TANTANGAN ISLAMIC STUDIES DI PERGURUAN TINGGI

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

Sebagaimana yang di ekspos oleh harian Republika (Rabu, 6/5/2009) bahwa minat pelajar Muslim untuk melanjutkan studi pada prgram studi (prodi) keislaman di beberapa universitas Islam cenderung menurun. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah fakta sepinya minat para pelajar untuk menekuni kajian –kajian yang masuk kategori Islamic Studies tersebut. Dari tahun ke tahun, meskipun tidak semuanya, jurusan Islamic Studies diberbagai universitas, bahkan di UIN/IAIN terus mengalami penyusutan. Masyarakat nampak sudah begitu jengah dan bahkan malas untuk menyuruh putra-putrinya mempelajari Islam di perguruan tinggi atau universitas, sekalipun itu universitas berlabel Islam semisal UIN atau IAIN. Dari alasan inilah kemudian sekarang Depag menggerujukkan beasiswa khusus program studi keislaman yang miskin peminat tersebut.  Alasannya takut kalau di masa mendatang sarjana agama mengalami kemrosotan.

Sebuah tantangan

Sepinya peminat untuk progran Islamic Studies di perguruan tinggi di atas merupakan tantangan berat. Ini merupakan persoalan riel yang tidak bisa dianggap remeh. Sebab, peserta didik adalah kebutuhan pokok dalam pendidikan. Kalau nantinya program Islamic Studies ini benar-benar sepi, kosong dan tak laku, maka akan ada likuidasi besar-besaran untuk program tersebut. Akankah sebuah institusi keislaman yang dulunya mampu menelurkan para intelektual-intelektual muslim ini akan gulung tikar?

Sebagaimana pesantren, Islamic Studies di perguruan tinggi adalah sebuah lokus untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai dan tradisi keislaman. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, program ini sebenarnya sangat efektif untuk menjadi lokomotif dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman, terutama dalam hal metodologi. Permasalahannya sekarang, bahwa pesantren, Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) dan isntitusi-institusi pendidikan keilsaman lainnya, yang dulunya menjadi basis dan pendukung program ini sekarang sudah tidak bisa diharapkan. Rata-rata para lulusan sekolah tersebut lebih tertarik meneruskan ke perguran tinggi “umum”. Faktornya adalah, di MA, MAK dan lainnya jurusannya banyak didominasi oleh program studi “umum” seperti IPA dan IPS.

Satu-satunya institusi yang masih genuin mengkaji tradisi islam klasik sebenarnya pesantren. Hingga kini, studi-studi keislaman klasik yang meliputi tasawuf, fiqh, tauhid, kalam dan sebagainya, masih dipelajari secara intensif di berbagai pesantren, khususnya pesantren “salaf”.  Idealnya, basis utama Islamic Studies adalah para eksponen pesantren ini. Sebab, sebagaimana yang dikatakan oleh Amin Abdullah (1995) ilmu-ilmu keislaman yang berporos pada piramida kalam, fiqh dan tasawuf dengan berbagai variasi aksentuasi pembidangan yang menjadi ciri khas masing-masing pesantren merupakan wilayah sekaligus media pelestarian dan pengalaman ajaran dan tradisi Islam.

Tetapi bagi kalangan pesantren sendiri, banyak yang masih ragu dengan program Islamic Studies di perguruan tinggi. Hal ini karena orang-orang pesantren lebih cenderung meneguhkan dan menetapkan tradisi daripada mengembangkannya. Dalam istilahnya Nurcholis Madjid, kalangan pesantren berhasil mememelihara tradisi klasik (almuhafaadlah alaa qodiimissholih) tetapi belum mampu mengambil tradisi baru yang lebih baik (wal akhdlu ala jadiidil ashlah).

Pola menetapkan tradisi klasik secara ketat tersebut, sekarang bahkan tidak hanya dilakukan oleh masyarakat pesantren tradisional, tetapi juga orang-orang Islam kota yang dulu dikatakan masyarakat modern. Gerakan puritanisme yang dilakukan oleh kelompok salafi Timur Tengah misalnya, adalah kelompok-kelompok yang dulunya diklaim sebagai kelompok modernisne Islam. Namun sekarang menjadi gerakan neokonservatif. Karena gerakan ini cenderung berusaha membawa Islam ke zaman onta dan terlalu skripturalis.

Golongan konservatif dengan segala varian dan bentuknya tersebut sekarang itulah justru yang anti dengan wacana keislaman yang berkembang di perguruan tinggi Islam semisal di IAIN atau UIN. Dalam pola pengembangan Islamic Studies di lembaga semacam UIN atau IAIN, sudah barang tentu dibutuhkan teori-teori atau epistemologi lain yang lebih segar secara metodologis, semisal sosiologi, filsafat, sastra, antropologi, ekonomi dan sebagainya untuk membandingkan dan mengkritisi bangunan keilmuan klasik supaya bisa lebih up to date.

Tetapi oleh kalangan konservatif maupun neokonservatif usaha itu diklaim sebagai perbuatan bid’ah bahkan murtad karena lebih ke barat-baratan dan tak murni Islam. Dari sini kita tahu bahwa faktor utama lesunya kajian keislaman di perguruan tinggi karena memang pola pikir atau paradigma masyarakat Islam di Indonesia masih dikuasai oleh pola pikir abad pertengahan. Mereka lebih suka berkutat di dalam wacana keislaman yang eksklusif dan dogmatis ketimbangn wacana keislaman yang inklusif, progresif dan lebih menyegarkan.

Di sisi lain, sepinya peminat program Islamic Studies ini juga sangat dipengaruhi oleh ketidakmenentuan para alumninya. Rata-rata para sarjana agama sekarang mempunyai masa depan yang tidak jelas, mereka terkenal banyak yang nganggur. Faktor ini membuat para sarjana agama tidak jelas kiprahnya di masyarakat. Faktor masa depan suram (madesu) yang dialami para sarjana agama inilah, yang membuat para orang tua enggan memasukkan putra-putrinya ke jurusan Islamic Studies.

Jangan asal produksi

Melihat tantangan program Islamic Studies di perguruan tinggi di atas, kalau motivasi atau dorongan Depag memberikan beasiswa untuk program Islamic Studies  lebih dialatarbelakangi oleh menyusutnya kuantitas sarjana agama untuk masa yang akan datang, sepertinya alasan ini terlalu naif. Karena, alasan semacam itu tidak mengarah kepada pada akar masalah. Ini berarti Depag hanya iingin berusaha memproduksi sarjana agama yang sebanyak-banyaknya tanpa mau memikirkan follow upnya. Padahal yang dibutuhkan saat ini adalah keberlanjutan para mahasiswa yang mengambil program itu paska mereka keluar dari kampus. Istilah kasarnya hendak dikemanakan para sarjana agama yang bertebaran di mana-mana itu. Kalau persoalan ini tidak terjawab, maka percuma kita memproduksi sarjana agama. Langkah yang terpenting untuk menjawab tantangan tersebut adalah menciptakan seluas-luasnya ruang ekspresi dan pengabdian mereka sesuai dengan displin keilmuannya.

Selain usaha di atas usaha yang paling fundamental juga masih perlu diusahakan terus-menerus. Usaha itu adalah melakukan penyadaran masyarakat tentang perlunya rekonstruksi dan kontekstualisasi ilmu-ilmu keislaman. Masyarakat muslim perlu melakukan reparadigmatisasi atas sikapnya terhadap keilmuan Islam. Hal ini sebagai upaya untuk mengikis nalar dan budaya dogmatisme dan eklusifisme yang sekarang tengah mewabah di kalangan umat Islam, khususnya muslim yang berjenggot .

* Muhammad Muhibbuddin adalah Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) dan Kontributor forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: