KIAI, ISLAM DAN BUDAYA

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

Sabtu (30/5/2009) kemarin kiai sekaligus budayawan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dianugerahi Doktor Honoris Causa (Dr. HC) oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam bidang kebudayaan Islam. Seperti yang dikatan oleh rektor UIN Sunan kalijaga sendiri, Prof. Dr. Amin Abdullah, bahwa Gus Mus dianggap pantas menerima penghargaan itu karena kiprahnya selama ini yang konsisten dalam mengembangkan budaya Islam. Dalam kontek Indonesia sekarang ini, lanjut Amin Abdullah, kita telah surplus para political dan economical builder, tetapi dalam hal cultural and educational builder, Indonesia masih sangat minim.

Satu hal yang menarik di sini adalah karena Gus Mus sendiri adalah seorang kiai. Keistimewaan Gus Mus dalam hal ini tentu bukan semata karena dianugerahinya gelar Dr. HC tersbut, tetapi lebih pada konsistensinya sebagai pembangun kebudayaan (cultural builder). Tentu saja ini merupakan peristiwa yang langka untuk era sekarang. Sebab mayoritas kiai “modern” sekarang ini nampak lebih banyak yang menjadi broker politik, daripada broker budaya.

Kiai dan budaya

Sebenarnya bukan hal aneh kalau kiai, di samping ahli dalam urusan keislaman, juga pakar kebudayaan. Clifort Geertz, seorang antroplog Amerika, bahkan menyebut kiai sebagai pialang budaya (cultural broker). Sebab para kiai memang dikenal sebagai orang yang piwai dalam mengartikulasikan unsur-unsur budaya (adab) dan tradisi (tsurats) di masyarakat. Semua persoalan budaya dan tradisi, para kiailah yang mampu memaknai dan mengenalkan pada masyarakat.

Laku kebudayaan semacam ini sejak awal, telah dilakukan oleh para tokoh-tokoh Islam, khususnya para wali songo, untuk menyebarkan Islam di bumi Nusantara. Unsur-unsur budaya yang ada di masyarakat itu, oleh para kiai bukan dijadikan sebagai kendala atau penghalang yang harus digusur dari masyarakat, tetapi justru dijadikan sebagai pintu masuk atau jkembatan emas untuk menghenalkan islam ke tengah masyarakat  Nusantara. Para kiai ternyata begitu piwai dalam mendialogkan dan mensiketiskan antara nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai budaya lokal –partikular setempat dalam rangka dakwah.

Seperti yang diceritakan oleh KH. Saefuddin Zuhri dalam Guruku orang-orang pesantren (1974),  seorang kiai yang senang wayang kulit pernah menceritakan bahwa beliau sangat mengagumi cara Wali Songo menggubah wayang kulit untuk media dakwah. Misalmnya tentang ‘Pendowo Limo’, urutan mereka adalah : Yudhistiro, Werkudoro, Arjuno, Nakulo dan Sadewo. Yudhistiro adalah lambang Syahadat. Senjatanya adalah jimat kalimosodo. Wataknya jujur dalam segala ucapan dan perbuatan. Werkudoro adalah lambang shalat lima waktu, senjatanya adalah Ponconeko. Wataknya adalah tak membeda-bedakan orang. Arjuno adalah adalah lambang zakat. Wataknya adalah lemah lemburt dan menyenangkan. Nakulo dan Sadewo adalah saudara kembar, yang merupakan lambang Puasa dan haji. Kedua tokoh itu tidak sembarang muncul dalam lakon pewayangan, sebagaimana puasa dan haji hanya dikerjakan setahun sekali.

Pola-pola semacam ini ternyata sangat efektif bagi para ulama dalam menyebarkan Islam di masyarakat. Dengan perantara budaya itu, para ulama mampu melakukan penetrasi secara damai (penetration pacifique) atas nilai-nilai Islam terhadap masyarakat. Masyarakat pun akhirnya bisa lebih mudah mencerna dan menerima ajaran-ajaran Islam yang disebarkan oleh para ulama tersebut. Dengan pola-pola pendekatan budaya semacam ini juga, Islam yang ada di Indonesia mempunyai style dan corak tersendiri dari varian Islam yang ada di dunia. Secara sosiologis-antropologis, Islam di Indoensia bisa lebih membumi dan tampil dalam bingkai kebudayaan Indoensia dan bukan dengan kultur Arab. Hal ini seperti yang ditegaskan oleh Nurkholis Madjid (1998) bahwa meskipun merupakan salah satu bangsa Muslim terbesar di dunia, Indonesia adalah bangsa yang paling sedikit mengalami Arabisasi di banding negeri-negeri Muslim besar lainnya—selain juga yang paling jauh letak geografisnya dari tanah suci Makkah dan Madinah. Itulah sebabnya, misalnya, dua ciri paling utama kesenian Islam, arabesk dan kaligrafi, hampir sepenuhnya tidak dikenal dalam arsitektur Islam Indonesia kecuali baru-baru ini saja.

Minimnya Arabisasi dalam seni arsitrektur tersebut secara gambalang nampak dalam gaya arsitektur masjid di Indonesia. Ciri khas masjid di Indonesia khususnya di Jawa adalah adanya beranda di depan masjid. Adanya beranda di depan masjid itu merupakan simbol perpaduan dengan agama Hindu-Budha yang pada waktu itu menjadi bagian dari budaya masyarakat Nusantara. Untuk sekarang, masjid-masjid semacam itu masih banyak di pedesaan. Pola sinkretisme budaya semacam itu juga terjadi di ranah kehidupan religiusitas lainnya.

Mengalami degradasi

Melihat kecenderungan sepak terjang para kiai sekarang ini yang mulai bergeser ke ranah politik praktis menunjukkan adanya degradasi kesadaran para tokoh Islam terhadap nilai—nilai budaya. Banyaknya kiai sekarang ini yang terjun ke dunia politik, menjadikan ranah kebudayaan kehilangan salah satu unsur penjaganya. Hengkangnya para kiai dari ranah kebudayaan secara langsung juga turut menjadi penyebab mandeknya perkembangan kebudayaan dalam Islam. Unsur-unsur kebudayaan dalam Islam yang kaya itu, sekarang tidak ada ada lagi yang bisa menggalinya dan menjadikannya elan viatal dalam kehidupan masyarakat.

Di samping adanya pergeseran dan perubahan sepak terjang kiai, aspek lainnya yang menjadikan tergerusnya dan tergradasinya budaya dalam masyarakat Islam adalah karena kuatnya dominasi aspek praktis dalam dunia pesantren. Seperti yang dikatakan oleh Gus Dur bahwa tata nilai dalam lingkungan pesantren bergeser dan lebih ditekankan pada pembentukan nilai-nilai praktis, sehingga kehilangan nilai-nilai spekulatif. Dalam hal ini, orientasi sarwo fiqh atau legal –formalistik lebih diutamakan. “Rezim” fiqh ini sering kali dijadikan sebagai alat kontrol atau bahkan judgemen terhadap karya-karya seni dan budaya sehingga tak jarang justru membungkam dan mereduksi kreatifitas para budayawan dan seniman. Terjadinya gradasi budaya dalam masyarakat islam ini jelas kerugian besar bagi umat Islam sendiri. Umat Islam akhirnya terjerumus ke dalam kejumudan.

Mudah-mudahan dianugerahinya Dr. Honoris Causa dalam bidang kebudayaan Islam kepada Gus Mus tersebut mampu menjadi inspirasi para kiai untuk kembali menjadi penjaga gawang kebudayaan garda depan.

*Muhammad Muhibbuddin adalah koordinator studi filsafat “Linkaran ‘06” Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga dan Direktur Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: