AMBALAT DAN HARGA DIRI BANGSA

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

Hubungan bilateral RI-Malaysia kini terusik lagi. Lagi-lagi pemicunya adalah soal teritorial. Sebelumnya hubungan RI-Malaysia sempat tidak harmonis karena persoalan Sipadan dan Ligitan. Dalam pertentangan itu, Malaysia akhirnya berhasil memiliki dua pulau itu. Sekarang paska Sipadan dan Ligitan, Ambalat mulai diobok-obok lagi oleh Malaysia. Kapal-kapal Malaysia, tanpa “permisi” terlebih dahulu, dengan seenaknya memasuki kawasan perairan Ambalat yang merupakan bagian dari teritori Indonesia.

Semakin berani

Secara tidak langsung, kasus Ambalat ini menyangkut persoalan harga diri bangsa. Runtuhnya martabat Indonesia di mata internasional, khususnya di bidang ekonomi dan pertahanan nasional, membuat negara-negara asing, termasuk Malaysia, semakin berani dengan Indonesia. Meskipun sebelumnya Malaysia telah banyak berguru dengan Indonesia, kini dengan segala kemajuan dan prestasi pembangunan yang diraihnya,  Malaysia bukan hanya lupa tetapi juga menyombongkan diri di hadapan Indonesia. Padahal kalau dibandingkan dengan Indonesia, baik dari kebesaran wilayahnya maupun jumlah penduduknya, Indonesia jauh lebih unggul dari Malaysia. Namun karena dalam soal kemakmurannya (welfare state) Malaysia lebih maju dari Indonesia, kini mereka berani membusungklan dada di hadapan Indonesia. Apalagi kenyataannya banyak warga Indonesia yang mengais rezeki di negeri Jiran itu. Hal ini semakin membuat Malaysia merasa lebih berjasa dan lebih superior dari Indonesia.

Persoalan Ambalat ini sebenarnya sudah mencuat pada 2005. Karena waktu itu telah terjadi “serempetan”kedua kapal perang RI VS Malaysia di perairan Ambalat. Peristiwa ini juga dipicu oleh beberapa kapal Malaysia yang secara illegal memasuki kawasan perairan Ambalat. Untungnya, waktu itu kapal Indonesia KRI Kedung Naga mampu menghalau kapal Malaysia KD Keroncong.

Tak lama kemudian diadakan perundingan atas konflik tersebut. Saat perundingan mengenai masalah ini, Malaysia sendiri mengakui bahwa posisi Indonesia dalam masalah Ambalat lebih kuat daripada Malaysia. Menhan Juwono Sudahrsono waktu itu mengatakan bahwa dalam perundingan pihak Malaysia sudah menyatakan bahwa posisi Indonesia lebih kuta dari Malaysia dalam kasus Ambalat yang disengketakan oleh kedua negara itu.

Lagi pula secara Yuridis formal, kekuatan posisi Indonesia atas Ambalat ini juga didukung oleh hukum internasional. Pakar hukum internasional, Prof. Dimyathi Hartono (2008),  menyatakan bahwa blok Ambalat dan Ambalat Timur yang diklaim Malaysia merupakan kelanjutan alamiah dari daratan Kalimantan Timur. Antara Sabah Malaysia dengan kedua blok tersebut terdapat laut dalam yang tak mungkin bisa dikatakan bahwa kedua blok itu kelanjutan alamiah Sabah. Sedangkan kelanjutan alamiah dari daratan merupakan kewenangan negara atas wilayah laut yang tercantum dalam Konvensi Hukum Laut Internasional tahun 1982. Bahkan Indonesia sendiri  sudah seringkali menawarkan kepada Malaysia untuk merundingkan batas landas kontinen antar kedua negara. Tawaran Indonesia tersebut diajukan karena Malaysia telah membuat peta sepihak yang dibuat tahun 1979, yang jelas-jelas menyalahi hukum internasional.

Namun Malaysia nampaknya tidak menggubris aturan itu dan sekarang mereka menunjukkan keberaniannya dengan kembali memasuki Ambalat secara sembarangan.  Malaysia juga tidak pernah menanggapi tawaran perundingan atas batas wilayah secara serius. Tidak menutup kemungkinan tidak responsifnya Malaysia terhadap tawaran Indonesia adalah dalam rangka mencari momen yang tepat untuk mengajukan klaim atas Ambalat, setelah pulau Sipadan dan Ligitan ‘direbut’. Kemenangannya atas Sipadan dan Ligitan, seolah membuat Malaysia ketagihan dan terkesan rakus untuk berusaha mencaplok satu persatu wilayah Indonesia.

Dalam persoalan politik, hukum (law) memang sering kali kalah dengan kekuasaan (power). Keberanian dan kebengalan Malaysia ini sebenarnya lebih ditopang oleh kekuatan politik nasionalnya. Ekonomi dan pertahanan nasional Malaysia jauh lebih kuat dari Indonesia. Faktor inilah yang membuat Malaysia berani dan suka membuat ulah yang menjengkelkan terhadap Indonesia. Malaysia merasa tidak terikat dengan konvensi  hukum perbatasan antara kedua negara yang sudah disepakati. Mereka lebih suka menggunakan pendekatan kekuasaan (power approach) dalam menyikapi persoalan perbatasan tersebut.

Sikap Malaysia yang semakin berani terhadap Indonesia tersebut persis seperti negara –negara imperialis. Dalam menyikapi segala persoalan yang digunakan bukan lagi hukum, norma atau etika, melainkan kekuatan dan kekuasaan. Kekuasaan dan kekuatan yang mereka miliki, menjadi semangat mereka untuk bersikap arogan dan sewenang-wenang terhadap negara lain yang lebih lemah. Sikap mereka yang arogan dan tidak mau bersedia menghormati eksistensi negara lain ini akan semakin memuncak menjadi sebuah penjajahan, manakala mereka selalu memenangkan segala ambisinya. Kasus Ambalat ini nampak lebih berorientasi pada keinginan Malaysia untuk melakukan imperialisme terhadap Indonesia. Sikap Malaysia yang semakin berani itu bukan lagi membuat diri mereka tidak mau menghormati kedaulatan negara tetangga, tetapi sudah berusaha menaklukkannya.

Harga diri bangsa

Bagaimanapun juga kasus Ambalat ini akan menjadi pertaruhan atas bangsa Indonesia untuk mempertahankan harga dirinya di mata internasional. Wilayah atau teritori adalah unsur pokok terbentuknya sebuah negara. Ibarat sebuah tubuh, wilayah adalah bagian vital dan paling fundamental dalam susunan sebuah negara-bangsa (nation state). Kalau sebuah wilayah sudah dirampas atau hilang dipotong oleh pihak lain, itu sama halnya sebuah tubuh yang kehilangan sebagian dari unsur pokoknya. Tentu saja hal ini akan membuat sebuah negara tidak lagi utuh dan sempurna. Karena bagian anggota tubuhnya sudah dihilangkan. Hilangnya bagian fisik negara Indonesia jelas akan merontokkan harga diri bangsa. Pertanda bahwa bangsa ini adalah bangsa yang lemah (underdog)

Upaya untuk mempertahankan wilayah Ambalat ini adalah untuk mempertahankan harga diri bangsa. Ketika Indonesia berhasil mempertahankan seluruh wilayahnya (territorial authority), termasuk Ambalat ini, hal ini akan menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang benar-benar berdaulat dan tidak mudah diinjak-injak oleh negara lain. Dengan asumsi semacam ini harga diri diri Indonesia sebagai bangsa bisa terangkat. Namun kalau Ambalat ini sampai lepas, hal ini menunjukkan bahwa sebagai bangsa kita memang mudah untuk ditaklukkan dan dikalahkan. Dan inilah pertanda kalau kita tidak mempunyai harga diri di hadapan negara-negara lain.

*Muhammad Muhibbuddin adalah koordinator studi filsafat “Linkaran ‘06” Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Direktur Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: