BERKOMPETISI TIDAK SEKEDAR UNTUK MENANG

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*
Tiga pasangan Capres-Cawapres 2009— masing-masing terdiri dari SBY-Boediono, YK-Wiranto dan Megawati-Prabowo— kini sudah diresmikan. Ketiga pasangan tersebut bahkan sudah melakukan periksa kesehatan. Ini berarti bahwa geliat kompetisi antar kandidat di atas mulai menuju pada titik-titik ketegangan. Ketiga pasangan Capres-Cawapres tersebut jelas akan saling terlibat dalam pertarungan merebut pengaruh dan simpati masyarakat.
Konsekuensi Demokrasi
Kompetisi dalam pemilu memang harus dianggap sebagai sebuah keniscayaan. Ini merupakan konsekuensi logis diterapkannya demokrasi liberal. Demokrasi membuka ruang kebebasan bagi para indifidu untuk berperan sebagai kompetitor dalam meraih tujuan melalui mekanisme yang sudah disepakati bersama. Termasuk untuk meraih dukungan masyarakat dalam sebuah pesta demokrasi, semangat kompetisi adalah manifestasi dari demokrasi itu sendiri. Robert Dahl (1971) mensyaratkan paling tidak ada delapan hal cerminan demokrasi, salah satunya adalah hak bagi pemimpin politik untuk berkompetisi mendapatkan dukungan atau memberi dukungan.
Pemilu, sebagai aktualisasi sistem demokrasi, jelas meniscayakan semangat kompetisi. Dalam forum itu, masing-masing pihak yang berkepentingan, secara sportif, bebas bersaing meraih kekuasaan berdasarkan kepercayaan rakyat. Pilihan dalam membangun dan menentukan keputusan politik yang demokratis harus dilalui lewat kompetisi pihak- pihak yang berkepentingan. Sebab, seperti yang dikatakan Schumpeter, demokrasi merupakan suatu sistem untuk mencapai keputusan politik, yakni perseorangan mendapat kekuasaan menentukan melalui perjuangan kompetitif dalam memperoleh suara rakyat.
Inilah aspek keadilan dan kejujuran yang menjadi kelebihan dalam sistem demokrasi. Lewat usaha yang kompetitif, perebutan simpati atau kepercayaan rakyat ditempuh bukan melalui legitimasi atau paksaan dari atas ke bawah, tetapi harus melalui persaingan bebas dan egaliter. Dengan pola semacam ini, masing-masing pihak yang berkepentingan mempunyai kesempatan dan posisi yang sama untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat. Atas dasar ini kompetisi meniscayakan adanya profesionalitas dan integritas dari para kompetitor politik Para pihak yang masuk dalam persaingan dituntut mempunyai kapabelitas dan kredibelitas yang tinggi untuk meraih kepercayaan publik. Secara implisit sistem kompetisi ini menolak sistem monarki dan diktator yang cenderung nepotis dan otoriter.
Tidak sekedar menang
Namun persoalannya, ketika berbicara kompetisi, pada umumnya kita mengidentikkannya dengan prinsip menang-kalah. Keinginan untuk menang seolah menjadi tujuan tertinggi dari sebuah kompetisi.Padahal tidak sepenuhnya begitu. Ada yang lebih luhur dalam sebuah kompetisi dari sekedar untuk menang. Tujuan yang bernilai lebih tinggi tersebut adalah hal-hal yang berkaitan dengan kemaslahatan orang banyak. Dalam hal ini mengikuti kompetisi bukan semata untuk meraih kemenangan, tetapi lebih dari itu adalah untuk menciptakan kemaslahatan bagi kehidupan masyarakat dan bangsa secara umum.Dengan alasan inilah kemudian dibutuhkan yang namanya kearifan dan ketulusan dalam berkompetisi supaya kompetesi bisa berjalan elegan.
Dengan prinsip semacam itu, maka masing-masing pemimpin politik yang ikut berlaga dalam Pilpres 2009 ini harus mempunyai komitmen untuk tidak sekedar berorientasi pada usaha menaklukkan lawan atau meraih kemenangan dalam perebutan kekuasaan, tetapi lebih dari itu harus mempunyai agenda kerja dan visi- misi kebangsaan dan kerakyatan yang jelas untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Ini menegaskan bahwa kemenangan Pilpres bukanlah tujuan utama (the main goal), tetapi hanya sebagai langkah awal untuk memperbaiki dan mengangkat kehidupan masyarakat. Kemenangan yang diraih melalui kompetisi itu, harus dijadikan sebagai kesempatan emas untuk melakukan pengabdian yang sebesar-besarnya terhadap masyarakat.
Hingga kini berbagai ketimpangan dan ketidakmerataan pembangunan masih merajalela di mana-mana. Kemajuan ekonomi hanya terbatas pada data-data fiktif, sementara pada fakta empiriknya masih banyak dijumpai masyarakat yang hidup dalam kungkungan kemiskinan, ditambah dengan korban Lapindo yang terkatung-katung, pengangguran yang masih membludak, pendidikan yang tak kunjung murah dan seabrek persoalan besar lainnya. Ini semua harus menjadi agenda kerja utama dari para Capres-Cawapres ketika di antara mereka ada yang muncul sebagai pemenang dalam Pilpres ini.
Tujuan utama memilih pemimpin bukanlah untuk memilih para “jawara-jawara” palsu. Yang termasuk kategori ini adalah para kandidat yang berhasil memenangkan kompetesi, namun kesempatan itu justru digunakan untuk memperkaya diri. Kekuasaan yang berhasil diraihnya tidak digunakan sebagai medium untuk memperjuangkan hak-hak kehidupan rakyat, tetapi justru digunakan untuk menyeleweng. Hal ini terjadi ketika para pemimpin itu sudah bersikap egois dan tidak amanah dalam menjalankan kekuasaan yang diraihnya. Mental busuk para pemimpin semacam inilah yang membuat rakyat terus-menerus dilanda penderitaan sehingga mereka mengalami kejengahan dan frustasi terhadap persoalan politik. Maraknya Golput pada pemilu kali ini adalah wujud dari ketidakberdayaan rakyat ketika melihat para pemimpinnya berada dalam kehidupan yang serba mewah tanpa mau peduli dengan kondisi rakyatnya yang dikungkung oleh beragam kesulitan.
Prinsip lainnya yang tak kalah pentingnya adalah tumbuhnya kedewasaan politik. Selama ini setiap kali pemilu, kita selalu diwarnai oleh beragam konflik, permusuhan dan kebencian. Konflik semacam ini tak jarang memakan korban. Kompetisi yang tidak disertai dengan kedewasaan akan terus melahirkan konflik horisontal yang berkepanjangan. Dalam pilpres kali ini harus bisa muncul nuansa baru, yaitu semakin tumbuhnya kedewsaan kita dalam mengikuti pesta demokrasi tersebut. Pilpres kali ini bisa jadi semakin panas dari pemilu legislatif kemarin. Kompetisi yang berlangsung di dalamnya tidak menutup kemungkinan akan berjalan semakin keras. Kalau kompetisi itu hanya sekedar memburu menang, tanpa ada usaha untuk melatih diri menjadi dewasa dengan mulai menanamkan diri sikap arif, bijaksana dan legowo, maka yang akan terjadi adalah perang saudara. Ini jelas sangat tidak menguntungkan dan merupakan sebuah degradasi demokrasi.
Ketiga pasangan Capres-Cawapres sekarang ini perlu berkomitmen bahwa Pilpres 2009 ini harus membawa masyarakat ke arah perubahan yang lebih baik., bukan sekedar untuk menghasilkan pemenang. Menang –kalah di sini bukan diukur dari keberhasilan seorang pemimpin dalam menaklukkan lawan politiknya, tetapi lebih pada keberhasilannya dalam “menaklukkan” berbagai persoalan yang mengungkung kehidupan masyarakat dan bangsanya. Ingat! Pilpres sejatinya bukan sekedar arena pertarungan untuk memperebutkan kekuasaan, melainkan sarana untuk menggapai kehidupan bersama yang lebih baik.
*Muhammad Muhibbuddin adalah Direktur Lembaga kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) dan koordinator studi filsafat “Linkaran ‘06” Fak.Ushuluddin UIN Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: