petunjuk bagi manusia untuk menjalani kehidupannya demi terwujud kebahagiaan yang dicita-citakannya.

3. Hadirnya pemujaan gaya hidup

Secara ideal moralitas atau etika adalah sumber kebahagiaan dan merupakan tangga untuk mencapai kebahagiaan itu. Karena di dalamnya mengandung kejujuran dan kebenaran. Namun di era postmodernisme ini, di mana masyarakat justru cenderung meninggalkan nilai-nilai moral itu. Masyarakat kontemporer sekarang lebih cenderung melupakan nilai-nilai moral.

Fenoemna semacam ini menyeruak ketika gaya hidup menjadi “dewa” dan berhala bagi masyarakat postmodernisme. Inilah yang dipertanyakan oleh Idi Subandy Ibrahim, bahwa sungguhkah penampilan dan gaya hidup lebih penting dari moralitas di saat citra-citra telah menyingkirkan persoalan baik dan buruk dalam permainan rumit gaya-gaya dan penjungkirbalikan makna-makna. Lantas gaya hidup (life style) pun menjadi segala-galanya dan segala-galanya adalah gaya hidup[7].

Hadirnya gaya hidup adalah sebuah konsekuensi dari pesatnya dunia industri terutama dalam industri informasi dan telekomunikasi. Logika yang dipakai di dalamnya adalah logika pasar. Aktor pengendali dan pembentuk fenomena itu adalah para pemodal yang dengan tujuannya untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, maka masyarakat dibentuk dan ditentukan kesadarannya untuk mencintai tontonan dan permainan yang mengasyikkan dan meggairahkan.

Permianan dan tontonan itu sebenarnya adalah ilusi, kebohongan, kedustaan dan ekpalsuan, ettapi itu dibuat seolah-olah ada dan hadir menjadi kenyataan, seolah-olah fantasi dan ilusi itu adalah sebiah realitas, padahal, seperti kata Baudrillard, semua itu tidak lain adalah simulasi yang dihasilkan oleh mesin-mesin tekonologi canggih. Mesin-mesin itu bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga mengkonstruksi citra, selera dan cita rasa masyarakat yang disesuaikan dengan selera kapitalisme dan misi industrialisme. Semua nilai-nilai yangd itawarkan tidak lain adalah usaha komodifikasi yang berfungsi untuk menjilat selera masyarakat supaya ikut larut dan tenggelam dalam grand design komodifikasi tersebut.

Keberhhasilan dunia industri dan kapitalisme dalam mengkonstruk gaya hidup bagi masyarakat semakin menuju titik ekstrim, ketika gaya hidup yang diknstruk menhetuh pada hal-hal sifatnya rekayasa atau fantasi belaka. Sehingga penampakan gaya yang lahir fdari kegilaan manusia mengkonsumsi tidak hanya barang-barang yang “real”, tetapi juga yang “tidak real”ini jalin menjali dalam irama komodifikasi produksi kesan dan citra yang bertumpuk-tumpuk dalam sebuah simulacrum.[8]

Karena yang ditawarkan oleh industri gaya hidup adalah tidak lebih dari citra, kesan dan fantasi belaka, maka sesungguhnya yang banyak dipuja oleh masyarakat adalah kepalsuan, kedustaan dan sesuatu yang permukaan. Yang mereka rayakan hanyalah penampakan luar dan kedangkalan, bukan makna dan realitas yang sebenarnya. Konsekuensinya, rasionalisasi dan komodifikasi kebudayaan sebagai manifestasi dari pencerahan palsu tidak saja menghambat aspirasi dan kreativitas individu, akan tetapi, lebih buruk  lagi menghapus mimpi-mimpi manusia akan kebebasan dan kebahagiaan yang sesungguhnya.[9]

C. Penutup/Kesimpulan

Kalau begitu di mana letak resistensi gaya hidup dengan noilai-nilai moralitas yang menajdi keniscayaan hidup manusia. Jelas pada aspek nilai benardan tidaknya hadirnya fenomena itu. Apa yang disuguhkan dalam dunia gaya hidup adalah kepalsuan, kedustaan, kemunafikan dan pemanipulasian realitas, maka hal ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai etis yang lebih menekankan pada kejujuran, kebenaran dan keadilan.

Karena masyarakat di era postindustri ini lebih memuja gaya hidup yang penuh ilusi dan kebohongan tersebut, maka nilai-nilai moral menjadi tercampakkan dan mati. Yang hadir bukan lagi kebenaran mekalinak kedustaan, bukan lagi kejujuran tetapi kepalsuan, bukan lagi kenyataan tetapi kemunafikan dan seterusnya.

Pola semacam ini bukan hanya berada dalam satu bidang saja, melainkan sudah meramabha ke bidang-bidang lainnya. Pemujaan gaya hidup ini bukan hanya di ranah kebudayaan tertentuy, tetapi sudah mewabah ke bidang politik, sosiual, agama dan bahkan spiritualitas. Para politisi yang ketika hendak mencalonkan diri sebagai wakil rakyat, kita lhat, mereka nampak religius, sopan dan merakyat, tetapi semua itu hanyalah kamuflase. Mereka berlomba-loba menebarkan citra, menbarkan gaya yang sopan dan sebgainya, tetapi semua itu hanya sekedar untuk mengelabui masyarakat banyak. Apa yang mereka tampilkan sepeuhnya bertolak belakang dengan realitas diri yang sebenarnya.

Sebagai masyarakat yang dilanda oleh demam gaya hidup, masyarakat yang hanya terpesona oleh citra, gaya dan kesan luar belaka, maka secara otomatis banyak masyarakat yang memilih mereka sebagai wakil rakyat. Nilai yang dipertimbangkan bukan lagi kualitas moral yang sebenarnya, tetapi karena lebih didorong oleh hal-hal yang kelihatan remeh-temeh. Orang ,memilih wakil rakyat karena wajahnya yang cantik, modis, glamour dan sebagainya. Bukan pada pertimbangan nilai-nilai kejujuran, kerakyatan dan sebagainya. Ketika kehidupan sudah dijajah oleh gaya hidup yang lebih menampilkan otoritas citra, kesan dan hal-hal yang permukaan, maka banyak manusiapun yang terjerumus ke dalam kebohongan dan mimpi yang mereka anggap sebagai kenyataan.

DAFTAR PUSTAKA :

-J. Schmandt, Henry, Filsafat Politik, Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2001

-Bertens, K, Etika, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994

-Nasr, Hossein Nasr dan Leaman, Oliver (ed), Mizan Bandung, 2003

-A. Pilliang, Yasraf, Hipersmiotika, Jalsutra Yogyakarta, 2003

-Ibrahim, Idi Subandi (ed), Jalasutra Yogyakarta, 1997


[1]. Dari sinilah, secara khusus dalam biudang politik,  Aristoteles menyatakan bahwa pelacakan yang sungguh-sungguh terhadap watak manusia merupakan hal pokok dalam teori politiknya. dalam Filsafat Politik, sebab alasannya, jika fungsi utama negarea adalah dalam rangka untuk memabntu warga negarab untuk mencapai kebahagiaan, maka mau tidak mau penting bagi Negara untuk menyadari tujuan ini. Lih. Henry J. Schmandt,  2001. Hlm.90 tentang Aristoteles

[2] Lih. Ibid. Hlm. 87-88 Dalam hal ini ada perbedaan yang mencolohk antara Plato dan Aristoteles. Kalau Plato menyamakan kebaikan dnegan pengetahuan sehingga orang yang berpengetahuan sudah mesti baik, maka lain lagi dengan Aristoteles. Arsitoetels justru menyatakan bahwa  pengetahuan semata tidak bisa menjaminnya untuk mencapai tujuan yang benar. Wawasan rasional semata tidak cukup bagi tindakan yang benar.kekuatan kehendak juga tidak bisa dikesampingkan karena kehendak memiliki kekuatan melakukan perbuatan salah yang berbeda dengan wawasan yang benar. Kebijakan etis merupakan keadaan lebih lanjut dari kehendak dengan apa penalaran praktis mengendalikan keinginan.

[3] Lih. Ibid. Hlm.87-88

[4] Dalam hal ini kesehatan, kekayaan, atau intelegensi, mislanya aadalah baik, jika digunakan dengan baik oleh kehendak manusia, tetapi jika digunakan oleh kehendak manusia yang jahat semua hal itu bisa menjadi jelek sekali. Bahkan keutamaan-keutamaan bisa disalahgunakan oleh kehendak yang jahat.  Lih. K. Bertens, Etika, 1993. Hlm.255.

[5] Lih. Ibid. Hlm. 256

[6] Selanjutnya dengan menyertakan sumber dan tradisi filosofis, mistis, dan sumber Yunani, India dan Persia (non-Islam) ke dalam wacana sinkretis tentang otoritas moral, Khwajah Nashir, sebagai wazir/filsof, secara efektif hendak menghalangi Ulama, sebagai penjaga institusi hokum agama, masuk ke dalam imajinasi moralnya. Lih. Hamid Dabashi tentang Khwajah Nashir dalam Ensiklopedia Tematis Filsafat Islam, 2003 Hlm.824-825. Bab Sentralitas Diskursus Etika.

[7] Lih. Idi Subandy Ibrahim, dalam Life Style Ectasy, 1997. Hlm. xiv

[8] Lih.Ibid. Hlm.xxv

[9] Lih. Yasraf A. Pilliang, dalam Hipersmiotika,2003. Hlm.89

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: